#Dating101 : Confession of a ‘Female Player’

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Istilah seperti Players, Womanizer atau Don Juan dan Casanova tampaknya identik dengan kaum pria. Kali ini kita akan mencoba berpikir sebaliknya, wanita pun juga bisa menjadi seorang ‘player’ dan kebanyakan melakukannya bahkan – lebih baik daripada pria.

Player wanita? They think more like a man but do it better.
Sore itu saya mendapat beberapa request dari email, tentang pembahasan ciri-ciri wanita player,  pertanyaan bukan saja datang dari kaum pria, namun wanita. Mungkin ini didasari keinginan untuk ‘agar jangan sampai terjebak dan galau gara-gara dating dengan wanita player’ (untuk kaum pria) dan ‘bagaimana cara untuk jadi player yang elegan’ (untuk kaum wanitanya).

Berdasarkan wawancara saya dengan beberapa wanita yang saya anggap ‘player sejati’ ; berikut adalah ciri-ciri wanita player yang dijamin akan membuatmu berkata ‘ohh begitu….’ ;

Female player fact #1: Kami menarik, misteriously sexy dan pintar
Catat! Wanita yang player tidak harus berfisik ideal seperti top model, namun menarik dan cukup merawat dirinya dari ujung rambut ke ujung kaki. Kami tidak  sengaja mencari perhatian di tempat umum dan kami pintar mengolah bahan pembicaraan untuk membangun suasana (ini bisa dimungkinkan karena kami memiliki otak yang lumayan encer dan selalu di-update).

Female player fact #2 : Kami tidak pernah ‘Kiss and Tell’
Mengenai siapa teman dating kami, kami tidak pernah ‘ember’ bercerita soal ‘ngapain saja, kemana saja, blablabla…’, tidak. Kami menyimpan rahasia itu baik-baik. Hanya Tuhan, dia dan kami yang tahu apa yang terjadi. Kami mempunyai integritas tinggi untuk soal kerahasiaan sebuah hubungan.

Female player fact #3 : Kami berasal dari SES B+-A +( kami tidak kesulitan ekonomi)
Betul sekali pemirsa. Kami sangat mandiri dalam hal finansial. Biasanya kami adalah wanita top executive yang tidak membutuhkan bantuan finansial dari pria untuk bisa hidup dengan nyaman. Catat! Seorang female player memiliki ‘degree of sophistication’ yang berbeda dari sekedar wanita simpanan atau wanita (maaf) peliharaan. Pernah suatu kali seorang teman menuliskan status di bbm-nya ‘pingin tas ini, pingin hp ini, pingin ipad, dll’ dengan maksud akan dibelikan oleh teman datingnya (ya, saya pun berpikir dia sudah gila-red). Maaf, seorang wanita player sejati tidak perlu meminta (dengan cara yang demikian pula) untuk mendapatkan yang dia mau. Kami bisa membelinya sendiri. Kalau pria tersebut memberikan hadiah kepada kami, anggap saja itu bonus, karena motif utama kami bukan mencari uang. Kami tidak akan meminta, apalagi merengek dan memaksa. Oh-Please-deh.

Female player fact #4 : Kami elegan dan pandai membawa diri
Para pria akan bangga terlihat bersama kami, karena kami menarik, dan pastinya para pria akan menoleh ke kami ketika kamu terlihat bersama kami. Para wanita (dalam lubuk hatinya saya yakin banget-red) pasti ingin menjadi kami. Anda tidak akan menemukan kami naik ke meja bar atau mabuk hingga lupa diri. Sebaliknya, kami memiliki kontrol terhadap diri sendiri dengan baik. Kami tahu cara have fun yang elegan.

Female player fact #5 : Bagi kami, social media bukan segalanya
Tidak semua makan malam dengan seseorang yang terkenal harus di-tweet. Tidak semua yang dikatakan seseorang yang top harus kami tulis di status facebook. Bahkan biasanya, kami tidak pernah menulis apa status kami di facebook (mau single atau in  a relationship, dll, itu bukan kami). Social media penting bagi kami, namun privacy tetap lebih penting. Segala sesuatu yang diumbar akan menjadi ‘twittertainment’ nantinya, dan itu yang kami hindari.

Female player fact #6 : Kami tidak mengenal kata ‘paranoid’, ‘insecure’ apalagi ‘posesif’ dalam sebuah relationship
Jika kaum pria tidak menelepon kami, kami tidak lantas menjadi paranoid dan berkata ‘wah pasti dia sedang bersama wanita lain, atau sesuatu terjadi dengan dia, blablabla…’, kami cukup mengerti sinyal ini dan lantas move- on ke target berikutnya. Kami tidak akan insecure karena kami mengerti kalau kami sudah feel good about ourselves dan juga tidak akan posesif pada teman dating kami – kenapa? Karena pacar yang posesif sangat lah mengganggu, jadi bayangkan saja kalau belum pacaran saja sudah posesif….

