
Geng #UbudTrip berfoto bersama anggota keluarga Puri Saren, Museum Puri Lukisan, Juni 2011 (photo oleh : Benny Chandra)
Sebuah tulisan yang terinsprasi dari kunjungan ke “Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati”, Ubud-Bali.

Yang dilakukan apabila berkunjung ke Pulau Dewata

Sungai Tjampuhan - Ubud, Bali.
Apabila anda berkunjung ke pulau Bali, pasti yang ada di pikiran pertama-kalinya adalah kata ‘bersenang-senang’. Pulau ini menyedot ratusan wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara tiap tahunnya.
Data dari sumber yang saya peroleh; pada tahun 2003 kuartal ke III , jumlah wisatawan yang datang ke Bali meningkat drastis sebanyak 334.137 orang dari 182.840 orang pada kuartal ke II, padahal waktu itu kurs Dollar terapresiasi terhadap Rupiah Rp.10.559. Maka dapat disimpulkan bahwa Kurs tidak sepenuhnya mempengaruhi jumlah wisatawan yang datang ke Bali. Jadi pada intinya, semua yang datang ke Bali sebenarnya mampu menghabisnya dana yang tidak sedikit, baik untuk sekedar hang-out bersama teman-teman dan keluarga di daerah yang populer seperti Kuta atau Seminyak, atau sekedar mencari ketenangan lahir-bathin di daerah yang eksotis seperti Ubud.

Penulis bersama dengan Mas Bembi Indrio, salah satu penulis Buku "Ubud :The Spirit of Bali" (bersama dengan Hermawan Kartajaya); Juni 2011
Pemerintah kita sebenarnya tidak terlalu sulit mempromosikan Bali sebagai poros wisata Indonesia. Seorang kawan saya, CEO sebuah perusahaan ternama dari Italia pernah berujar “Wah kamu dari Indonesia? Bali ya?”, hal ini membuktikan bahwa Bali secara tidak langsung menjadi top-of-mind bagi beberapa orang dari luar Indonesia, ketika kita pertama menyebut nama Indonesia.

Salah satu Villa di Tjampuhan Hotel, Ubud - Bali, tempat Walter Spies pernah tinggal dan berkarya selama beliau singgah di Bali.
Apa yang anda lakukan kalau anda berlibur ke Bali? Beberapa teman saya langsung berujar kalau mereka suka dengan daerah yang ‘hip’ seperti Kuta atau Seminyak untuk menghabiskan waktu di pantai dengan bar dan lounge yang ternama (kebanyakan mereka peroleh referensinya dari majalah-majalah travel). Beberapa mengucap, kalau untuk urusan ‘menyepi’ dari segala hiruk pikuk kota, tidak ada yang dapat mengalahkan Ubud sebagai satu-satunya yang dituju oleh mereka. Dan beberapa dari mereka yang saya tanya ini umumnya kaum sosialita dan fashionista Ibukota – yang tentunya tak segan menghabiskan dana yang tak sedikit untuk berlibur, atau sekedar – yang mereka sebut dengan ‘weekend getaway’.
Jarang ada yang mengucap ‘Kalau ke Bali, saya suka berkunjung ke Museum’. Mungkin saya pun kalau tidak beberapa kali diundang ke Bali untuk melihat Museum, atau event yang diadakan di- Museum, saya juga tidak terpikir jawaban seperti ini. Mengingat saya masih tergolong muda *ehm* usia yang masih ingin dianggap suka bersenang-senang dan jauh dari hal yang berbau serius seperti ‘datang ke Museum’.
Dari beberapa website mengenai museum yang saya kunjungi, umumnya kata-kata pembuka atau tagline mereka adalah “A visit to The National Museum, Cultural Center and National Archive will acquaint you with the country history and culture.” Jadi untuk memahami budaya dan sejarah suatu negara atau bangsa, kunjungilah museum di negara tersebut. Nah, beberapa teman saya yang usianya sepantaran saya menganggap kalau “culture” mengunjungi museum apabila ke Bali itu mungkin belum banyak dimiliki oleh banyak kawula muda di Indonesia. Mungkin itu sebabnya, di beberapa museum yang saya kunjungi di Bali, di buku tamu mereka, kebanyakan saya melihat nama-nama wisatawan asing disitu. Nama-nama seperti Jean, Mark, Isabelle atau Valleria lebih banyak dijumpai ketimbang Bambang, Siti atau Hasan, hehehe…… (iseng amat ya ngeliatin buku tamu-red).

