Theo Meier ; Seniman Swiss yang Jatuh Cinta pada Bali
Author: ciscadv // Category: Museum, Travelling
|
|
Goresan Tangan ‘Gauguin dari Swiss’ yang Jenius
Seorang pelukis terkemuka dunia, Paul Cezanne berpendapat bahwa alam adalah sumber inspirasi tanpa batas bagi seorang seniman dalam karyanya. Karya seni dalam kebanyakan wujudnya merupakan sebuah interpretasi paralel dari alam yang diabadikan melalui indera dan idealisme sang seniman, yang kemudian di ekspresikan melalui pendekatan tertentu sehingga menghasilkan karakter yang khas.
Theo Meier, salah seorang pelukis kenamaan Swiss, yang dijuluki “Gauguin dari Swiss” adalah salah satu seniman yang berkarya karena kecintaan pada alam dan kemurnian budaya Bali lewat sapuan kuasnya. Julukan demikian didapatnya karena lukisan karya Eugene Henri Paul Gauguin yang berkebangaan Perancis- sangat khas dengan bentuk yang sederhana dan warna yang cemerlang, hal ini secara tidak langsung memberikan pengaruh atas lahirnya primitifisme dalam seni modern, seperti layaknya lukisan ciptaan Meier. Beberapa lukisan Meier tersimpan dan dipresentasikan secara apik oleh Musium Pasifika di pulau dewata, Bali.
Terinspirasi dari kemurnian dan kesederhanaan alam Bali
Kelahiran Basle (Swiss) pada tahun 1908, Theo Meier mendapat beasiswa dari School of Art pada usia yang masih belia, dua puluh tahun. Setelah lulus dari sekolah, ia mencoba melukis wajah sebagai mata pencariannya. Inspirasi terbesar dalam lukisan-lukisannya adalah gaya hidup dan karya-karya seni dari Paul Gauguin. Ia sempat berkunjung ke Tahiti dan Singapura sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di Bali pada tahun 1936. Di pulau inilah ia menemukan ciri khas sendiri dalam melukis, dengan memutuskan untuk keluar dari norma-norma baku dan kembali ke kesederhanaan, kemurnian dan sesuatu yang alami. Ia melukis dengan goresan kuas yang sungguh-sungguh berasal dari dalam hati dengan perpaduan warna yang ekspresif. Beberapa pengamat seni mengatakan kalau lukisannya kebanyakan menggambarkan aspek emosional sang seniman.
Di Bali, Meier menetap di Sanur dan menikah untuk pertama kalinya dengan Made Mulungan dan menjalin pertemanan dengan beberapa seniman asal luar negeri lain yang tinggal di Bali, diantaranya Walter Spies, Jean Adrien Le Mayeur de Merprès, Willem Gerard Hofker, Emilio Ambron, Auke Sonnega, Han Snel, Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, Renato Christiano, Donald Friend dan beberapa seniman lainnya. Ia juga menjadi teman baik Ida Bagus Nyoman Rai. Di era penjajahan Jepang dan setelah perang berakhir, ia tinggal di daerah Saba dan kemudian menetap di Iseh, di lereng gunung yang dikeramatkan masyarakat Bali - Gunung Agung dan mendirikan rumah dan studio melukisnya. Tahun 1942, Meier menikah untuk kedua kalinya dengan Made Pegi, seorang gadis Bali yang juga model lukisan favoritnya.
Pada tahun 1955, Meier kembali ke Basle dan mengadakan pameran lukisannya. Desember 1959, ia diundang untuk mengunjungi teman baiknya, Pangeran Sanidh Rangsit di Thailand. Meier kemudian memutuskan untuk menetap di Hua Hin, dimana ia bertemu dengan calon istri ketiganya, seorang gadis Thailand bernama La-iad (Jettli) – dan menikah pada tahun 1964. Pasangan tersebut menetap di Chiang Mai dan membangun rumah bergaya tradisional ditepi sungai Mae Ping.
Potret Bali dimata Theo Meier
‘Bali was the place
– there I was shaped
and there I became what I am today.’
Theo Meier, 1908-1982

|
B |
agi Theo Meier, berbagai ritual musik dan tari Bali serta khususnya, kecantikan dan sisi eksotis wanita Bali memberi inspirasi sebagian besar karyanya. Dalam sesi : ‘Magic of Bali : Beauty, Desire and Seduction’ dalam pameran memperingati 100 tahunnya (‘A Centenary Tribute to Theo Meier’/ yang juga diprarkasai oleh kurator tamu Georges Breguet) di Museum Pasifika, didedikasikan sebagai kekaguman Meier atas keelokan wanita Bali.
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno adalah salah satu teman baik Meier dan kolektor lukisannya. Dalam kunjungannya ke Swiss, Meier memberikan hadiah lukisan berjudul ‘Penari Rejang’ kepada sang proklamator. Hingga kini beberapa karya Meier menjadi koleksi khusus kepresidenan dan tersimpan apik di Istana Bogor.
Selama dua puluh tahun menetap di Thailand, ia sangat produktif menghasilkan karya-karya yang terinspirasi dua budaya; Bali dan Thailand, bahkan memadukan kedua budaya tersebut. Kisah hidupnya terhenti pada tanggal 19 Juni 1982, dimana ia menghembuskan nafas terakhir di sebuah rumah sakit di Berne, Swiss- karena penyakit kanker.
Musium Pasifika dan penghargaan atas karya Theo Meier