Female player fact #7 : We always keep it casual
Tidak ada yang resmi dari sebuah hubungan dengan kami. Istilahnya, casual saja. Kami tidak terbelenggu jam biologis yang mengharuskan seorang wanita harus cepat menikah, punya anak, dll. Sebaliknya,  kami menganggap hidup adalah sebuah proses dan bukan tujuan. Bukan takut komitmen, tapi lebih kepada….umm… window shopping, ya sebelum menemukan satu yang benar-benar cocok.

Female player fact #8 : Kami sangat independen
Sebagai wanita kami butuh dimanja, namun tidak keterlaluan. Kami bisa mengurus diri kami sendiri, kami bisa menaklukkan jalanan kota Jakarta seperti halnya pria. Kalian tidak perlu khawatir, karena kami tidak manja dan hobi menyusahkan orang lain.

Female player fact #9 : Kami sadar fashion
Kami fashionable. Kami fashionista sejati. Catat! Kami tidak berdandan untuk menyenangkan kaum pria, apalagi untuk bersaing dengan kaum wanita. Kami berdandan untuk diri kami sendiri, karena apabila kita tampil dengan baik, kepercayaan diri akan terpancar dari situ.

Female player fact #10 : Kami (justru) akan kenalkan kamu pada teman kami atau bahkan orangtua kami

Kebanyakan pria berpikir, kalau saya belum dikenalkan pada orangtuanya dan teman-temannya berarti hubungan tersebut tidak serius. Ya itu sih pemikiran jaman dulu banget deh. Kami akan tetap mengenalkan kalian ke orangtua atau teman kami, tapi sebagai teman. Ya, teman, karena semuanya kami anggap ‘casual’ saja.

Female player fact #11 : Kami tidak selalu available
Bohong banget kalau kami bisa punya waktu dari Senin sampai Minggu untuk satu pria. Kami sangat pandai manajemen waktu, tapi kami sadar, semakin kami sibuk semakin kaum pria akan penasaran. Oleh karena waktu untuk bersama kami sangat terbatas (kami tidak selalu available), justru akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam. Sesuatu yang limited akan lebih dihargai, bukan begitu?

Female player fact #12: Kami tidak akan membuat kamu cemburu, hanya penasaran
Kami tidak suka berlebih-lebihan dalam bercerita, kami tidak ingin membuat anda cemburu, sebaliknya kami sangat pandai menjaga perasaan anda. Akibatnya anda akan merasa nyaman bersama kami dan lantas menjadi penasaran, apa yang sedang kami lakukan, sama siapa, dimana saat kami tidak ada. Mind games – sesuatu yang sangat kami kuasai.

Female player fact #13: Rules are made to be broken
Jangan coba-coba mengekang kebebasan kami atau bahkan menetapkan aturan keras kepada kami. Pada dasarnya player wanita dan pria sama saja. Kami menjadi player karena tidak ingin terkekang pada satu orang – entah takut komitmen atau belum ingin, atau belum menemukan orang yang tepat.

Female player fact #14 : Kami tidak ingin menyakiti hati siapapun
Hati adalah bagian yang paling sensitif dalam sebuah relationship. Oleh karena itu player sejati hendaknya tidak pernah ingin menyakiti hati orang yang menyayanginya. Maka itu kami memilih tidak memberi status pada sebuah relationship. Karena status adalah komitmen dan bicara soal komitmen, silahkan lihat point no #13 kembali ya.

Perlu diingat bahwa yang memberi status kepada seseorang (sebagai pacar) dan akhirnya menduakannya bukanlah seorang player sejati, orang tersebut adalah murni hobi selingkuh saja.

Female player fact #15 : Selain pandai manajemen waktu, kami juga pandai manajemen perasaan
Perasaan siapa? Perasaan orang yang menjadi date kami dong. Kami tidak akan mengindahkan tlp / sms masuk saat bersama date kami. Kami bisa membuat pria tersebut merasa satu-satunya yang paling diprioritaskan (baca: diprioritaskan ya, bukan dicintai-red). Bukankah menjadi yang pertama dalam segala hal itu menyenangkan?

Female player fact #16 : Sesungguhnya kami tidak takut komitmen
Cuma saja kami belum menemukan yang pas untuk diajak berkomitmen….