The Tjampuhan Hotels View
Ada Berapa Museum sih di Bali?
Kalau pertanyaan tadi menjadi pertanyaan kuis, tentunya banyak yang salah menjawab. Berani bertaruh orang Bali sendiri mungkin tidak tahu berapa banyak museum di pulau mereka. Saya pernah melempar pertanyaan ini di twitter dan memperoleh satu jawaban yang cerdas dari @chicohakim dan @senirupa (dua tokoh ini memang punya passion yang kuat di bidang seni dan budaya), bahwa ada 19 museum di Bali yang terdaftar di Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali. Dari 19 itu, yang aktif ada 16 museum dan diluar yang tercatat itu, masih ada 35 museum lagi yang belum tercatat. Mas @senirupa sendiri berkata secara hitungan kasar ada 15 museum dan yang pantas dikunjungi ada 10 museum.
Nah, apabila kita diminta menyebutkan 5 saja dari jumlah total museum tadi dan masih merasa kesusahan (maksudnya, masih pake mikir dulu gituloh), saya menganggapnya wajar. Saya sendiri belum menemukan buku yang mendokumentasikan – dari ‘lifestyle’ point-of-view (maksud saya ‘dengan bahasa yang mudah dicerna – ibu-ibu juga ngerti gituloh) mengenai ‘Apa saja museum di Bali, lokasinya di mana saja dan karya-karya kelas dunia apa yang dimiliki oleh museum tersebut’ (kalau boleh, seniman yang menghasilkan karya itu diulas sedikit). Kalau ada buku seperti ini, yang diulas dengan bahasa yang mudah dicerna dan jadi coffee table book yang keren untuk jadi penghias meja tamu di rumah, sudah pasti saya akan jadi orang pertama yang memesannya. Saya memiliki beragam buku yang keren (setidaknya untuk dipajang di rumah) mengenai kolektor-kolektor seni terkemuka di Indonesia (siapa saja mereka dan apa saja karya yang mereka koleksi) sampai buku tentang ulasan per-museum (dalam artian tidak secara keseluruhan) mengenai museum di Bali, tapi tidak ada yang memetakan museum secara keseluruhan. Saat ini saya sedang mencari satu buku yang lumayan terkenal, namanya : “Treasures of Bali - A Guide to Museums in Bali ” (Gateway Books International, the UK along with Bali Museum Association (Himusba) – 2006). Kalau teman-teman ada yang tahu belinya di mana (tergolong langka soalnya) kabari saya ya.
Kenapa musti ke Museum kalau ke Bali?

Salah satu karya I Gusti Nyoman Lempad di Puri Saren, Ubud
Kita bangga kalau di Bali melihat peristiwa Ngaben, mengunjungi Pura atau objek wisata indah lainnya, atau kalau untuk anak muda, pergi ke bar dan lounge yang ternama dan mendapat banyak rekomendasi dari teman-teman lain. Mungkin sudah saatnya mempertimbangkan mengunjungi Museum. Percaya deh, setelah beberapa kali ke Bali dan mengunjungi museum di Bali, saya bahkan mengunjungi museum yang sama sebanyak dua kali, tanpa diminta, semata-mata karena penasaran , karya siapa lagi yang kali ini ditampilkan disana dan masih banyak yang lainnya.

