Ayo Wisata Museum di Bali!

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca, Museum, Travelling

Geng #UbudTrip berfoto bersama anggota keluarga Puri Saren, Museum Puri Lukisan, Juni 2011 (photo oleh : Benny Chandra)

Geng #UbudTrip berfoto bersama anggota keluarga Puri Saren, Museum Puri Lukisan, Juni 2011 (photo oleh : Benny Chandra)

Sebuah tulisan yang terinsprasi dari kunjungan ke “Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati”, Ubud-Bali.


Yang dilakukan apabila berkunjung ke Pulau Dewata

Sungai Tjampuhan - Ubud, Bali.

Sungai Tjampuhan - Ubud, Bali.

Apabila anda berkunjung ke pulau Bali, pasti yang ada di pikiran pertama-kalinya adalah kata ‘bersenang-senang’. Pulau ini menyedot ratusan wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara tiap tahunnya.

Data dari sumber yang saya peroleh; pada tahun 2003 kuartal ke III , jumlah wisatawan yang datang ke Bali meningkat drastis sebanyak 334.137 orang dari 182.840 orang pada kuartal ke II, padahal waktu itu kurs Dollar terapresiasi terhadap Rupiah Rp.10.559. Maka dapat disimpulkan bahwa Kurs tidak sepenuhnya mempengaruhi jumlah wisatawan yang datang ke Bali. Jadi pada intinya, semua yang datang ke Bali sebenarnya mampu menghabisnya dana yang tidak sedikit, baik untuk sekedar hang-out bersama teman-teman dan keluarga di daerah yang populer seperti Kuta atau Seminyak, atau sekedar mencari ketenangan lahir-bathin di daerah yang eksotis seperti Ubud.

Penulis bersama dengan Mas Bembi Indrio, salah satu penulis Buku "Ubud :The Spirit of Bali" (bersama dengan Hermawan Kartajaya); Juni 2011

Penulis bersama dengan Mas Bembi Indrio, salah satu penulis Buku "Ubud :The Spirit of Bali" (bersama dengan Hermawan Kartajaya); Juni 2011

Pemerintah kita sebenarnya tidak terlalu sulit mempromosikan Bali sebagai poros wisata Indonesia. Seorang kawan saya, CEO sebuah perusahaan ternama dari Italia pernah berujar “Wah kamu dari Indonesia? Bali ya?”, hal ini membuktikan bahwa Bali secara tidak langsung menjadi top-of-mind bagi beberapa orang dari luar Indonesia, ketika kita pertama menyebut nama Indonesia.


Salah satu Villa di Tjampuhan Hotel, Ubud - Bali, tempat Walter Spies pernah tinggal dan berkarya selama beliau singgah di Bali.

Salah satu Villa di Tjampuhan Hotel, Ubud - Bali, tempat Walter Spies pernah tinggal dan berkarya selama beliau singgah di Bali.

Apa yang anda lakukan kalau anda berlibur ke Bali? Beberapa teman saya langsung berujar kalau mereka suka dengan daerah yang ‘hip’ seperti Kuta atau Seminyak untuk menghabiskan waktu di pantai dengan bar dan lounge yang ternama (kebanyakan mereka peroleh referensinya dari majalah-majalah travel). Beberapa mengucap, kalau untuk urusan ‘menyepi’ dari segala hiruk pikuk kota, tidak ada yang dapat mengalahkan Ubud sebagai satu-satunya yang dituju oleh mereka. Dan beberapa dari mereka yang saya tanya ini umumnya kaum sosialita dan fashionista Ibukota – yang tentunya tak segan menghabiskan dana yang tak sedikit untuk berlibur, atau sekedar – yang mereka sebut dengan ‘weekend getaway’.

Jarang ada yang mengucap ‘Kalau ke Bali, saya suka berkunjung ke Museum’. Mungkin saya pun kalau tidak beberapa kali diundang ke Bali untuk melihat Museum, atau event yang diadakan di- Museum, saya juga tidak terpikir jawaban seperti ini. Mengingat saya masih tergolong muda *ehm* usia yang masih ingin dianggap suka bersenang-senang dan jauh dari hal yang berbau serius seperti ‘datang ke Museum’.


Dari beberapa website mengenai museum yang saya kunjungi, umumnya kata-kata pembuka atau tagline mereka adalah “A visit to The National Museum, Cultural Center and National Archive will acquaint you with the country history and culture.” Jadi untuk memahami budaya dan sejarah suatu negara atau bangsa, kunjungilah museum di negara tersebut. Nah, beberapa teman saya yang usianya sepantaran saya menganggap kalau “culture” mengunjungi museum apabila ke Bali itu mungkin belum banyak dimiliki oleh banyak kawula muda di Indonesia. Mungkin itu sebabnya, di beberapa museum yang saya kunjungi di Bali, di buku tamu mereka, kebanyakan saya melihat nama-nama wisatawan asing disitu. Nama-nama seperti Jean, Mark, Isabelle atau Valleria lebih banyak dijumpai ketimbang Bambang, Siti atau Hasan, hehehe…… (iseng amat ya ngeliatin buku tamu-red).