Sedikit misteri dalam sebuah relationship akan membuatnya semakin menarik. “Dont hate the player, hate the game.” Pada dasarnya ketika kamu sudah memasuki ranah ‘dating’ kamu harus bersiap untuk segala kemungkinan – termasuk rejection dari para players (mau wanita maupun pria).

Tidak perlu menjadi player sejati untuk menikmati kehidupan dating, cukup percaya diri (confidence) dalam level yang medium. Just be yourself and have no expectation, maka dating life pasti lebih menyenangkan - baik dijalani bersama player maupun bukan, hehehe……



Good luck in love and life!
Your friend;
@CiscaDV

Foto : Koleksi Jason Brooks.

Dating 101 : I Want a Happy Divorce!

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Judul tulisan diatas adalah persis sama dengan judul email yang dikirimkan oleh seorang kawan pada (soon-to-be-ex) suaminya. Ketika tidak ada lagi kalimat yang bisa dipikirkan, apa yang lebih baik daripada langsung ke topiknya, am I right or am I right?! #maksa


When one door of happiness closes, another opens;
but often we look so long at the closed door
that we do not see the one which has been opened for us.”
Helen Keller

Sudah genap setahun, sebut saja namanya Nadya tinggal berpisah dengan suaminya. Awalnya hanya untuk menguji ‘apakah saya bisa make it without you’, ataukah ternyata saya tidak bisa kalau hidup tanpa dirimu’, sekaligus menenangkan diri setelah kehidupan pernikahan Nadya tidak berjalan dengan mulus. Eh… ternyata dunia luar begitu indah dan ternyata Nadya jauh lebih baik hidup tanpa suaminya. Dan terhitung setahun sudah ia dan suaminya tidak pernah berkomunikasi lagi, begitupun keluarga mereka. Maka itu hari ini ia mengirimkan email kepada (mantan) suaminya itu, bahwa ia ingin berpisah, secara baik-baik. Ya, lewat email. Lucu ya…

“Menikah itu belum tentu berjodoh”, adalah suatu kutipan yang dilihatnya disuatu bacaan. Terdengar nyinyir dan mengisyaratkan bahwa pada dasarnya yang namanya manusia itu tidak akan pernah berhenti di satu titik kepuasan. Tidak perlu bawa-bawa Tuhan disini (kan pasti aja ada orang nyinyir sama tulisan ini trus  bilang “Tuhan tidak suka perceraian”) , lha ya memang betul, jangankan Tuhan, manusianya pun tidak suka yang namanya perceraian. Tapi mengapa ada pasangan yang bercerai? Saya melihatnya dari satu sudut pandang saja, yaitu untuk : move on menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Kenapa jadi lebih baik? Bukannya baiknya tetap bersama?.Mungkin ada baiknya pura-pura tetap bersama dan tidak saling mencintai just for the sake of ‘peduli terhadap pandangan orang lain’;  atau mungkin berhasil menumbuhkan rasa cinta itu kembali, ya sah-sah saja, kebahagiaan seseorang kan ada pada tangannya sendiri. Kalau pasangan tersebut merasa bahagia ketika rujuk, bukankah itu adalah sebuah hal yang indah? Idealnya sih begitu.

Lain halnya bila hidup serumah menjadi seperti neraka, tiap malam sang istri merasa di bawah ancaman suami (yang mustinya memberi rasa aman malah jadi mencekam, persis kayak suasana pasca kerusuhan gitulah…-red), dan masih banyak alasan lain, yang pastinya apapun itu tidaklah bagus. Orang yang berkata “Janganlah bercerai, ingatlah akan blablabla dan blablabla…” umumnya tidak tahu, bagaimana rasanya harus berada di bawah kepedihan tinggal bersama dengan seseorang yang (tadinya) kita kira mencintai kita - tapi ternyata tidak. Apalagi untuk kasus KDRT (kalau cinta kenapa musti harus main tangan ya? Itu ekspresi cinta dari mana pula itu…. –red). Maka perpisahan memang menjadi solusi yang baik, untuk kedua belah pihak, soal perasaan orang lain - yah kan bukan ‘orang lain’ yang menjalani kehidupan sebagai pasangan itu, am I right or am I right? (lagi-lagi maksa-red)

Tadinya Belahan Jiwa Kini ‘Hanya’ Orang Asing…

“Kalau gue sampai balik sama dia dan tinggal serumah lagi, mungkin pilihannya hanya ada dua, dia yang mati atau gue yang mati. Most likely sih gue yang mati,” ujar Nadya ketika ditanya apa alasan ia meminta cerai dari suaminya. “Tuhan tidak menyukai perceraian, tapi saya yakin Tuhan juga tidak ingin umatNya berada dalam tekanan batin yang luar biasa setiap harinya, ” tambahnya. Bukankah tiap manusia mempunyai hak untuk bisa hidup tenang dan bahagia?