Halaman Depan Museum Pasifika (Photo : Da Vinci Magazine)
Di Nusa Dua saya beberapa kali mengunjungi Museum Pasifika. Museum ini didedikasikan untuk membagi pengetahuan sejarah dan memamerkan berbagai karya seni dari Asia Pasifik dengan menempatkan Indonesia dan khususnya Bali sebagai pusatnya. Beberapa karya seniman ternama seperti Theo Meier, Miguel Covarubias dan masih banyak lagi terpajang dengan indahnya di Museum ini. Tulisan saya mengenai museum ini bisa dilihat di tulisan blog saya dengan judul “Theo Meier ; Seniman Swiss yang Jatuh Cinta pada Bali.”
Di Ubud sendiri, saya juga beberapa kali mengunjungi Museum Rudana, yang banyak memamerkan dan mempromosikan karya seni berupa lukisan dan patung karya seniman Bali. Di antara karya seni yang dipamerkan adalah karya dari I Gusti Nyoman Lempad, Nyoman Gunarsa, Made Wianta,seniman Indonesia di luar Bali seperti Affandi, Basuki Abdullah, Srihadi Soedarsono, Sunaryo Sutono, maupun seniman asing yang tinggal di Bali seperti Antonio Blanco dan Arie Smit.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali.
Apabila anda mengunjungi kedua museum ini, kesan ‘angker’ atau ‘kuno’ seperti yang anda bayangkan apabila mengunjungi museum pada umumnya, langsung musnah seketika. Yang and dapatkan adalah museum yang tertata apik bagai art-space atau art-gallery, yang sangat terawat, dengan pendingin udara yang sejuk dan guide yang fasih menjelaskan mengenai karya-karya dalam berbagai bahasa. Biaya masuk museum pun relatif terjangkau, dibandingkan dengan usaha kedua pemiliknya dalam menghadirkan karya-karya besar tadi ke hadapan mata anda. Sungguh sebuah pengalaman ‘kembali ke masa lalu’ yang nyaman dan menyenangkan. Anda harus mencobanya, bener deh, jewer kuping saya kalau bohong…hehehe…..
Museum Puri Lukisan dan Museum Marketing 3.0
Dari keterangan yang saya peroleh dari website MarkPlusInc, Pulau Bali itu diibaratkan seperti bawang, berlapis-lapis. Lapisan luarnya adalah Kuta dan Nusa Dua, sedang lapisan terdalamnya adalah Ubud. Ubud adalah jiwa dan inti dari Pulau Bali, lengkap dengan kehangatan, keramahan, begitu otentik – selaras dengan DNA Pulau Bali.
Ubud mempunyai jiwa, atau ‘taksu’ (begitu orang Bali biasa menyebutnya), sebagai kekuatan yang tidak bisa kita lihat, yang membuat semua orang yang datang berkunjung merasa lahir kembali. Barangkali karena ‘taksu’ ini tadi, pelukis kenamaan mancanegara betah datang dan menetap di pulau bali sejak tahun 1930-an. Hal ini tidak lepas dari usaha ‘marketing’ yang dilakukan oleh Raja Ubud pada masa itu. Brand ‘Ubud’ telah berhasil memarketingkan seluruh Pulau Bali dan menularkan unsur taksu ke para seniman besar tadi. Barangkali itu juga yang membuat nama-nama seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet lantas menjadi teman dekat keluarga kerajaan Puri Saren, termasuk Tjokorda Gde Agung Sukawati (1910-1978). Pada tahun 1936, bersama mereka membentuk perkumpulan seniman Pita Maha dan pada tahun 1953, membentuk Yayasan Ratna Wartha dan lantas membentuk Museum Puri Lukisan pada tahun 1956.

Kenapa saya membahas Museum Puri Lukisan dan Museum Marketing 3.0 ini secara khusus dalam satu section dalam tulisan ini? Karena saya baru saja mengunjungi 2 Museum ini minggu lalu, pastinya – dan juga karena saya sudah beberapa kali mengunjungi Museum Puri Lukisan dalam beberapa waktu terakhir ini. Terakhir saya ke Museum Puri Lukisan memang tahun 2008, namun itu sudah kunjungan yang ke 3 kalinya. Dan kesan ‘tua’ dan ‘serius’ memang yang saya dapatkan apabila ke Museum Puri Lukisan, tapi memang itu yang saya sukai dari museum tertua di Ubud ini.

