Kata Mereka Tentang Cisca

22 Aug 2011

Beberapa cuplikan dari media….

(1)

Francisca Prandayani : Menjadikan PR Divison Sebagai Profit Center

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Mix (Oktober 2008), link: http://mix.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=246&Itemid=32

Francisca Prandayani mencoba mengubah paradigma divisi public relations (PR) sebagai cost center menjadi PR sebagai profit center dan investasi jangka panjang perusahaan.

Ditulis Oleh: Akmar Afandi; Foto: Ihsan Sulaiman

Francisca Prandayani, begitu nama lengkap Public Relations Manager Da Vinci Indonesia, perusahaan penyedia produk-produk furniture dan properti premium. Sarjana Ekonomi Universitas Katolik Atmajaya ini mengawali karirnya dengan bergabung dengan Markplus Inc. sebagai salah satu Business Executive dari Meleage Communications, konsultan Public Relations perpanjangan tangan Markplus.

Sejalan dengan meningkatnya kepercayaan klien, MarkPlus kemudian mempromosikan Francisca menjadi Public Relations Analyst. Saya tidak pernah belajar ilmu PR sebelumnya, semuanya learning by doing dan sharing dengan para senior-senior saya, ujar Cisca, begitu wanita kelahiran 25 tahun silam ini. biasa disapa.

Memutuskan mengakhiri tugas di MarkPlus, Cisca lalu bergabung dengan Agrakom PR and Communications. Menurut Cisca, di Agrakom inilah dia lebih punya kesempatan untuk mengasah knowleage di bidang kehumasan. Experience might be the best teacher dan saya pun semakin mencintai profesi ini dan sadar bahwa passion saya memang disini, tegasnya.

Bagi Cisca, PR is creativity karena dunia PR, katanya, penuh dengan tantangan yang menuntut kreativitas. Bergelut di PR juga, lanjut Cisca, membuka kesempatan baginya untuk meng-update knowledge sebanyak mungkin. Di samping itu, lanjutnya, ada kepuasan tersendiri kalau program-program kerja yang kita tawarkan kemudian menjadi solusi bagi perusahaan yang menerapkannya. Pada dasarnya kita harus benar-benar menggunakan kemampuan untuk think out of the box, ujarnya membagi rahasia suksesnya.

Dalam menjalani hari-harinya sebagai PR people, Cisca mengaku selalu optimistis. Dengan cara seperti itu, lanjutnya, semua project-nya berpeluang menjadi golden moment baginya. Bagi Cisca sendiri, salah satu golden moment-nya adalah saat dia dipercaya untuk membangun divisi PR untuk Da Vinci.

Saya diberikan kepercayaan untuk me-manage semua aktivitas komunikasi perusahaan dan pada akhirnya mengubah paradigma lama, PR is a cost center, menjadi PR Divison as the profit center dan untuk long term investment perusahaan, ujar Wanita kelahiran Jakarta ini.

Dalam menanggani strategi PR di Da Vinci, Cisca mengedepankan konten publikasinya ke arah customer education. Tentu saja Cisca juga tidak melupakan hal-hal yang bersifat lebih ke arah strategic marketing communication. Jadi, selain menangani urusan media relations, Cisca juga meng-handle community relations dan event management. Intinya, bagi saya dalam melakukan strategi PR kita harus memainkan dua faktor, yaitu field implementation dan strategic level, tegasnya. Cisca bercerita bahwa program-program PR-nya dirancang untuk memberi efek new image bagi Da Vinci.

(2)

My Jakarta: Cisca, Da Vinci PR Manager

Tulisan ini pernah dimuat di The Jakarta Globe, 22 Agustus 2009 ; link : http://www.thejakartaglobe.com/city/my-jakarta-cisca-da-vinci-pr/325304

Most girls would kill for Ciscas job, and she knows it. Theyve told her so. But this line of work isnt for everyone. It takes a special something to get to the top at just 26 years old.