Saya melihat ada unsur “legawa” (dalam bahasa Jawa artinya “ikhlas”) disini. Nadya justru memberikan kesempatan pada suaminya itu untuk kembali ‘memulai hidup baru’, untuk mendapatkan kesempatan untuk berbahagia dengan orang lain yang lebih baik daripada dirinya. Bagi Nadya, hidup bersama dalam kepura-puraan itu jauh lebih buruk, daripada hidup sendiri tetapi lebih bahagia.

Ketika ditanya apa ia tidak takut akan pandangan orang terhadapnya, dengan tegas ia menjawab kalau ia tidak peduli - karena selama ini dia tidak ‘minta makan’ dari orang lain, jadi kenapa harus menghukum diri dengan pandangan orang, toh ini hidupnya sendiri dan ia yang empunya hak penuh akan kebahagiaan.

“Memang saya belum punya anak, tapi kalaupun sudah, saya akan tetap menempuh jalur perceraian, ini demi si anak juga, supaya ia tidak hidup dibawah kepura-puraan orangtuanya, yang masih menikah, mungkin juga tidur seranjang, namun hatinya tidak terpaut pada pasangannya. Untuk apa, setelah si anak dewasa, ia juga akan paham bahwa lebih baik berpisah tapi hidup bahagia daripada bersama tapi seperti dalam drama ; never ending drama….,” ujarnya ketika ada yang bilang kalau beruntung dia belum punya anak.

Perkataan “keep in touch” sebenarnya adalah sebuah perkataan yang serius. Tidak adanya komunikasi lagi antara Nadya dan (soon-to-be-ex) suaminya ini membuat keduanya seperti kembali menjadi orang asing. “Saya tidak lagi mengenal dia. Bagi saya dia sudah seperti orang asing…,” ujarnya.


Perceraian Bukan Akhir Dari Segalanya

“Ketika saya mengucap sumpah pernikahan, saya tidak pernah sedikitpun membayangkan bahwa suatu saat saya akan bercerai dari suami saya,” ujar seorang sahabat suatu waktu. Ya, mana ada manusia yang memikirkan mengenai perceraian pada saat mereka mengucap sumpah. Menurut buku “Project Everlasting” mengenai rahasia sukses pernikahan, memang disebutkan janganlah kita meletakkan ‘perceraian’ sebagai suatu pilihan – namun tentunya dapat diakhiri apabila benar-benar harus terjadi.

Beberapa sumber yang saya baca, mendeskripsikan pernikahan sebagai satu kalimat ; yaitu : Komitmen. Dan bahwa beberapa hal yang bisa ‘membatalkan komitmen’ tersebut adalah :penipuan, perzinahan dan penyiksaan (batin dan fisik)*. Dan ketika ketiga hal ini terjadi, disarankan untuk ‘menyelamatkan diri anda sendiri’ dan seseorang tadi berhak untuk meletakkan posisi pernikahan tadi di posisi kedua.

I Want a Happy Divorce….

Hidup ini pada dasarnya tergantung dari bagaimana kita mempersepsikannya. Contohnya, pada waktu terjadi kecelakaan bermotor, ada yang melihatnya sebagai ‘aduh betapa nasib sial tengah dialami 2 mobil yang tabrakan tadi, kok bisa nasib buruk sekali?’ tetapi ada pula yang melihatnya sebagai ‘2 mobil tadi tidak salah, hanya saja sesuatu telah terjadi dan mengakibatkan mereka tabrakan, untungnya tidak ada yang terluka’, begitu lho….

Begitu pula dengan cara kita memandang sebuah perceraian. Apabila dipandang sebagai ‘akhir dari segalanya’ maka terjadilah menurut pemikiranmu. Tapi apabila dipandang sebagai ‘langkah untuk menempuh kehidupan baru yang lebih baik,’ pastinya akan bermakna beda. Pasti ada masa-masa kesedihan atau depresi yang akan dialami tiap pasangan yang akan bercerai, namun fokuslah untuk menjalani hidup yang lebih baik ketika semua prosesnya berakhir.

Perlu diketahui, bahwa alasan saya menulis tulisan ini bukanlah untuk mendukung adanya perceraian. Tidak ada yang menyukai kata ‘cerai’. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan tentunya. Namun apabila itu terjadi, saya ingin membantumu melihat bahwa di luar sana hidup baru akan menunggu kamu, kamu tinggal harus mengontrol persepsimu atas perceraian tadi.

Ibarat menaiki sebuah kapal, apabila kita tenggelam, hanya ada dua pilihan yang bisa diambil, yaitu : tetap tenggelam atau belajar untuk berenang agar selamat. Its your choice – sink or swim!