Halaman Depan Museum Puri Lukisan, Ubud - Bali
Di museum ini bisa dinikmati perkembangan seni rupa di Ubud, baik seni lukis maupun seni pahat. Ada juga beberapa karya dari para seniman asing yang berkarya di Ubud seperti: Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smit serta maestro lain seperti I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made dan yang lainnya.

Buku "Pioneers of Balinese Paintings" oleh DR. Helena Spanjaard
Saya ingat, terakhir kali saya datang ke Museum Puri Lukisan adalah karena waktu itu, Museum ini menggelar Pameran “Para Pelopor Seni Lukis Bali - Koleksi Rudolf Bonnet”, pada tahun 2008 silam. Kala itu saya mendapat kehormatan berkunjung dan ditemani oleh sang penulis buku sekaligus kurator pameran tersebut, Dr. Helena Spanjaard ; untuk dapat melihat berbagai karya seniman Rudolf Bonnet sebanyak lebih dari 60 lukisan Bali yang berasal dari periode 1929-1958 yang dipamerkan dalam kualitas prima. Selain itu juga ada beberapa karya dari nama-nama besar lainnya seperti I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat dan I Patera. Dr. Helena Spanjaard pun secara lugas bercerita mengenai proses peralihan dari pandangan etnografis ke sejarah seni dari seni Bali sejak tahun 1920. Anda dapat membaca secara lengkap kisahnya dalam buku yang berjudul “Pioneers of Balinese Painting: The Rudolf Bonnet Collection”. Ketika ia menandatangani buku saya, secara spontan saya berkata dalam hati, suatu saat kalau punya anak, saya akan mewariskan buku itu kepadanya (hehehe…..optimis kan boleh). Kala itu saya ingat, saya berfoto di depan pohon besar di halaman museum ini. Dan memang beberapa tamu yang hadir pada waktu itu, banyak sekali turis mancanegara (umumnya kebangsaan Belanda) yang jauh-jauh berkunjung ke Bali, demi melihat pameran ini.

Buku "Pioneers of Balinese Paintings" oleh DR. Helena Spanjaard

Bagian dalam Museum Marketing 3.0
Di dalam kompleks Museum Puri Lukisan, terdapat satu Museum yang baru diresmikan sejak Mei 2011 lalu. Nama lengkap museum tersebut adalah “Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati”. Namanya begitu, karena almarhum Tjokorda Gde Agung Sukawati (Last King of Ubud) adalah ayahanda dari ketiga Tjokorda dari Puri Saren yang dulu memang melakukan Marketing 3.0 untuk Ubud. Ketiga Tjokorda itu adalah Tjokorda Gde Putra Sukawati (CEO, Grup. Tjampuhan), yang merupakan “Pengelingsir Puri Saren”, Tjokorda Gde Oka Sukawati (Bupati Gianyar) dan Tjokorda Gde Raka Sukawati, seniman serba bisa yang menulis thesis “Spiritual Marketing” di Program Pasca Sarjana Universitas Udayana.
Kompleks Museum Puri Lukisan di jalan Raya Ubud milik Keluarga Puri Saren yang merupakan Museum tertua di sana, diputuskan menjadi tempat dari Museum Marketing 3.0. Keluarga Puri Saren menyumbang bangunan fisiknya, sesuai dengan pesan mendiang Tjokorda Gde Agung Sukawati sebelum ia meninggal kepada anak-anaknya untuk mengembangkan Museum Puri Lukisan dengan memuat perjalanan keluarganya juga cerita pemasaran brand “ubud” ke dunia sejak tahun 1930an.