‘A Collection is not just a group of beautiful paintings,
but it is an ensemble of artwork
with a common thread
binding it all together.’
– Philippe Augier, Founder of the Pasifika Museum, Nusa Dua, Bali-
|
W |
arisan seni dari Theo Meier diberi kehormatan untuk dipamerkan dalam sebuah pameran peringatan 100 tahunnya di Musium Pasifika yang terletak di Nusa Dua, Bali bulan April 2008 lalu. Memamerkan lebih dari 70 karya Meier, kebanyakan diantaranya adalah lukisan cat minyak yang dibuat olehnya sejak tahun 1929 hingga 1982 yang dikerjakan selama perjalanan hidupnya di Eropa, Tahiti, Bali dan Thailand. Kebanyakan karya Meier yang dipamerkan adalah pinjaman dari beberapa musium ternama dan koleksi pribadi dari berbagai negara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Swiss dan untuk pertama kalinya dipamerkan ke publik.
Terletak di komplek Nusa Dua, bagian Selatan pulau Bali, Indonesia, Musium Pasifika dibangun diatas tanah seluas 12.000 m2, terdiri dari 8 paviliun dan 11 ruangan untuk pameran berbagai karya seni. Musium ini mempunyai sekitar 600 karya seni dari 200 seniman yang berasal dari Indonesia, Melanesia Pasifik dan Polinesia, Indochina Peninsula dan beberapa negara lain di Asia.
Musium ini didedikasikan untuk membagi pengetahuan sejarah dan memamerkan berbagai karya seni dari Asia Pasifik dengan menempatkan Indonesia dan khususnya Bali sebagai pusatnya. Berbagai seniman ternama seperti Le Mayeur, Antonio Blanco dan Renato Christiano sempat tinggal di Tahiti sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di Indonesia, mereka tidak pergi ke wilayah Asia lainnya. Seniman lain seperti Emilio Ambron atau Roland Strasser sering berkunjung ke Bali, Cina, Jepang dan Kamboja, tapi tidak berkunjung ke wilayah Pasifik lainnya. Hanya dua seniman, Miguel Covarrubias dan Theo Meier yang mengunjungi Tahiti namun akhirnya menetap di Bali. Theo Meier adalah seniman pertama yang menjadi ikon pembukaan pameran perdana musium ini sejak pertama kali dibuka untuk umum pada bulan Agustus 2006. Seperti dikatakan Miguel Covarrubias, musium yang inspiratif ini akan membawa tiap pengunjungnya kedalam petualangan sejarah seni lintas wilayah Asia Pasifik.
####
Credit title :
Musium Pasifika, Nusa Dua – Bali. Ph: +62-21 717 91535 atau +62-361 774 935, email: jktoff@indosat.net.id.
Seluruh foto : Courtesy of MUSEUM PASIFIKA - Nusa Dua, Bali.
Tags: Museum



Juni 21st, 2011 at 4:45 PM
dashyat lah ini. tulisannya dewa banget.. eh masukin walter spies dong.. kan kita sudah numpang di tempetnya kemarinn
[Reply]
ciscadv Reply:
Juni 21st, 2011 at 5:49 PM
Iye, gue akan tulis. Tapi Museum itu sejatinya bukan sesuatu yang komersil. Jadi biasanya gue cari angle yang berbeda. Seperti : Koleksinya apa dan siapa senimannya - terus gue tulis tentang seniman itu - terus baru masuk ke Museumnya. Nah kalau Museum Marketing ; itu udah ketauan banget pasti ‘tulisan berbayar’, cuma eh….ya tulisan ini juga berbayar sih….lah gimana gue jadi bingung sendiri…..hahahahahahah!!! *CTARRRR!!!!* (suara cambuk -red) ;P
[Reply]
Juni 21st, 2011 at 5:36 PM
sekarang gue tau kenapa elu diundang wakakakak
*ditabok pake tas elle*
[Reply]
ciscadv Reply:
Juni 21st, 2011 at 5:51 PM
TET! Salah besar loe! Gue kemarin diajak sebagai cheerleader aja, supaya loe pada ada yang dicela-cela kalo gak ada wifi…..hahahaha. APA?? ELLE?????!! EBUSETTTT….TAS GUE KEMAREN ‘CELINE’……huuaaaaaaaaa *nangis di pojokan kantor-red* (Cambuk Rara 200 kali aja!!!) ;/
[Reply]
Juni 21st, 2011 at 5:39 PM
wahh sering k bali tp ngga prnh maen k museum ini
next time hrs djadwalin ahh
[Reply]
ciscadv Reply:
Juni 21st, 2011 at 5:53 PM
Harus donk, kalau kesana sebut nama saya 3 kali sambil teriak ya!! *Gak ngaruh juga sih, yang ada paling situ dijewer petugasnya gara2 teriak2 di museum….hehehe * ;P
[Reply]
Juni 21st, 2011 at 10:59 PM
saya ke bali aja baru sekali hahaha..
[Reply]
ciscadv Reply:
Juni 22nd, 2011 at 6:03 PM
Berarti akan kembali lagi berkali-kali….aminnn…
[Reply]
Juni 22nd, 2011 at 12:02 AM
di tunggu aja….
[Reply]
Juni 22nd, 2011 at 9:17 AM
lain kali klu ke Bali……..ke musium ahhh
[Reply]
ciscadv Reply:
Juni 22nd, 2011 at 6:03 PM
Iya dong, di Bali buanyak banget museumnya. Mustinya dibuat peta musiumnya. Ada banyak dan semuanya bagus2….nanti saya tulisin tentang musium lagi ya….
[Reply]
Desember 7th, 2011 at 3:03 AM
nbsp;ciscadv.blogdetik.com is my number one site
motorola xoom giveaway
[Reply]
Desember 29th, 2011 at 8:44 AM
hidup itu pilihan yg indah
[Reply]
Februari 16th, 2012 at 9:52 AM
karya-karya yang sangat luar biasa.
[Reply]