Perceraian memang suatu akhiran alias ending, namun dapat juga menjadi awalan kehidupan baru yang lebih baik.

When you fall in a river, you’re no longer a fisherman;
you’re a swimmer.” - Gene Hill


Best of Luck in Love and Life!
Your friend,
@CiscaDV


Jakarta, Februari 2012
Tulisan ini saya persembahkan bagi kamu, yang pernah atau sedang menjalani proses perceraian.
Saya percaya bahwa kamu akan menjadi pribadi yang kuat setelahnya.
Untuk kehidupan yang lebih baik….

#Dating 101 (oleh @CiscaDV) : Mencintai “Milik Orang Lain”

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Mencintai suami / istri, pacar atau tunangan orang lain bukanlah sebuah “kasus” baru. Dan ini sudah bukan masuk kategori “Dating” lagi sebenarnya, melainkan… #uhuk … selingkuh. Lantas bagaimana apabila kita sudah terlanjur jatuh cinta pada #uhuk… “milik orang lain”?



Lupakan aku
Jangan pernah kau harapkan cinta
Yang indah dariku
Lupakan aku
Ku punya cinta lain yang tak bisa
Untuk kutinggalkan

Mungkin suatu saat nanti
Kaupun akan mengerti
Bahwa cinta memang tak mesti
Harus bersama

-dari Syair lagu “Cinta yang Lain” (Ungu feat. Chrisye)-

Sebut saja namanya Kirana (33 thn), ia jatuh cinta (setidaknya itu yang dia pikir, saya sih berpikir kalau itu ‘lust’ and not ‘love’ but anyway….) pada Rangga (39 thn) – suami orang. Lewat email diceritakannya pada saya mengenai kegalauan hatinya mencintai seseorang yang entah sampai kapan bisa menjadi miliknya. Bisa ditebak ceritanya, ibarat bunga kemarin mekar, indah mengembang, lantas membusuk. Tinggal tunggu waktu saja.

Cinta dan kepolosan (baca : kebodohan) adalah kombinasi yang mematikan. Berdasarkan pengalaman pribadi (gak usah pada nanya ‘pribadi’-nya siapa… ); laki-laki beristri yang ingin mendekati wanita lain (selain istrinya) pasti akan beralasan dan berbuat sbb :

  1. Mengatakan bahwa rumah tangganya bermasalah (atau sedang berpisah dengan istri, tidak ada komunikasi, dll) dan selalu menempatkan diri di posisi ‘korban perasaan’. Akibatnya akan muncul empati dari yang diincar. Wanita kadang mendahulukan hati ketimbang logika. Kalau tidak beralasan seperti ini, mana bisa mendekati wanita incarannya, ini alasan yang sudah-paling the best-ultimate-to the max deh pokoknya. Hehe….
  2. Mengatakan bahwa kamu adalah orang yang berbeda, yang bisa membuat dia bahagia, yang mustinya berjodoh dengan dia tapi Tuhan berkehendak lain, dll yang membuatmu berpikir ‘Oh iya, ini tidak mungkin terjadi kalau dia tidak memiliki perasaan yang sama dengan saya, maka itu dia disini bersama saya saat ini… dia juga mencintai saya…’
  3. Manusia punya naluri berburu. Maka itu sebelum dia dapat ‘memangsa’ hatimu, dia tidak akan berhenti untuk menarik simpati dari kamu.

Satu hal yang (mungkin jarang atau kalaupun terjadi, itu jarang diwujudkan, hampir tidak pernah, malah, ya ampun lama banget penjelasan ini-red)…. adalah ucapan atau janji : ‘Saya akan meninggalkan orang yang bersama saya saat ini – secara resmi – agar saya bisa bersama kamu.’ Berani taruhan, hanya 2 dari 10 pria yang benar-benar menceraikan istrinya demi bersama dengan wanita #uhuk … katakanlah ‘wanita idaman lain’nya. Dan percayalah, proses ‘meninggalkan’ itu jarang ada yang berjalan dengan mulus bak jalan tol. Karena dalam prosesnya, ada banyak pihak yang akan ‘terlindas’ perasaannya. Apa kamu tega ‘melindas’ perasaan orang lain demi kebahagianmu? Hmm…

Bagaimana kalau itu terjadi dengan kamu? Apabila berada dalam kondisi ini, jarang kita berhenti dan berpikir ‘aduh bagaimana kalau itu terjadi dengan suami atau istri saya nantinya, sakit hatinya kayak apa ya saya?’. Saya pernah punya teman yang merasa sukses karena berhasil ‘memisahkan’ seorang suami dari istri dan kedua anaknya (catet : yang masih kecil) . Mungkin ia tampak bahagia diluar, namun di hati kecilnya, ia tahu bahwa tindakan itu salah. Dan lebih ngenes lagi pastinya karena sekarang ia ditinggal demi wanita lain. Mantabh… ratabtabtab.. dungdung…desh!