The Tjampuhan Hotels View

The Tjampuhan Hotels View

Ada Berapa Museum sih di Bali?

Kalau pertanyaan tadi menjadi pertanyaan kuis, tentunya banyak yang salah menjawab. Berani bertaruh orang Bali sendiri mungkin tidak tahu berapa banyak museum di pulau mereka. Saya pernah melempar pertanyaan ini di twitter dan memperoleh satu jawaban yang cerdas dari @chicohakim dan @senirupa (dua tokoh ini memang punya passion yang kuat di bidang seni dan budaya), bahwa ada 19 museum di Bali yang terdaftar di Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali. Dari 19 itu, yang aktif ada 16 museum dan diluar yang tercatat itu, masih ada 35 museum lagi yang belum tercatat. Mas @senirupa sendiri berkata secara hitungan kasar ada 15 museum dan yang pantas dikunjungi ada 10 museum.


Nah, apabila kita diminta menyebutkan 5 saja dari jumlah total museum tadi dan masih merasa kesusahan (maksudnya, masih pake mikir dulu gituloh), saya menganggapnya wajar. Saya sendiri belum menemukan buku yang mendokumentasikan – dari ‘lifestyle’ point-of-view (maksud saya ‘dengan bahasa yang mudah dicerna – ibu-ibu juga ngerti gituloh) mengenai ‘Apa saja museum di Bali, lokasinya di mana saja dan karya-karya kelas dunia apa yang dimiliki oleh museum tersebut’ (kalau boleh, seniman yang menghasilkan karya itu diulas sedikit). Kalau ada buku seperti ini, yang diulas dengan bahasa yang mudah dicerna dan jadi coffee table book yang keren untuk jadi penghias meja tamu di rumah, sudah pasti saya akan jadi orang pertama yang memesannya. Saya memiliki beragam buku yang keren (setidaknya untuk dipajang di rumah) mengenai kolektor-kolektor seni terkemuka di Indonesia (siapa saja mereka dan apa saja karya yang mereka koleksi) sampai buku tentang ulasan per-museum (dalam artian tidak secara keseluruhan) mengenai museum di Bali, tapi tidak ada yang memetakan museum secara keseluruhan. Saat ini saya sedang mencari satu buku yang lumayan terkenal, namanya : “Treasures of Bali - A Guide to Museums in Bali ” (Gateway Books International, the UK along with Bali Museum Association (Himusba) – 2006). Kalau teman-teman ada yang tahu belinya di mana (tergolong langka soalnya) kabari saya ya.


Kenapa musti ke Museum kalau ke Bali?

Salah satu karya I Gusti Nyoman Lempad di Puri Saren, Ubud

Salah satu karya I Gusti Nyoman Lempad di Puri Saren, Ubud

Kita bangga kalau di Bali melihat peristiwa Ngaben, mengunjungi Pura atau objek wisata indah lainnya, atau kalau untuk anak muda, pergi ke bar dan lounge yang ternama dan mendapat banyak rekomendasi dari teman-teman lain. Mungkin sudah saatnya mempertimbangkan mengunjungi Museum. Percaya deh, setelah beberapa kali ke Bali dan mengunjungi museum di Bali, saya bahkan mengunjungi museum yang sama sebanyak dua kali, tanpa diminta, semata-mata karena penasaran , karya siapa lagi yang kali ini ditampilkan disana dan masih banyak yang lainnya.


Halaman Depan Museum Pasifika (Photo : Da Vinci Magazine)

Halaman Depan Museum Pasifika (Photo : Da Vinci Magazine)

Di Nusa Dua saya beberapa kali mengunjungi Museum Pasifika. Museum ini didedikasikan untuk membagi pengetahuan sejarah dan memamerkan berbagai karya seni dari Asia Pasifik dengan menempatkan Indonesia dan khususnya Bali sebagai pusatnya. Beberapa karya seniman ternama seperti Theo Meier, Miguel Covarubias dan masih banyak lagi terpajang dengan indahnya di Museum ini. Tulisan saya mengenai museum ini bisa dilihat di tulisan blog saya dengan judul “Theo Meier ; Seniman Swiss yang Jatuh Cinta pada Bali.”



Di Ubud sendiri, saya juga beberapa kali mengunjungi Museum Rudana, yang banyak memamerkan dan mempromosikan karya seni berupa lukisan dan patung karya seniman Bali. Di antara karya seni yang dipamerkan adalah karya dari I Gusti Nyoman Lempad, Nyoman Gunarsa, Made Wianta,seniman Indonesia di luar Bali seperti Affandi, Basuki Abdullah, Srihadi Soedarsono, Sunaryo Sutono, maupun seniman asing yang tinggal di Bali seperti Antonio Blanco dan Arie Smit.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali.