Ciscas attention to detail sets her apart from the pack, and her knowledge of the luxury market in Asia is second to none. But you wouldnt expect anything less from the public relations manager for Da Vinci.

This Atma Jaya alumnus can tell you how many stairs there were in the lighthouse she climbed last week or the advantages of impulse buying in the jewelry market. Because when you cater to Jakartas creme de la creme, your attention to detail and your ability to impress isnt just part of the job; its a way of life.

Whats a typical day like for you?

I answer e-mail messages and check on PR activities for Indonesia. I also support the PR work in several other countries. Im busy creating strategies and editing, because we also have a Da Vinci magazine. Each country also works on distribution, monitoring marketing tools and brand awareness.

How have you worked to change the concept of PR?

Most people think that the PR division is about cost, and I wanted to change it into a profit center. We work with several luxury companies, such as automotive companies. We create publicity, and then this means that our customers are happy.

Are you in the office all the time or do you get a chance to travel much?

The last event I was at was in China I was there for the launch of Da Vinci Shanghai. We have seven stores in China.

Do you travel quite a bit?

Not much. They have their own division, so when I am there it is to oversee and support their preparations.

Which newspapers do you read every day?

Kompas, Business Indonesia and your competitor.

Can you talk a little bit about the Da Vinci concept?

Were the number one lifestyle boutique in Asia. We sell a lifestyle concept, which makes us different from all the other furniture stores. We have two locations in Jakarta: One on Sudirman and the other is the Da Vinci luxury showroom at Grand Indonesia.

So its catering to an upscale market?

People say, Your clients are the creme de la creme, youre not serving those on a middle income. But what we think about is how to win the hearts share, not the market share. Its about the loyalty of our clients.

What about away from work? What do you do with your free time?

I would say I spend most of my time with my friends and family and my pets. I love dogs. Every time I see a stray puppy in the street, I just pull my car over and grab it. Finders keepers. But my dad says the puppies cant stay at home so I give them away [to Ragunan shelter]. I had 12 dogs once. Now I have two.

What about on the weekend?

I dont really have a weekend as I work on Saturdays, too. I only have Sunday to relax. You win some, you lose some. I like to travel. Last weekend I went to Pulau Edam it has a lighthouse. Its 130 years old and has 272 stairs. We went on a picnic and had ikan bakar [grilled fish]. I get a lot of invitations to do stuff during the week, but doing something where you dont have to dress up, put on makeup and wear high heels is important.

How do you stay on top of the competition?

The owner and management at Da Vinci are pretty much open to new things, fresh ideas. You want to become a trendsetter and to do that you have to be thinking about new ideas every day. Im the youngest in the management team. We have to have the ability to change. Its about implementing strategy that matches todays trends.

What challenges do you focus on?

Da Vinci has stayed as the leader of the industry for more than 10 years now, so the business has expanded, and we carry brands that are recognized worldwide and are becoming the hottest trends. An example is the furniture that weve had under the Da Vinci Luxury line, which is inspired by high fashion. The PR program will keep on focusing on how to maintain the brands integrity by maintaining our relationship with our customers. We are also hoping to implement customer education. It is about how we can always be foremost in the mind of our customers for luxury and lifestyle.

You seem focused on your career. Are friends and family pressuring you to get married?

I said to my dad, maybe Ill get married around 34, not like other Javanese girls, who get married at 23 or 24.

What do you do when you go out?

I have friends who are models, so we go to a lot of fashion shows. When we go out, were not dancing on tables. Some girls my age are thinking about makeup and going out to the mall. Im dont think like that anymore.

You work for a company associated with successful people. What do you think about success?

I never think about it like that. If you think youre successful, you get lazy. I give 100 percent and its up to other people to decide if Im successful or not. I mean, I know a lot of girls who would kill for this job, so that says something about success.

Cisca was talking to Zack Petersen.