Masalahnya dengan kepercayaan (trust) dan integritas seseorang. Kalau seseorang berkata padamu bahwa ia sudah bertunangan atau menikah, tapi masih duduk disebelahmu sekarang dan menggenggam tanganmu dengan mesra, apakah kata-katanya masih bisa dipercaya? Menikah terjadi dibawah sumpah, perselingkuhan tidak. Kalau yang disumpah saja masih bisa ‘lolos’,….. Okay I will say no more…


Mau sampai kapan kamu menunggu? Apakah proses ‘menunggu’ tersebut membuatmu bahagia? Itu hanya kamu yang tahu. Yang jelas, kalau ia masih tetap bersama istri / suaminya yang sah, kamu bukanlah prioritas – melainkan sekedar ‘properti’. Banyak sahabat saya yang bilang ‘I am willing to wait as long as it takes’, yeah rite… pada kenyataannya, tidak ada yang punya waktu sampai sebanyak itu….

Saya memahami alasan mengapa hal ini terjadi, manusia bisa sampai pada titik jenuh kebosanan dalam relationship mereka (dengan pasangan resminya). Ibaratnya kamu diberi makan tempe tiap hari – pasti sekali-kali ingin makan spaghetti. Nanti kalau sudah bosan sama tempe dan spaghetti kamu akan kepingin coba lasagna dan pizza dan mie ayam dan soto dan masih banyak lagi… (lah penulis jadi laper-red). Nah supaya nggak bosen sama tempe bagaimana? Ya tempe tadi dibuat oseng-oseng, digoreng, disambal, diapakan sajalah supaya ada variasi ke si tempe tadi. Oh my God, lebih mudah berkata daripada menjalankan ya? I know I know, when you’re in love (or love and lust – paduan yang lebih deadly) semua kata-kata saya diatas akan terlihat basi.

In the end you will only hurt yourself. Saya pernah mengalami ini. Akan sangat-sangat-sangat munafik apabila saya bilang ‘sorry ya, gue sih gak pernah, kalau gue sih ogah pacaran sama suami orang, banyak yang suka sama gue tapi gue tolak dan blablabla…..pret!’ dan lantas menulis artikel seperti ini, atau sok-sok ‘memberi advice’ tanpa pernah merasakan pedihnya mencintai sesuatu yang tidak pernah bisa dimiliki. Ya, saya akui. Saya pernah menjalin hubungan asmara dengan ‘milik orang lain’. Saya tidak bangga, saya ‘kecanduan’ akan dirinya, dengan bodoh saya pikir ia akan meninggalkan istrinya demi saya, ternyata tidak, malah dia sekarang jalan sama perempuan lain… (pas mantabh sekali ya-red). Yes, Karma can be quite nasty, jadi apabila kamu tidak ingin menerima karma pada akhir perjalanan nanti…. apa boleh buat. Lepaskan saja. Bahwa cinta memang tidak harus bersama itu memang benar adanya, terserah apa kata motivator-motivator itu deh ya.

Langkah pertama yang harus diakui oleh seorang pecandu adalah mengakui bahwa dirinya kecanduan. Saya sudah mengakui ‘kecanduan’ saya terhadap dia, saya sudah belajar dari ‘kebodohan’ ini, saya jadikan pelajaran dan move-on. Hey! Butuh keberanian yang besar lho untuk mengakui ‘kebodohan’… (angkat dagu-red). Tolong tepuk tangannya untuk saya…. #eaaa #eaaa #eaaa (males banget nggak sih bacanya-red).


“All is Fair in Love and War”, bukan begitu? Ya memang benar, tapi ada juga proverb “History will repeat itself”. Sejarah akan terulang kembali. Ladies, jika ia benar mencintai kamu (love dan bukan lust yaaa…..) dia akan benar-benar meninggalkan ‘yang bersama dia saat ini’ untuk bersama kamu. Jika ia tidak melakukannya, berarti dia #uhuk… masih mencintai yang bersama dia saat ini dan baginya kamu bukan sebuah ‘love’ dan hanya ‘lust’. Bukan jaminan juga kamu akan jadi yang terakhir baginya, bisa saja dia akan meninggalkan kamu dengan kejadian yang sama. Saya bukannya nakut-nakutin kamu, tapi berdasarkan pengalaman pribadi (baik pribadi saya maupun pribadi yang lain, halah -red), inilah yang akan terjadi….