Apabila anda mengunjungi kedua museum ini, kesan ‘angker’ atau ‘kuno’ seperti yang anda bayangkan apabila mengunjungi museum pada umumnya, langsung musnah seketika. Yang and dapatkan adalah museum yang tertata apik bagai art-space atau art-gallery, yang sangat terawat, dengan pendingin udara yang sejuk dan guide yang fasih menjelaskan mengenai karya-karya dalam berbagai bahasa. Biaya masuk museum pun relatif terjangkau, dibandingkan dengan usaha kedua pemiliknya dalam menghadirkan karya-karya besar tadi ke hadapan mata anda. Sungguh sebuah pengalaman ‘kembali ke masa lalu’ yang nyaman dan menyenangkan. Anda harus mencobanya, bener deh, jewer kuping saya kalau bohong…hehehe…..


Museum Puri Lukisan dan Museum Marketing 3.0

Dari keterangan yang saya peroleh dari website MarkPlusInc, Pulau Bali itu diibaratkan seperti bawang, berlapis-lapis. Lapisan luarnya adalah Kuta dan Nusa Dua, sedang lapisan terdalamnya adalah Ubud. Ubud adalah jiwa dan inti dari Pulau Bali, lengkap dengan kehangatan, keramahan, begitu otentik – selaras dengan DNA Pulau Bali.


Ubud mempunyai jiwa, atau ‘taksu’ (begitu orang Bali biasa menyebutnya), sebagai kekuatan yang tidak bisa kita lihat, yang membuat semua orang yang datang berkunjung merasa lahir kembali. Barangkali karena ‘taksu’ ini tadi, pelukis kenamaan mancanegara betah datang dan menetap di pulau bali sejak tahun 1930-an. Hal ini tidak lepas dari usaha ‘marketing’ yang dilakukan oleh Raja Ubud pada masa itu. Brand ‘Ubud’ telah berhasil memarketingkan seluruh Pulau Bali dan menularkan unsur taksu ke para seniman besar tadi. Barangkali itu juga yang membuat nama-nama seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet lantas menjadi teman dekat keluarga kerajaan Puri Saren, termasuk Tjokorda Gde Agung Sukawati (1910-1978). Pada tahun 1936, bersama mereka membentuk perkumpulan seniman Pita Maha dan pada tahun 1953, membentuk Yayasan Ratna Wartha dan lantas membentuk Museum Puri Lukisan pada tahun 1956.



Kenapa saya membahas Museum Puri Lukisan dan Museum Marketing 3.0 ini secara khusus dalam satu section dalam tulisan ini? Karena saya baru saja mengunjungi 2 Museum ini minggu lalu, pastinya – dan juga karena saya sudah beberapa kali mengunjungi Museum Puri Lukisan dalam beberapa waktu terakhir ini. Terakhir saya ke Museum Puri Lukisan memang tahun 2008, namun itu sudah kunjungan yang ke 3 kalinya. Dan kesan ‘tua’ dan ‘serius’ memang yang saya dapatkan apabila ke Museum Puri Lukisan, tapi memang itu yang saya sukai dari museum tertua di Ubud ini.


Halaman Depan Museum Puri Lukisan, Ubud - Bali

Halaman Depan Museum Puri Lukisan, Ubud - Bali

Di museum ini bisa dinikmati perkembangan seni rupa di Ubud, baik seni lukis maupun seni pahat. Ada juga beberapa karya dari para seniman asing yang berkarya di Ubud seperti: Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smit serta maestro lain seperti I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made dan yang lainnya.


Buku "Pioneers of Balinese Paintings" oleh DR. Helena Spanjaard

Buku "Pioneers of Balinese Paintings" oleh DR. Helena Spanjaard

Saya ingat, terakhir kali saya datang ke Museum Puri Lukisan adalah karena waktu itu, Museum ini menggelar Pameran “Para Pelopor Seni Lukis Bali - Koleksi Rudolf Bonnet”, pada tahun 2008 silam. Kala itu saya mendapat kehormatan berkunjung dan ditemani oleh sang penulis buku sekaligus kurator pameran tersebut, Dr. Helena Spanjaard ; untuk dapat melihat berbagai karya seniman Rudolf Bonnet sebanyak lebih dari 60 lukisan Bali yang berasal dari periode 1929-1958 yang dipamerkan dalam kualitas prima. Selain itu juga ada beberapa karya dari nama-nama besar lainnya seperti I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat dan I Patera. Dr. Helena Spanjaard pun secara lugas bercerita mengenai proses peralihan dari pandangan etnografis ke sejarah seni dari seni Bali sejak tahun 1920. Anda dapat membaca secara lengkap kisahnya dalam buku yang berjudul Pioneers of Balinese Painting: The Rudolf Bonnet Collection”. Ketika ia menandatangani buku saya, secara spontan saya berkata dalam hati, suatu saat kalau punya anak, saya akan mewariskan buku itu kepadanya (hehehe…..optimis kan boleh). Kala itu saya ingat, saya berfoto di depan pohon besar di halaman museum ini. Dan memang beberapa tamu yang hadir pada waktu itu, banyak sekali turis mancanegara (umumnya kebangsaan Belanda) yang jauh-jauh berkunjung ke Bali, demi melihat pameran ini.

