“Kamu sering bilang, saya akan mendoakan kamu supaya suatu saat nanti akan ada pria baik-baik yang akan mencintaimu apa adanya dan akhirnya menikahimu. Tetapi kalau saya mau berjumpa dengan pria lain selain kamu, kamu marah. Jadi doamu itu hanya di bibir saja dan bukan dari hati,” ujar Cindy (29th) kepada pacarnya, Raymond (59th) – yang notabene sudah memiliki istri dan anak. Cindy merasa bersalah karena posisinya sebagai ‘orang ketiga’ dalam rumah tangga Raymond. Namun tidak gampang untuk memutuskan hubungan ini. Akhirnya Cindy pasrah ketika harus ‘berbagi cinta’ Raymond dengan istri sah-nya.

Is sharing really caring?
Demikian juga dengan Raymond, ia tidak memberikan kesempatan kepada Cindy untuk berjumpa dengan orang lain yang potensial. Sedemikian erat diawasinya gerak-gerik Cindy dan juga memberi ultimatum ‘sekali saja kamu makan malam dengan pria lain, hubungan kita selesai’ kepadanya. Hal ini memberikan dilema kepada Cindy. Sudah jelas Raymond tidak akan menikahinya, namun memberikan kesempatan untuk Cindy bisa bertemu dengan orang lain pun tidak diijinkannya. Jadi maunya apa? Kenapa tidak ‘berbagi Cindy’ dengan pria lain? Toh Cindy rela ‘berbagi Raymond’ dengan istrinya.
“Kamu bilang hubungan kita selesai kalau saya bertemu pria lain, tetapi tiap malam kamu pulang ke istrimu dan sekalipun saya tidak pernah bilang kalau hubungan kita akan selesai; menurutmu apa itu fair?,” tanya Cindy pada Raymond. Wajar apabila Cindy bertanya demikian. Sebab kalau pria itu tidak dapat memberikannya ‘status’, berarti pria tersebut tidak punya hak untuk cemburu atau mengatur hidupnya. Menurut saya fair enough.

“ I’m not saying that it’s wrong to ‘share’, but I can't say that i'm ok either…”
Lain halnya dengan Carina dan Reza. Profesi Reza sebagai business-man sukses membuatnya harus sering keluar kota, meninggalkan Carina di rumah dengan anak-anak mereka. Pasangan ini telah menikah selama 7 tahun dan (dari luar) tampaknya bahagia saja. Yang tidak diketahui oleh banyak orang adalah, Carina mempunyai ‘suatu aturan’ yang selalu dipatuhi oleh Reza. “Kalau kamu berada di luar rumah, mau ‘nakal-nakalan’, bermainlah yang bersih, jangan bawa penyakit ke rumah. Dan yang terpenting, jangan sampai saya tahu. Kalaupun suatu hari nanti saya tahu, dan ketika saya bertanya kepadamu – jawablah: ‘Tidak, saya masih setia padamu dan mencintaimu’. Jawab demikian, kecuali kamu mau hubungan kita selesai,” begitu ucap Carina pada suaminya – jauh sebelum mereka dikaruniai anak. Carina berkata, “Bahkan ketika misalnya kamu kepergok berduaan dengan wanita lain di kamar hotel pun – dan saya berada di luar pintu, jawablah pada saya ‘kamu tidak mengkhianati saya dan kamu tetap mencintai saya,’ jawab demikian kecuali kamu mau kita selesai. Karena saya tidak butuh penjelasan darimu ketika hal itu terjadi,” tegasnya.
Ketika mengetahui adanya suatu ‘pengorbanan perasaan’ yang sangat besar dari seorang wanita terhadap suaminya, yang jelas-jelas tahu bahwa suatu hari ia pasti akan dikhianati oleh suaminya – dan tetap mau ‘berbagi suami’ dengan wanita yang tidak dikenalnya, saya jadi berpikir apakah dunia yang kita tinggali ini sudah begitu jahat – dan bahwa jumlah laki-laki setia pasti tinggal sedikit. Beberapa diantara mereka menjadi gay dan sisanya pasti sudah diambil oleh wanita yang beruntung. Untuk menyiasati hubungan dengan sisanya yang ‘nakal’ ini, sebagai pasangan kita harus rela berbagi? Is it, really?
Banyak pasangan ‘berbagi’ dengan alasan yang menurut saya konyol. Atau mungkin, saya saja sih yang bitter menanggapinya. Ada pasangan (yang tidak tergolong muda lagi, karena masing-masing sudah pernah berumah tangga sebelumnya), tinggal bersama dan kemudian berbagi rekening bank (satu untuk semua) dan kemudian (yang menurut saya lebih bodoh lagi – oops! Maafkan bahasa saya, hehehe…..) berbagi kartu kredit. Akhirnya bisa ditebak, bahwa ketika mereka berpisah, salah satu pihak kabur dari kewajiban membayar hutang. Kalau sudah begini tidak lagi mau sharing atau berbagi seperti dulu. Hebat ya? (tentunya ini sarkasme-red).
Atau yang lebih aneh lagi, pasangan yang berbagi password – entah itu password social media seperti facebook, twitter, atau sekedar password email. Maksudku, apa sih yang kalian pikirkan sewaktu membagi itu? (hehe….). Yang jelas ini adalah kasus dimana cinta bisa membutakan segalanya. Maksudnya pasti agar salah satu pasangan berkata ‘hey, silahkan ini password facebook aku – I have nothing to hide from you…’ TET! Salah besar! Semua orang punya rahasia. Kalau mau hubunganmu awet, ada beberapa hal yang perlu dibagi, ada yang … well… cukup kamu dan Tuhan saja yang tahu yaaa….

“I know there is no guarantee in relationship. However I just want to know that at the end of the day, I can say that I tried. If that means I will have to share you with another person, that I’ll do….”
Dulu, saya pernah dihadapkan pada kenyataan ‘harus berbagi cinta kasih seseorang dengan keluarganya’ dan pasangan saya selalu menempatkan keluarganya diatas saya. Disini saya mengambil keputusan bahwa saya tidak rela ‘berbagi’ dan akhirnya hubungan kami kandas ditengah jalan. Padahal, saya tergolong orang yang paling cuek. Hal yang paling kecil seperti; memeriksa telepon genggam pasangan – itu tidak pernah sekalipun saya lakukan. Kenapa? Sekali saja seorang wanita memeriksa (secara diam-diam terutama) telepon genggam pasangannya, pasti akan ada hal-hal yang kemudian memicu keparno-an wanita tersebut. Maka itu lebih baik tidak usah. Namun herannya, ketika dihadapkan pada pilihan untuk berbagi pasangan saya dengan segerombolan keluarganya, saya tidak mau. Harusnya berbagi itu adil, sama rata – tidak ada satu pihak yang dimenangkan. Itu namanya baru fair.
Semua orang punya rahasia, saya punya, anda punya, oh, saya punya BANYAK! Dan dalam soal dating, kadang saya rela berbagi beberapa aspek – yang tentunya dapat membahagiakan pasangan saya, walau kadang itu berarti mengorbankan perasaan saya sebagai wanita. Yes, you can tell that I’m a bit crazy….
So, is sharing really caring?!
Good luck in love and life!
Xoxo,
@CiscaDV
####
Koleksi Foto : JasonBrooks.com
