(3)

@CiscaDV : Customer Inginkan Perlakuan Highly Customized

Tulisan ini pernah dimuat di blog Fanabis (Blogdetikcom), Juli 2011 : http://fanabis.blogdetik.com/2011/07/13/ciscadv-customer-inginkan-perlakuan-highly-customized/

perempuan ini menolak disebut sosialita. menurutnya di indonesia makna socialita sudah bergeser. makna sebenarnya sosialita itu harus tajir tujuh turunan, berdarah biru. dan dengan kemampuannya itu mereka menyumbang ke banyak society. sekarang bereser menjadi suka party-party, kawin dengan pejabat, muncul di foto-foto majalah aja atau anak orang kaya, ia menjelaskan semangat!

pertemuan pertama saya dengannya di meja makan waktu sarapan, ketika pergi ke ubud bersama para bloggers dan buzzer. perempuan yang selalu dress up ini bicaranya ekspresif, tidak jaim dan ramah. tidak ada bedanya dengan apa yang kita baca di garis waktu twitternya @CiscaDV. namun hal itu sangat kontras ketika ia menjawab hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaanya sebagai public relation manager da vinci asia.

pembicaraan di awali pertanyaanku yang cupu, cis tas kamu itu original atau palsu? perempuan yang bernama lengkap francisca prandayani ini lalu menjelaskan hal yang berhubungan dengan barang bermerek dan siapa-siapa saja para pemakainya. dari ceritanya saya baru tahu, tas dengan merek yang sama dengan yang dipakai gwyneth paltrow itu bersertifiktat.

ketika ia pergi ke mana saja, ia selalu membawa sertifikat tersebut. katanya di negara-negara eropa sering terjadi razia tas palsu. kalau sampai ketahuan, tas kw itu akan diganti dengan plastik kresek. ia tak ingin menderita malu seumur hidup gara-gara itu.

ia mengaku awalnya tidak suka tas bermerek namun lebih mementingkan fungsinya. sampai seorang sosialita memberinya tas chanel. ia merasakan bedanya memakai barang bermerek. sejak itu langsung suka membeli beberapa tas yang bisa dipakai baik ke kantor maupun acara sosial lainnya. sampai sekarang ia mempunyai 20an saja. jumlah tidak penting, yang penting itu kualitas. lebih baik punya sedikit tapi bermutu tinggi, daripada banyak tapi jarang dipakai. less is more, jelasnya.

cisca yang ngefans dono warkop ini mempunyai target membaca buku minimal satu buku sebulan. akhir-akhir ini kalau dapat beberapa buku yang bagus saya pakai sistem baca cepat, yang penting tahu intisarinya. sehingga kalau orang tanya nggak kuper-kuper amat gitu, katanya.

tampaknya dia juga suka melakukan perjalanan. di sela-sela kepergiannya ke beijing china, ia menjawab pertanyaan seputar pekerjaanya via email. di negeri tirai bambu itu ia menyaksikan haute couture show designer terkemuka dan juga pameran furniture luxury terbesar abad ini

apa kesibukan keseharian di kantor?

saya bertanggung jawab untuk program public relation (komunikasi eksternal dan internal perusahaan), juga kegiatan promotion dan advertising perusahaan. kadang saya juga bersama team sering diskusi mengenai marketing plan untuk ke-depannya.

divisi kami juga menangani aspek implementasi program sampai ke level event management. semua hal itu harus flexibel, termasuk program-programnya. namun yang lebih penting lagi adalah membuat program yang akan menjadi trendsetter, bukan mengikuti program pemasaran perusahaan lain.

bagaimana ceritanya bisa sampai menjadi pr?

lepas kuliah jurusan ekonomi marketing management atmajaya, saya bergabung dengan markplusinc. dari sini saya banyak belajar hal-hal mengenai ke-piar-an. saya memang tertarik dengan hal-hal yang berbau keindahan, fashion dan gaya hidup maka itu ketika diminta menangani da vinci sebagai klien pr perusahaan, saya merasa mengerjakannya dengan sepenuh hati.