Bagian dalam Museum Marketing 3.0

Bagian dalam Museum Marketing 3.0

Di dalam kompleks Museum Puri Lukisan, terdapat satu Museum yang baru diresmikan sejak Mei 2011 lalu. Nama lengkap museum tersebut  adalah “Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati”.  Namanya begitu, karena almarhum Tjokorda Gde Agung Sukawati (Last King of Ubud) adalah ayahanda dari ketiga Tjokorda dari Puri Saren yang dulu memang melakukan Marketing 3.0 untuk Ubud. Ketiga Tjokorda itu adalah Tjokorda Gde Putra Sukawati (CEO, Grup. Tjampuhan), yang merupakan “Pengelingsir Puri Saren”, Tjokorda Gde Oka Sukawati (Bupati Gianyar) dan Tjokorda Gde Raka Sukawati, seniman serba bisa yang menulis thesis “Spiritual Marketing” di Program Pasca Sarjana Universitas Udayana.


Kompleks Museum Puri Lukisan di jalan Raya Ubud milik Keluarga Puri Saren yang merupakan Museum tertua di sana, diputuskan menjadi tempat dari Museum Marketing 3.0. Keluarga Puri Saren menyumbang bangunan fisiknya, sesuai dengan pesan mendiang Tjokorda Gde Agung Sukawati sebelum ia meninggal kepada anak-anaknya untuk mengembangkan Museum Puri Lukisan dengan memuat perjalanan keluarganya juga cerita pemasaran brand “ubud” ke dunia sejak tahun 1930an.


Para penggagas Museum Marketing 3.0

Para penggagas Museum Marketing 3.0

Sesuai dengan namanya, museum ini menampilkan berbagai kisah dari praktik-praktik Marketing yang telah dilakukan oleh berbagai individu atau perusahaan yang mempunyai jiwa dan semangat 3.0, nilai spiritual yang berakar kepada ‘people, planet and prosperity’. Semua objek wisata Ubud pada umumnya masih menjaga ketat unsur spiritualnya. Maka itu pemilihan lokasi museum ini tidaklah salah, sebab aplikasi marketing kuno telah dilaksanakan oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati dengan membuat seniman-seniman mancanegara tadi singgah dan akhirnya berbaur dengan masyarakat Ubud.


Membuat konsep “berkunjung ke museum tapi tidak membosankan” menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para insan penggagas museum saat ini. Kehadiran Museum Marketing 3.0 di Ubud menjadi ‘nafas baru’ bagi dunia museum di Indonesia. Kehadirannya tidak hanya menyuarakan bahwa ‘inilah praktik Marketing yang sebenar-benarnya’ kepada dunia, Marketing seperti layaknya ‘obat yang menyembuhkan konsumen’. Setiap konsumen mempunyai masalahnya masing-masing, mereka mempunyai rasa khawatir, aspirasi dan hasrat terhadap apa yang ingin mereka dapatkan dari suatu brand. Pemasar adalah tokoh yang ‘dapat menyembuhkan’ masalah-masalah psikis tadi dengan konsep marketing yang benar. Sebagai contoh yang dapat dilihat di museum ini adalah program marketing dari Apple, Facebook dan Twitter yang dengan beragam perspektif yang unik dapat menyediakan ‘solusi’ bagi konsumennya.



Penulis di dalam Museum Marketing 3.0

Penulis di dalam Museum Marketing 3.0

Museum sejatinya adalah tempat untuk menambah inspirasi, ilmu dan membuat kita selalu haus untuk kembali me-recharge diri terhadap ilmu pengetahuan yang dikandungnya. Sudah selayaknya kini kita mempertimbangkan alternatif lain untuk berwisata ke Pulau Bali.

Jadi, bagaimana teman? Sudah tertarikkah anda untuk berwisata museum di Bali?

####

Sumber :

  1. Markplusinc.com
  2. Buku “Ubud, A Short History of an Art and Cultural Center in Bali.” Jean Couteau, Adrian Vickers, Graeme MacRae and I Wayan Rai S. Editors : Bembi Dwi Indrio and Soemantri Widagdo. Published to coincide with the opening of The Ubud Cultural Heritage Center at the Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali.
  3. Buku : “Ubud, The Spirit of Bali.” Hermawan Kartajaya with Bembi Dwi Indrio. Penerbit : MarkPlusInc.
  4. Pengalaman pribadi penulis selama berkunjung ke Ubud beberapa kali sejak tahun 2007.