Saya tidak akan menyarankan padamu, apa yang harus kamu perbuat. Pilihan ada di tanganmu sendiri. Ibarat meminum terlalu banyak wine, sebotol, dua botol, lama-lama kamu toh akan jenuh juga – mau semahal apapun wine itu. After-taste yang menyakitkan tetap akan muncul. Nah siapkah dirimu pada saat ‘after-taste’ tadi muncul? :)

“Sometimes, people want what they cant have…
the whole forbidden fruit thing…
But let me tell you, once you eat that fruit,
it tastes sour…,” –CiscaDV’s brain-


Best of luck in love and life,
Your friend,
@CiscaDV

Photo : Jason Brooks - Hed Kandi Artworks

Gerakan “Drive Books Not Cars” : Tidak Perlu Jadi Sosialita Untuk Bersosial

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Tidak perlu menjadi sosialita untuk bisa beramal. Tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk bisa membantu sesama. Kamu bisa membantu – bahkan hanya dengan me-retweet atau menyebarkan info ini kepada temanmu. Ya, semudah itu.



Dalam tulisan sebelumnya, saya pernah menulis tentang gerakan “Drive Books Not Cars” , sebuah inisiatif pengumpulan dana untuk dua organisasi non-profit, yaitu “Sahabat Anak” (organisasi yang memberikan les pelajaran gratis untuk anak-anak  jalanan)  dan “Taman Bacaan Pelangi” – organisasi yang mendirikan perpustakaan-perpustakaan kecil dan gratis untuk anak-anak yang tinggal di desa-desa terpencil di Flores, NTT. Tulisan saya yang dulu, bisa kamu simak di arsip bulan Juli 2011 yah.

September 2011 yang lalu, DBNC berhasil menggalang dana sebesar Rp 31juta untuk mendukung program Sahabat Anak dan Taman Bacaan Pelangi melalui buku-buku yang disumbangkan oleh masyarakat dan di jual pada saat Car Free Day. Hebat khan pemirsa!  #eaaa #eaaa #eaaa




Idenya sangat sederhana, yaitu :

  1. Masyarakat diajak untuk mengumpulkan buku-buku bacaan bekas.
  2. Menaruhnya di salah satu dari 50 titik (dropping point) yang tersebar di Jakarta mulai dari 3 Januari 2012 hingga 27 Januari 2012, antara lain di 40 outlet Starbucks di sekitar Jakarta, Kedutaan Besar Australia, kantor The Jakarta Globe, Blitz Megaplex, Habibie Center dan toko buku Kinokuniya.
  3. Selanjutnya, mereka dapat kembali pada 29 Januari 2012 di acara “Car Free Day” dan membeli buku-buku bekas yang berkualitas yang telah berhasil dikumpulkan dari ke-50 titik/lokasi dropping point tersebut.

Buku-buku berkualitas, novel berbahasa Inggris dan Indonesia, hardcover maupun softcover dijual murah sekali, mulai dari Rp. 25.000 s/d Rp. 50.000,- saja. Beberapa buku yang disumbangkan ke team “Drive Books, Not Cars” saat ini sudah mencapai ribuan buku, mulai dari “The Adventures of Tin Tin” dan  “Harry Potter and the Chamber of Secrets” sampai ke  “Confessions of an Economic Hitman” dan “The Great Gasby.” Dan paling mahal hanya Rp. 50.000! Dan buat amal pula! (saat menulis ini mata penulis berbinar-binar cerah-red).

The Saga Continues : Gerakan “Drive Books Not Cars”

Nah, kali ini gerakan “Drive Books Not Cars” akan diadakan lagi, yuk simak bagaimanya acara kamu bisa membantu! Simple sekali caranya, suwer deh! (sambil ngetik, sambil jari tangan kanan membentuk angka 2-red)

Bagaimana cara berpartisipasi?

  1. Paling simple, kamu bisa follow akun @DriveBooksJkt di twitter dan retweet informasi berguna mengenai program ini. Meretweet pun sudah beramal lho. Apalagi kalau meretweetnya tulus….. (merayu-red).
  2. Bisa ikutan menyumbang buku atau membeli buku pada saat hari penjualan (29 Januari 2012) saat acara Car Free Day di pelataran EX Jakarta.