pada dasarnya setiap industri membutuhkan divisi humas yang baik, terutama industri yang bergerak di bidang luxury / highend/niche market.

target market di sektor ini sangat sophisticated dan membutuhkan pendekatan yang berbeda. juga lebih menekankan pada unsur customer education agar pesan-pesan dari jasa/produk tersebut sampai ke target market yang tepat. selain itu fungsi pr juga dapat mendukung konsep marketing yang dimiliki perusahaan dengan program-program komunikasi yang dijalankan.

apa yang membedakan pr di industri luxury dengan pr industri lain?

pada umumnya, pr yang bekerja di industri luxury tentunya mempunyai pengetahuan yang lengkap mengenai background industrinya (dan industri disekitarnya). dia juga harus aware terhadap pertumbuhan ekonomi dan juga aspek-aspek sosial yang ada di kalangan industri high-end ini (ini penting untuk networking juga lho).

selain itu setiap program pr yang dibentuk hendaknya berorientasi kepada customer education lebih daripada sekedar menaikkan brand awareness (karena brand-brand luxury biasanya memiliki brand awareness yang sudah bagus, tinggal membentuk pemahaman di mata konsumen saja).

misalnya, kenapa produk ini harganya mahal? nah target market harus diberi informasi mengenai aspek craftmanship, cara pembuatan, materi, ekslusifitas dan banyak aspek lainnya. selain itu, para pelaku pr ini juga tentunya harus menjaga sikap dan manner, tahu cara mempresentasikan diri yang baik di hadapan publik (jadi orang tahu bahwa dia prominent bukan sekedar polesannya saja).

satu hal lagi, para pelaku pr industri luxury juga hendaknya tetap menjadi diri sendiri bukan berarti kita berada di area yang sulit untuk dijangkau oleh orang lain, pers misalnya. justru kita harus menjadi mudah untuk diakses oleh pers dan publik karena kita adalah ujung tombak komunikasi perusahaan.

hendaknya juga bagi yang menyukai pr di industri luxury juga harus mempelajari hal-hal lain semacam bahasa, keadaan pasar saham, sampai belajar cara menghadapi crisis management karena hal-hal semacam ini penting. berada di industry luxury bukan lantas kita bisa terlena dengan aspek luxury tadi. tantangannya tetap harus ada dan harus diolah setiap hari.

sudah seberapa berkembang ke-pr-an ttg industri luxury di indonesia?

sudah banyak perusahaan yang bergerak di industri luxury mempunyai divisi khusus atau setidaknya public relation untuk menangani kegiatan komunikasi mereka. namun jujur saya kadang sering merasa kurang terima kalau kata public relation juga digunakan dalam level yang setara dengan level host atau guest relation (kadang istilah ini dapat menjatuhkan profesi pr yang sebetulnya memiliki tingkatan yang lebih sophisticated daripada sekedar menjalin hubungan baik dengan pelanggan saja).

apa tantangan khususnya?

ada beberapa. sebagai pr kita dihadapkan pada tantangan setiap harinya. bagaimana membuat komunikasi produk/ servis sampai ke publik melewati semua chanel-chanel komunikasi yang ada secara maksimal. tantangan yang lebih khusus lagi adalah, pada umumya setiap perusahaan menginginkan semua program yang dijalankan memberikan hasil yang memuaskan dalam waktu singkat.

sedangkan pr adalah strategi yang sifatnya jangka panjang, jadi pr dihadapkan pada target yang harus dicapai dalam waktu singkat. nah, disinilah peran pr yang harus meyakinkan perusahaan bahwa pr division itu bukanlah sebuah cost center tetapi sebagai profit center.

banyak program-program pr yang kita buat tujuannya adalah untuk membantu aspek marketing dan sales perusahaan. dan sekali lagi, penting bagi pelaku pr untuk selalu belajar cara menghadapi crisis management, kemampuan ini harus dimiliki karena kita harus selalu waspada.