WONDERHOUSE - Inspirasi Setting Ruang Dari Kisah Alice in Wonderland

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Setting Ruang yang Terinspirasi dari Kisah Dongeng Alice in Wonderland dari Ajang Pameran “From Milan to Beijing 2010”

  • A Project by Architect : Livio Ballabio
  • Set Designer  : Alberto Stecca
  • In Collaboration with : Jumbo Collection
  • Event : From Milan To Beijing - 2010 (Beijing, China)

Lahir di Mariano Comense (Como) tahun 1964 dan lulus tahun 1994 dari “Politecnico di Milano”, sejak tahun 1994 hingga tahun 2000, Livio Ballabio banyak berkolaborasi dengan perusahan furniture ternama seperti Cappellini International, Jumbo Gruppo Italia, Mondo Srl. dan perusahannnya sendiri Ballabio di Ballabio.

Wonderhouse

“The Wonderhouse” adalah setting yang dibangunnya dalam ajang pameran “From Milan to Beijing” yang diprakarsai oleh Da Vinci Group, December 2010 lalu. Ini adalah murni sebuah pernyataan desain yang imajinatif, a fairy-tale house, yang menggunakan koleksi terbaru furniture Jumbo Gruppo (Italia) yang kebanyakan bernuansa Italian-Classic. Konsep awal ‘Wonderhouse’ terinspirasi oleh novel ciptaan Lewis Caroll – ‘The Adventures of Alice in Wonderland’ dan ‘Through the Looking Glass’ ; seakan muncul ke dunia nyata lewat pemahaman Livio yang berbeda dari lainnya.

Mengunjungi setting ‘Wonderhouse’ di pameran ini seakan memasuki dunia baru. Kita dibawa berpetualang dalam plot film seakan masuk ke dunia Alice. Kisahnya mengalir seperti dalam film garapan Tim Burton, perlahan kita dibawa masuk ke ruang-demi ruang bersetting indah; sungguh perpaduan dari kejeniusan si desainer yang dilengkapi dengan furniture berkualitas premium pilihan. Inti dasar dari presentasi Livio adalah bahwa gaya interior klasik dapat bergerak keluar dari kesan klise yang berat dan menjenuhkan, bahwa tidak ada batas dalam imajinasi bentuk dan tatanan ruang, yang semuanya menjadikan satu kesatuan, yaitu hunian sebagai pernyataan seni dari pemiliknya.

Wonderhouse dibagi menjadi tiga area tradisional, yaitu ruang tidur, ruang keluarga dan study room. Keseluruhan terdapat enam kamar yang murni terinspirasi dari setting episode kisah Alice in Wonderland.

“Purity or Passion?” The White Room


Kamar tidur yang terinspirasi dari kediaman tokoh ‘The White Queen’, figur yang enigmatik dari novel ‘Through the Looking Glass’. Sebuah kamar yang berlawanan gaya desain dari ‘The Red Room’ – seakan menjadi dua dunia kamar tidur yang bertolak belakang. Kamar tidur ini mengesankan citra yang bersih dan elegan dengan adanya penggunaan four-posts canopy bed yang terbungkus garland. Untuk mempresentasikan simbol ‘purity’ dan ‘spirituality’, seluruh bagian dinding kamar di buat dari kaca agar semakin menambah cahaya dalam kamar.

“Passion or Purity” The Red Room


Kebalikan dari The White Room, kamar tidur Queen of Hearts – salah satu figur yang utama dalam kisah “Alice in the Wonderland” ini ; didominasi oleh warna merah velvet yang hangat, seperti warna hati dalam barisan kartu; melambangkan sensualitas, semangat dan kemewahan. Setting didominasi ciri khas gaya French boudouir dengan furniture yang tak jauh berbeda dari The White Room, hanya saja lebih glamor dan lebih banyak menggunakan aksen berwarna emas.

“What Day is it Today?” The Dining Room or The Tea Room


Berlatar belakang suasana hutan, ruang makan ini merupakan ruang perayaan yang tidak pernah kehilangan esensi pesta walaupun tidak digunakan setiap hari. Meja makan terdiri dari beberapa meja yang ditata bersama, disertai dengan berbagai macam desain kursi yang berbeda-beda sehingga membentuk kesatuan yang unik. Sebagai penyatuan antara ‘ruang dalam’ dan luar, bagian lantai ditutupi oleh rumput artifisial khusus dan diatasnya digelar beberapa karpet secara berselang-seling. Sungguh merupakan kesatuan tata ruang yang berbeda dari biasanya.

“Can you give me some advice?” The Living Room or Caterpillar’s Lounge


Ini adalah lounge kecil tempat tokoh ‘Blue Caterpillar’ bercakap-cakap dengan Alice di kisah petualangannya. Didominasi warna biru yang melambangkan kemisteriusan tokoh Caterpillar, gaya Eastern yang kental tercermin dalam living room ini.