3.    Mengajak teman-teman kamu untuk berpartisipasi dengan meng-copi paste (yes, kali ini kalian boleh mengcopi paste sesuatu dari blog saya secara resmi…. hahaha) draft email di bawah ini dan menyebarkannnya ke database email kamu;

———————————————————–

Teman, Keluarga, dan Kolega

Dua orang teman saya saat ini sedang terlibat dalam sebuah program kerja yang membutuhkan bantuan anda, terutama bantuan berupa buku-buku bacaan anda! Ide ini sangat hebat dan sederhana tapi sungguh kompleks dalam pengimplementasiannya, dan berharap dapat membuat orang-orang (semoga) berkata, “Saya mau membantu ini!” Singkatnya, mereka sedang mengumpulkan banyak buku dari berbagai pihak dan merencanakan untuk membuat acara besar satu hari menjual buku yang akan diadakan di tengah jalan di bundaran HI di Jl. Sudirman, salah satu jalan paling sibuk di Jakarta!!

Jadi, bagaimana cara membantunya? Sampai tanggal 10 September (meskipun mereka berharap masyarakat mau mendonasikan dari sekarang karena hal tersebut akan membantu mereka mengatur buku-buku tersebut lebih baik lagi) tim akan mengumpulkan buku-buku besar, buku-buku kecil, buku-buku orang dewasa, buku-buku anak kecil, komik, drama, buku dalam bahasa inggris, buku dalam bahasa Indonesia dan bahkan buku romantis sekalipun. Intinya, jika anda siap menyumbang buku yang mana saja, mereka siap terima buku tersebut.Jadi, mohon donasikan buku-buku anda.

Bagaimana cara saya memberikan buku-buku ini kepada mereka? Mudah sekali, cukup dengan mengirimkan saya sms ke nomor 0811 807 207 dan memberitahukan di mana letak kantor anda di Jakarta sehingga tim kami akan menjemput buku-buku tersebut!! Untuk teman dan kolega saya, saya akan tersedia jasa layanan jemput buku, sesederhana itu.

Bagaimana jika saya tidak mau Edwin mengambil buku saya - apakah ada cara lain? Tenang! Ada banyak lokasi untuk penyetoran buku anda. Yaitu: 40 outlet Starbucks dan di bawah Jalan Sudirman, Plaza Indonesia, Sekretariat Bike2Work Pondok Indah, Kedutaan besar Amerika Serikat di Menteng, BlitzMegaplex (drop buku-buku tersebut sebelum anda nonton bioskop), Newsroom Jakarta Globe di Kuningan, Caz Bar di Mega Kuningan, Eastern Promise diKemang, Bagel2bagel di Kemang, Habibiecenter di Kemang dan SbuxIndonesia di Kemang

Apa yang terjadi jika saya tinggal di Bandung? Maaf, kami hanya dapat menjemput buku anda di Jakarta tapi ada beberapa tempat di Bandung untuk menjadi lokasi penyetoran buku anda, yaitu: Bandung indah Plaza, Paris Van Java,  Citywalk dan KM 97.

Jadi sebenarnya buku-buku tersebut untuk apa? Tim dari Taman Bacaan Pelangi, sebuah organisasi yang membuat perpustakaan kecil untuk anak-anak di desa Flores, NTT akan memilih beberapa buku tersebut untuk membawanya ke perpustakaan mereka di NTT. Sisa buku tersebut akan dijual di bundaran HI hari Minggu, tanggal 29 January 2012 selama Car Free Day. Dan semua dana yang terkumpul akan diberikan ke Taman Bacaan Pelangi untuk mendukung kerja hebat mereka di NTT.

Saya benar-benar ingin mendukung program ini, apakah ada cara lain untuk mendukung? Ya! Anda dapat mengopi dan menempel (paste) email ini dan kirimkan ke semua orang-orang yang anda kenal.Kami berharap mendapatkan bantuan yang besar. Sekali lagi, terima kasih telah membantu dan tim kami akan segera menjemput buku-buku tersebut dari kantor/rumah anda.

Salam manis,
(Ketik nama kamu yang ciamik di bawah kata ‘salam manis ini, hihihi)

———————————————————–

Semudah itu cara kita bisa membantu sesama. Sekarang jamannya sudah modern, kamu tidak perlu lagi “mengulurkan tangan beneran”, cukup menjentikkan jarimu untuk meretweet informasi, atau menyebar email atau bahkan, melakukan “the joy of reading” kepada semua orang dengan cara menyumbangkan buku-buku bekasmu!

Ah seandainya semua cara mentransfer kebahagiaan bisa dilakukan dengan cara simple seperti “Drive Books Not Cars”…

####

Untuk informasi lebih lanjut tentang Drive Books, Not Cars, kunjungi (atau hubungi) :
•    http://www.facebook.com/DriveBooksNotCar…
•    Twitter: @drivebooksjkt
•    Zack Petersen 08176050817, email:  petersenzack at yahoo.com
•    Nila Tanzil 081510099013, email:  nilatanzil at hotmail.com