seberapa besar niche market ini? indonesia masih termasuk negara miskin kan?

pasar niche market di indonesia memang tidak sebesar di eropa atau negara asia yang lebih maju seperti misalnya di jepang dan china (dimana china sekarang menjadi patokan atau benchmark dari situasi industri luxury lainnya di asia).

memang para brand luxury tidak berlomba-lomba masuk ke indonesia seperti halnya di china, namun kita masih lebih beruntung karena kebijakan pemerintah tidak menghalangi industri tersebut bahkan mendukung. indonesia ini unik, dibilang negara miskin tapi yang punya duit masih banyak, hehehe

mungkin daya beli masyarakat beberapa tahun belakangan ini melemah, tapi pastinya akan meningkat di tahun yang akan datang. sementara itu bisa disiasati dengan inovasi produk menjadi ke affordable luxury misalnya, jadi bisa mengambil segmen menengah juga yang jumlahnya jauh lebih besar.

ada cerita menarik apa yang berhubungan dengan customer?

oh banyak, bisa tidak habis-habis ceritanya, hehe.. pada intinya setiap customer menginginkan perlakuan yang highly customized, yang berbeda satu dan lainnya. cara pendekatannya pun sangat personal. di sini kami punya team sales yang punya kebiasaan hafal seluruh karakteristik customernya, mulai dari ulang tahunnya kapan, ulang tahun istri dan anaknya, anaknya sekolah dimana, anaknya punya anak berapa dan masih banyak lagi.

kalau ada barang yang limited edition, pasti lebih cepat terjual daripada yang unlimited. barang yang di-diskon pun bahkan lebih lama terjual daripada yang tidak diskon sama sekali. karakter-karakter unik yang kita bisa temukan dalam target market di kelas ini beragam sekali dan semuanya sungguh menarik.

perempuan yang mengaku extrovert ini mempunyai kebiasaan yang unik. setiap ia melihat anak anjing terlantar ia akan membawanya pulang, memeliharanya. mereka bisa menjadi teman baik dan setia, katanya.

apa rencana kedepan?

tentu tidak semua orang ingin jadi karyawan. suatu saat pasti ingin jadi bos juga. sekarang ini saya bersama kawan-kawan sedang menjajaki bisnis kopi luwak, dengan tujuan utama lebih kepada membantu petani lokal di bandung.

kopi luwak adalah budaya dan bukan sekedar minuman asal indonesia saja. ini suatu tradisi yang harus dilestarikan. selain itu saya sedang menabung, kepingin punya bengkel cuci mobil khusus wanita. kenapa khusus wanita? karena saya sebagai pengemudi wanita, kadang susah mencari tempat cuci mobil yang buka sampai malam di jakarta, tanpa harus merasa tidak aman (banyak laki-laki yang suka menggoda, menaikkan harga sembarangan, dll).

saya kepingin punya modal untuk buat bengkel cuci mobil khusus wanita, yang benar-benar mengerti wanita gitu deh, suatu saat pasti bisa, doain ya.

**

perempuan yang suka mengoleksi majalah luar negeri ini mengaku kurang update terhadap teknologi. misalnya ia baru membeli handphone baru ketika yang lama kecemplung got.

i have never adjusted my life to technology. people can be so high-tech with their gadgets and stuff, but i choose to enjoy mine~@CiscaDV

(4)

WOMAN AT WORK : HOW TO BE A MUSEUM LOVER AND A FASHION SHOPPER


By : Syarasmanda Sugiartoputri

Tulisan ini pernah dimuat di Fimela.Com (Agustus 2011); link : http://www.fimela.com/read/2011/07/26/how-to-be-a-museum-lover-fashion-shopper?page=0,2

Selalu ramah saat bertemu dengan banyak orang adalah satu kebiasaan dan bagian pekerjaan perempuan kelahiran tahun 1983 ini. Melihat penampilannya yang selalu fresh, tim FIMELA.com mencoba mengulik lebih dalam pribadi seorang Francisca Prandayani. Foto, Windy Sucipto & dok pribadi