Para penggagas Museum Marketing 3.0
Sesuai dengan namanya, museum ini menampilkan berbagai kisah dari praktik-praktik Marketing yang telah dilakukan oleh berbagai individu atau perusahaan yang mempunyai jiwa dan semangat 3.0, nilai spiritual yang berakar kepada ‘people, planet and prosperity’. Semua objek wisata Ubud pada umumnya masih menjaga ketat unsur spiritualnya. Maka itu pemilihan lokasi museum ini tidaklah salah, sebab aplikasi marketing kuno telah dilaksanakan oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati dengan membuat seniman-seniman mancanegara tadi singgah dan akhirnya berbaur dengan masyarakat Ubud.
Membuat konsep “berkunjung ke museum tapi tidak membosankan” menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para insan penggagas museum saat ini. Kehadiran Museum Marketing 3.0 di Ubud menjadi ‘nafas baru’ bagi dunia museum di Indonesia. Kehadirannya tidak hanya menyuarakan bahwa ‘inilah praktik Marketing yang sebenar-benarnya’ kepada dunia, Marketing seperti layaknya ‘obat yang menyembuhkan konsumen’. Setiap konsumen mempunyai masalahnya masing-masing, mereka mempunyai rasa khawatir, aspirasi dan hasrat terhadap apa yang ingin mereka dapatkan dari suatu brand. Pemasar adalah tokoh yang ‘dapat menyembuhkan’ masalah-masalah psikis tadi dengan konsep marketing yang benar. Sebagai contoh yang dapat dilihat di museum ini adalah program marketing dari Apple, Facebook dan Twitter yang dengan beragam perspektif yang unik dapat menyediakan ‘solusi’ bagi konsumennya.

Penulis di dalam Museum Marketing 3.0
Museum sejatinya adalah tempat untuk menambah inspirasi, ilmu dan membuat kita selalu haus untuk kembali me-recharge diri terhadap ilmu pengetahuan yang dikandungnya. Sudah selayaknya kini kita mempertimbangkan alternatif lain untuk berwisata ke Pulau Bali.
Jadi, bagaimana teman? Sudah tertarikkah anda untuk berwisata museum di Bali?
####
Sumber :
- Markplusinc.com
- Buku “Ubud, A Short History of an Art and Cultural Center in Bali.” Jean Couteau, Adrian Vickers, Graeme MacRae and I Wayan Rai S. Editors : Bembi Dwi Indrio and Soemantri Widagdo. Published to coincide with the opening of The Ubud Cultural Heritage Center at the Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali.
- Buku : “Ubud, The Spirit of Bali.” Hermawan Kartajaya with Bembi Dwi Indrio. Penerbit : MarkPlusInc.
- Pengalaman pribadi penulis selama berkunjung ke Ubud beberapa kali sejak tahun 2007.









Rohwer diberi kebebasan dari pemilik rumah untuk membuat perubahan artistik, juga kebebasan untuk memilih rangkaian furniture koleksi Da Vinci yang ia perlukan untuk menata ulang interior rumah dalam waktu tiga hari saja. Konsep Rohwer pada dasarnya adalah menyamakan suasana eksterior dengan interior hunian; maka ia memilih warna-warna natural yang menyelaraskan keseluruhan tampilan. Rohwer sendiri telah lama dikenal sebagai konsultan desain dan penataan interior selama 20 tahun, sukses menjalankan banyak proyek di Milan, Moscow, Beijing dan Singapura. Ia dipercaya oleh Donatella Versace untuk memberikan konsultasi penataan hunian; khususnya untuk lini aksesori hunian Versace Home.

Mencermati pemilihan furniture dan aseksori pelengkap dalam hunian ini, sangat mudah memberi label ‘elegan dan glamor’ terhadapnya. Namun tetap kunci penataan bergantung pada keselarasan antara satu ruang dengan lainnya dan palet warna eksterior dan interior yang berpadu secara harmonis. Rohwer menciptakan sebuah hunian yang mencerminkan kepribadian sesungguhnya dari pemilik hunian, seperti layaknya rangkaian furniture yang dipilihnya. Hasil akhirnya adalah sebuah hunian idaman yang modern, elegan, mewah namun menyimpan sejuta kehangatan bagi siapapun yang tinggal di dalamnya. 