“Who Really Lives Here?” The Study Room


Study room ini mewakili aspek ‘khayal’ dari kisah Alice. Sebuah ruangan terdapat dibalik bingkai kaca super besar membiarkan kita melihat semua detail di baliknya – tapi melarang kita untuk memasuki ruangan tersebut, seakan-akan ruang tersebut hanya terdapat di dimensi lain. Diatas meja terdapat rangkaian kartu penuh dengan teka-teki permainan seperti dalam kisah Alice. Sebuah mosaik berwarna emas melambangkan ‘King and Queen of Hearts’ penguasa dunia khayal Alice.

####

Seluruh foto : Koleksi Da Vinci Indonesia

Laporan dari Singapura - Tips Menata Ulang Hunian dari Alan Rohwer

Author: ciscadv  //  Category: Arsitektur, Desain, Interior

The Exterior View

Rumah peristirahatan di Sentosa Cove - Singapura ini, telah didesain ulang oleh desainer dan luxury consultant terkemuka asal New York; Alan Rohwer. Palet warna yang lembut, material terbaik di segala aspek, langit-langit yang tinggi dan beachview di area Sentosa Cove menjadikan hunian elegan ini jadi sarana weekend getaway yang sempurna.


Tampilan hunian bergaya kontemporer menjadi pilihan gaya eksterior yang terbentuk dari pilihan warna yang didominasi warna putih dan pemakaian bahan kaca. Kolam renang sebagai sebuah center of attention dapat diakses dari ruang keluarga di lantai dasar. Hunian 3 tingkat ini memiliki open terrace di bagian rooftop-nya. Alan Rohwer sukses menjadikan hunian seluas 8000 sq ft tampak lebih luas dan mengundang siapa saja yang berkunjung dengan kehangatan keluarga.


Rohwer diberi kebebasan dari pemilik rumah untuk membuat perubahan artistik, juga kebebasan untuk memilih rangkaian furniture koleksi Da Vinci yang ia perlukan untuk menata ulang interior rumah dalam waktu tiga hari saja. Konsep Rohwer pada dasarnya adalah menyamakan suasana eksterior dengan interior hunian; maka ia memilih warna-warna natural yang menyelaraskan keseluruhan tampilan. Rohwer sendiri telah lama dikenal sebagai konsultan desain dan penataan interior selama 20 tahun, sukses menjalankan banyak proyek di Milan, Moscow, Beijing dan Singapura. Ia dipercaya oleh Donatella Versace untuk memberikan konsultasi penataan hunian; khususnya untuk lini aksesori hunian Versace Home.


Hasilnya adalah perpaduan dari tekstur dan warna yang membuat statement dramatis. Rohwer memulai prosesnya dari pemilihan beberapa item furniture yang iconic dari beberapa brand Da Vinci Luxury, diantaranya : Kenzo Maison, IPE Cavalli, Versace Home dan Fendi Casa. Khusus untuk hunian ini, pemilihan warna natural berkisar pada warna beige, hitam dan putih; pemilihan furniture pun mengikuti konsep warna tersebut.

Untuk ruang keluarga yang elegan, Rohwer memadukan Versace Home armchair, coffee table, karpet bulu yang mewah dan aksesori penunjang. Aksen diujung ruangan adalah coffee table Fendi Casa. Sebagai pelengkap dipilih koleksi bantal dari material sutra terbaik keluaran Versace Home berwarna hitam. Kesan feminin tercermin dari pemilihan rangkaian bunga anggrek putih sebagai sentuhan akhir. Hasilnya adalah ruang keluarga yang chic, tampak lapang, elegan namun dengan kesan ramah menyambut setiap tamu yang datang.

Pemilihan warna natural juga diimplementasikan di ruang makan, yang menampilkan Chandelier berwarna beige dengan bentuk oval dari IPE Cavalli. Khusus untuk area dapur bersih, dipilihkan kitchen set yang dibuat secara khusus dari Scavollini dengan warna hitam; sengaja untuk menyelaraskan warna di dinding dan lantai marmer dapur. Sebagai center of attention ruang makan, adalah mirrored dining table dari IPE Cavalli, yang secara nyata memisahkan ruangan makan dengan ruang keluarga. Area dapur dan ruang makan memiliki akses pemandangan tak terbatas ke arah ruang keluarga; menjadikannya suatu area entertainment terpenting bagi setiap pengunjung hunian tersebut.

Hunian ini dirancang untuk memberi pengalaman liburan bagi penghuninya. Maka apabila si pemilik sedang enggan beraktivitas diluar ruangan seperti di area kolam renang, maka mereka dapat menikmati hiburan di entertainment room. Entah sekedar membaca buku favorit atau menikmati sajian musik dan film dari home theatre, ruangan ini didesain untuk memanjakan segenap indera kita. Ada 2 sitting area di ruangan ini, salah satunya menggunakan sofa three-seaters keluaran Versace Home, lengkap dengan coffee table dan lampu sudut. Untuk area duduk yang lebih formal, diletakkan sebuah rak buku untuk membuat kesan ruang baca yang nyaman. Pemilihan bahan lantai kayu menambah kenyamanan dan aspek elegan dari ruangan ini.