Bertempat di kantornya yang terletak di Jalan Jendral Sudirman, Da Vinci Tower, tim FIMELA.com berbincang-bincang dengan perempuan yang bekerja sebagai PR Manager Da Vinci. Bekerja di sebuah perusahaan yang mengusung nilai kemewahan, ternyata membuat Sisca harus selalu tampil on setiap saat. Semua orang saat berada di kantor memang harus rapi, tapi nggak harus selalu fashionable. Berpakaian rapi, baik menggunakan berbagai barang branded ataupun barang nonbranded sebenarnya adalah salah satu cara untuk menhargai diri kita sendiri. Bukankah kita juga lebih senang bertemu dengan orang rapi? ujar alumni Jurusan Ekonomi Universitas Katholik Atmajaya.

Penampilannya yang gres pun ditunjang dengan berbagai branded stuff yang menempel di tubuhnya. Ya, Sisca termasuk salah satu perempuan yang cukup menggilai barang-barang branded. Sebenarnya agak munafik ya kalau saya bilang nggak tertarik dengan berbagai branded stuff. Tapi, itu juga bukan berarti saya selalu membeli barang-barang bermerk. Untuk sesuatu yang akan saya pakai dalam jangka waktu lama dan dipakai setiap hari, saya pastinya akan memilih yang bermerk karena itu juga menyangkut image. Namun, kalau hanya untuk barang-barang dipakai sesaat dan mudah rusak, ya beli yang biasa aja nggak apa-apa. Dan sebenarnya ketika saya membeli barang-barang branded saya nggak serta merta membelinya supaya bisa pamer ke orang-orang. Salah satu misi saya membeli barang branded adalah untuk mewariskannya pada anak saya kelak. Dan sebenarnya, sebagai pengguna barang-barang bermerk, kita juga harus tahu mengapa sebuah benda bisa menjadi sangat mahal. Ini bisa kita ketahui dengan mencari tahu lebih lanjut filosofi di balik sebuah merk dan pembuatan benda tersebut, Sisca menjelaskan.

Memiliki berbagai benda dan aksesori dengan merk ternama, nggak lantas membuat Sisca menggila berbelanja dari satu butik ke butik lain setiap bulan. Saya memang suka barang-barang bermerk, tapi saya anti menggunakan kartu kredit untuk membayar barang yang saya beli karena saya nggak mau terbelit hutang kartu kredit. Saya biasanya hanya menggunakan kartu kredit saat berada di lounge bandara. Bahkan, karena kebiasaan saya ini, kartu kredit saya pernah dibekukan oleh sebuah bank. Untuk membeli sebuah tas bermerk, saya harus menabung lebih dahulu dan nggak jarang juga saya menabung dalam jangka waktu lama, 1 tahun misalnya. Pekerjaan saya masih seperti ini jadi maklum saja kalau saya harus menabung lama untuk bisa mendapatkan barang yang saya inginkan, ujar Sisca tertawa ringan.


Bertolak belakang dengan penampilannya yang selalu trendi dan modern, ternyata perempuan yang identik dengan gelang Hermes merah di tangannya ini nggak terlalu suka dengan hingar-bingar dan lebih memilih untuk berkunjung ke museum saat berkunjung ke berbagai tempat. Bahkan, ketika ke luar negeri pun penggemar Prada, Hermes, dan Louis Vuitton ini jarang berbelanja berbagai barang fashion. Ketika pergi ke luar negeri, supaya nggak terkecoh, kita harus tahu terlebih dahulu kebijakan politik di negara tersebut terhadap barang branded. Jadi, kita nggak sembarang beli setiap ke luar negeri. Dan sebenarnya, saya juga nggak terlalu suka belanja di luar (negeri). Kalau ke luar, saya lebih senang mengunjungi museumnya. Nggak perlu jauh-jauh deh, misalnya saja, saat berkunjung ke Bali. Ketika ke Bali, saya lebih memilih untuk datang ke Ubud dan mengunjungi museum-museum di sana dibandingkan harus jalan-jalan di daerah yang hanya dipenuh dengan hingar bingar tempat hiburan, Sisca menjelaskan.

Menurut Sisca, salah satu cara untuk mempelajari sebuah kebudayaan adalah dengan mengunjungi museum. Sebagai salah satu pengunjung rutin museum, Sisca lebih senang untuk mengunjungi “Ketika ke Bali, saya lebih memilih untuk datang ke Ubud dan mengunjungi museum-museum di sana dibandingkan harus jalan-jalan di daerah yang hanya dipenuhi dengan hingar bingar tempat hiburan.” museum yang dikelola oleh pihak swasta. To be honest, saya lebih suka mengunjungi museum yang dikelola swasta karena pihak swasta sudah sadar bahwa sebenarnya museum bukanlah sebuah tempat yang menakutkan dan mengelolanya dengan baik. Sebagai orang awam, tentunya saya ingin mendapatkan informasi tentang museum tanpa harus mencari sendiri di internet. Dan saya hanya mendapatkan itu dari museum-museum swasta, tutur Sisca sedikit serius.

Bali merupakan salah satu tempat favorit Sisca untuk mengisi liburan dengan mengunjungi berbagai museum. Dan sebagai salah satu penggemar museum, Sisca pun terkadang menyempatkan diri untuk mengikuti program Sahabat Museum. Terkadang kalau memang ada waktu, saya ikut program Sahabat Museum. Tapi, acara-acara seperti itu kan memerlukan waktu bebas sedangkan saya nggak selalu ppunya waktu bebas. Jadi, setidaknya setiap 4 bulan sekali lah saya meng-update berita seputar museum, ujarnya.

Selain museum, ada satu hobi unik lagi dari perempuan bertubuh tinggi ini, yakni memungut anjing-anjing, khususnya yang terlantar di pinggir jalan. Nggak tega melihat kondisi anjing dan kucing tak terurus yang tergeletak di pinggir jalan, Sisca pun selalu memungut dan merawat binatang tersebut di rumahnya.

Rekor terbanyak anak anjing yang pernah dirawatnya sebanyak 8 ekor. Saya suka memungut anjing-anjing kampung yang terlantar di pinggir jalan. Kenapa? Karena saya tahu nggak ada orang yang peduli sama anjing kampung. Orang lebih suka sama anjing-anjing ras. Coba, kalau kita mengaku manusia, bagaimana mana bisa seorang manusia tega melepaskan anak-anak anjing di pinggir “Saya nggak punya hobi berharga. Hobi saya memungut anjing-anjing liar yang nggak terurus di jalanan.”jalan? Bahkan, saya pernah menemukan anak anjing dalam karung yang terletak di tengah jalan tol. Mana yang lebih manusiawi antara si anjing dan si manusia, coba? Pernah di rumah saya ada 8 ekor anak anjing yang saya pungut, tapi karena rumah saya juga nggak memungkinkan untuk menampung semua anjing yang saya pungut, setelah dibersihkan dan dibawa ke dokter hewan, saya menyerahkan mereka pada yayasan kebun binatang di Ragunan supaya dirawat lebih baik, Sisca berbicara agak mencibir.


Nggak cuma anak anjing yang ia pungut dari jalan, anak-anak kucing yang terlantar juga menjadi buruannya. Saya nggak cuma memungut anak-anak anjing, kucing di jalan pun saya pungut. Cuma, karena di rumah lebih banyak anjing, saya biasanya lebih sering menyerahkan kucing-kucing itu ke yayasan kebun binatang. Sampai sekarang kalau saya ditanya orang apa hobi saya?, saya akan menjawab saya nggak punya hobi berharga. Hobi saya memungut anjing-anjing liar yang nggak terurus di jalanan, ujarnya.


TAGS


-

Author

Follow Me