Terpisah dari seluruh aktivitas ruangan lain, ruangan kamar tidur utama menjanjikan kenyamanan yang private. Dengan palet warna beige, coklat muda dan putih, atmosfer nyaman pun didapatkan. Disini pemilihan furniture bertema American Classic, seperti dari brand John Richards berperan penting. Karena elemen utama kamar ini adalah pemandangan langsung kearah laut, kebun yang hijau dan kolam renang di halaman belakang, maka peletakan furniture diatur sedemikian rupa agar tidak menutupi pemandangan spesial tersebut.

Mencermati pemilihan furniture dan aseksori pelengkap dalam hunian ini, sangat mudah memberi label ‘elegan dan glamor’ terhadapnya. Namun tetap kunci penataan bergantung pada keselarasan antara satu ruang dengan lainnya dan palet warna eksterior dan interior yang berpadu secara harmonis. Rohwer menciptakan sebuah hunian yang mencerminkan kepribadian sesungguhnya dari pemilik hunian, seperti layaknya rangkaian furniture yang dipilihnya. Hasil akhirnya adalah sebuah hunian idaman yang modern, elegan, mewah namun menyimpan sejuta kehangatan bagi siapapun yang tinggal di dalamnya.

Theo Meier ; Seniman Swiss yang Jatuh Cinta pada Bali

Author: ciscadv  //  Category: Museum, Travelling

Theo Meier (Foto : Kol. Museum Pasifika - Bali)

Goresan Tangan ‘Gauguin dari Swiss’ yang Jenius

Seorang pelukis terkemuka dunia, Paul Cezanne berpendapat bahwa alam adalah sumber inspirasi tanpa batas bagi seorang seniman dalam karyanya. Karya seni dalam kebanyakan wujudnya merupakan sebuah interpretasi paralel dari alam yang diabadikan melalui indera dan idealisme sang seniman, yang kemudian di ekspresikan melalui pendekatan tertentu sehingga menghasilkan karakter yang khas.

Theo Meier, salah seorang pelukis kenamaan Swiss, yang dijuluki “Gauguin dari Swiss” adalah salah satu seniman yang berkarya karena kecintaan pada alam dan kemurnian budaya Bali lewat sapuan kuasnya. Julukan demikian didapatnya karena lukisan karya Eugene Henri Paul Gauguin yang berkebangaan Perancis- sangat khas dengan bentuk yang sederhana dan warna yang cemerlang, hal ini secara tidak langsung memberikan pengaruh atas lahirnya primitifisme dalam seni modern, seperti layaknya lukisan ciptaan Meier. Beberapa lukisan Meier tersimpan dan dipresentasikan secara apik oleh Musium Pasifika di pulau dewata, Bali.

Terinspirasi dari kemurnian dan kesederhanaan alam Bali

Kelahiran Basle (Swiss) pada tahun 1908, Theo Meier mendapat beasiswa dari School of Art pada usia yang masih belia, dua puluh tahun. Setelah lulus dari sekolah, ia mencoba melukis wajah sebagai mata pencariannya. Inspirasi terbesar dalam lukisan-lukisannya adalah gaya hidup dan karya-karya seni dari Paul Gauguin. Ia sempat berkunjung ke Tahiti dan Singapura sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di Bali pada tahun 1936. Di pulau inilah ia menemukan ciri khas sendiri dalam melukis, dengan memutuskan untuk keluar dari norma-norma baku dan kembali ke kesederhanaan, kemurnian dan sesuatu yang alami. Ia melukis dengan goresan kuas yang sungguh-sungguh berasal dari dalam hati dengan perpaduan warna yang ekspresif. Beberapa pengamat seni mengatakan kalau lukisannya kebanyakan menggambarkan aspek emosional sang seniman.

Di Bali, Meier menetap di Sanur dan menikah untuk pertama kalinya dengan Made Mulungan dan menjalin pertemanan dengan beberapa seniman asal luar negeri lain yang tinggal di Bali, diantaranya Walter Spies, Jean Adrien Le Mayeur de Merprès, Willem Gerard Hofker, Emilio Ambron, Auke Sonnega, Han Snel, Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, Renato Christiano, Donald Friend dan beberapa seniman lainnya. Ia juga menjadi teman baik Ida Bagus Nyoman Rai. Di era penjajahan Jepang dan setelah perang berakhir, ia tinggal di daerah Saba dan kemudian menetap di Iseh, di lereng gunung yang dikeramatkan masyarakat Bali - Gunung Agung dan mendirikan rumah dan studio melukisnya. Tahun 1942, Meier menikah untuk kedua kalinya dengan Made Pegi, seorang gadis Bali yang juga model lukisan favoritnya.

Pada tahun 1955, Meier kembali ke Basle dan mengadakan pameran lukisannya. Desember 1959, ia diundang untuk mengunjungi teman baiknya, Pangeran Sanidh Rangsit di Thailand. Meier kemudian memutuskan untuk menetap di Hua Hin, dimana ia bertemu dengan calon istri ketiganya, seorang gadis Thailand bernama La-iad (Jettli) – dan menikah pada tahun 1964. Pasangan tersebut menetap di Chiang Mai dan membangun rumah bergaya tradisional ditepi sungai Mae Ping.

Potret Bali dimata Theo Meier

‘Bali was the place

– there I was shaped

and there I became what I am today.’

Theo Meier, 1908-1982

Portrait of Tahitian Woman; Theo Meier; 1932 (Oil on Canvas 52 x 45 cm)

B

agi Theo Meier, berbagai ritual musik dan tari Bali serta khususnya, kecantikan dan sisi eksotis wanita Bali memberi inspirasi sebagian besar karyanya. Dalam sesi : ‘Magic of Bali : Beauty, Desire and Seduction’ dalam pameran memperingati 100 tahunnya (‘A Centenary Tribute to Theo Meier’/ yang juga diprarkasai oleh kurator tamu Georges Breguet) di Museum Pasifika, didedikasikan sebagai kekaguman Meier atas keelokan wanita Bali.

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno adalah salah satu teman baik Meier dan kolektor lukisannya. Dalam kunjungannya ke Swiss, Meier memberikan hadiah lukisan berjudul ‘Penari Rejang’ kepada sang proklamator. Hingga kini beberapa karya Meier menjadi koleksi khusus kepresidenan dan tersimpan apik di Istana Bogor.

Selama dua puluh tahun menetap di Thailand, ia sangat produktif menghasilkan karya-karya yang terinspirasi dua budaya; Bali dan Thailand, bahkan memadukan kedua budaya tersebut. Kisah hidupnya terhenti pada tanggal 19 Juni 1982, dimana ia menghembuskan nafas terakhir di sebuah rumah sakit di Berne, Swiss- karena penyakit kanker.

Musium Pasifika dan penghargaan atas karya Theo Meier

Two young Balinese Sitting; Theo Meier; 1941, Oil on Canvas 88 x 74 cm

‘A Collection is not just a group of beautiful paintings,

but it is an ensemble of artwork

with a common thread

binding it all together.’

– Philippe Augier, Founder of the Pasifika Museum, Nusa Dua, Bali-

W

arisan seni dari Theo Meier diberi kehormatan untuk dipamerkan dalam sebuah pameran peringatan 100 tahunnya di Musium Pasifika yang terletak di Nusa Dua, Bali bulan April 2008 lalu. Memamerkan lebih dari 70 karya Meier, kebanyakan diantaranya adalah lukisan cat minyak yang dibuat olehnya sejak tahun 1929 hingga 1982 yang dikerjakan selama perjalanan hidupnya di Eropa, Tahiti, Bali dan Thailand. Kebanyakan karya Meier yang dipamerkan adalah pinjaman dari beberapa musium ternama dan koleksi pribadi dari berbagai negara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Swiss dan untuk pertama kalinya dipamerkan ke publik.

Terletak di komplek Nusa Dua, bagian Selatan pulau Bali, Indonesia, Musium Pasifika dibangun diatas tanah seluas 12.000 m2, terdiri dari 8 paviliun dan 11 ruangan untuk pameran berbagai karya seni. Musium ini mempunyai sekitar 600 karya seni dari 200 seniman yang berasal dari Indonesia, Melanesia Pasifik dan Polinesia, Indochina Peninsula dan beberapa negara lain di Asia.

Musium ini didedikasikan untuk membagi pengetahuan sejarah dan memamerkan berbagai karya seni dari Asia Pasifik dengan menempatkan Indonesia dan khususnya Bali sebagai pusatnya. Berbagai seniman ternama seperti Le Mayeur, Antonio Blanco dan Renato Christiano sempat tinggal di Tahiti sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di Indonesia, mereka tidak pergi ke wilayah Asia lainnya. Seniman lain seperti Emilio Ambron atau Roland Strasser sering berkunjung ke Bali, Cina, Jepang dan Kamboja, tapi tidak berkunjung ke wilayah Pasifik lainnya. Hanya dua seniman, Miguel Covarrubias dan Theo Meier yang mengunjungi Tahiti namun akhirnya menetap di Bali. Theo Meier adalah seniman pertama yang menjadi ikon pembukaan pameran perdana musium ini sejak pertama kali dibuka untuk umum pada bulan Agustus 2006. Seperti dikatakan Miguel Covarrubias, musium yang inspiratif ini akan membawa tiap pengunjungnya kedalam petualangan sejarah seni lintas wilayah Asia Pasifik.

####

Credit title :

Musium Pasifika, Nusa Dua – Bali. Ph: +62-21 717 91535 atau +62-361 774 935, email: jktoff@indosat.net.id.

Seluruh foto : Courtesy of MUSEUM PASIFIKA - Nusa Dua, Bali.