Dating 101 : Bila Perpisahan Tidak Bisa Terjadi Baik-baik…

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Topik ini sensitif, tapi ya topik apa sih di blog ini yang nggak?! Perpisahan harusnya menjadi proses pembelajaran diri yang menyenangkan. Namun apa yang harus dilakukan apabila proses perpisahan tidak dapat terjadi secara baik-baik? #jleb #eaaa

"Lepaskan aku........"

When will you let go?


Berikut adalah jenis-jenis cara berpisah yang paling payah dan paling ajaib yang saya himpun berdasarkan kisah nyata (pakai nama samaran tentunya yaaa…., saya kan masih kepingin selamet setelah tulisan ini terbit, hehehehe…..)

1. Gaya Perpisahan : menyiksa diri atau merusak kredibiltas diri sendiri
Ketika Andrea berpisah dengan Ronny, Andrea mengecat rambut menjadi pirang, makan tidak diatur dan jadi tambah gemuk, jerawatan, hobi party tiap hari dan mulai mengkonsumsi obat terlarang (ya minum obat batuk 2 botol supaya bisa cepet tidur kan bisa termasuk terlarang juga kan?-red). Semua demi mendapatkan Ronny kembali dan agar Ronny dapat pesan bahwa : aku tidak bisa hidup tanpamu. #eaaa

Kata Cisca : Andrea silly. Mustinya yang dia lakukan adalah merawat diri supaya tambah cantik, kulit mulus, rajin olahraga supaya tambah langsing dan bersosialisasi di tempat yang prominent. Kalau perlu, cari tahu siapa musuh bebuyutan atau saingan bisnis Ronny, nah pacarin deh, supaya Ronny sadar apa yang telah dia lewatkan, hehe…. (joking, eh tapi terserah sih kalau mau diseriusin-red).

2. Gaya Perpisahan : cuek dan seakan tidak peduli lagi
Kartika dan Andra telah menikah selama beberapa bulan. Selama pernikahan, Kartika tidak pernah dinafkahi oleh Andra dan bahkan kartika menerima beberapa kekerasan fisik dan batin yang dilakukan sang suami. Ketika Kartika memutuskan untuk berpisah dari Andra, Andra tidak berusaha untuk menahan Kartika, tidak sepatah katapun keluar dari Andra untuk meminta maaf ke Kartika ataupun orangtuanya.

Kata Cisca: Keputusan Kartika untuk meninggalkan Andra sudah tepat. Andra bukannya tidak mencintainya, namun terkadang ego laki-laki mengalahkan kebisaannya untuk meminta maaf dan berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatan buruk itu lagi. Saya yakin aksi diam Andra adalah karena dia sadar sepenuhnya bahwa dia salah dan malu oleh karena perbuatannya itu. Mau dilihat dengan alasan apapun, bentuk pemukulan (perlakuan kekerasan fisik) terhadap istri itu sudah pasti salah. Yang harus mereka lakukan adalah berpisah dan mencari pasangan baru dengan level intelektualitas dan ekonomi yang sepadan.

3. Gaya Perpisahan : ancaman pencemaran nama baik
Ketika Citra dan Bagas berpisah, Bagas yang dendam setengah mati mengancam “Nanti saya sebar foto kita berdua!” Bagas melakukan ini supaya mungkin Citra meminta maaf atau supaya Citra kembali mau berkomunikasi dengannya. Namun yang dia lakukan hanya akan membuat Citra merasa jijay to-the-max kepadanya.

Kata Cisca: Keputusan Citra untuk jijay terhadap perlakuan Bagas adalah tepat. Seseorang yang mengancam dengan tujuan pencemaran nama baik biasanya : tidak dapat dipercaya (tidak bisa memegang teguh privacy dari suatu hubungan, biasanya juga tidak bisa menyimpan rahasia alias ember-red) dan juga menunjukkan kelemahan intelektualitas pelakunya (bukannya dengan menyebar hal-hal yang bersifat pribadi, hal tersebut justru akan mempermalukan dirinya sendiri?).

Dan dalam beberapa kasus, ancaman seperti ini dilakukan karena terdesak oleh faktor ekonomi (alias ‘butuh duit’ makanya ngancem-red). Untunglah selama berteman dengan Bagas, foto-foto yang dimiliki mereka cuma foto rame-rame makan di restoran, jadi kalaupun itu disebar yang ada malah jadi tambah eksis, iya nggak sih?! Dan pastinya akan membuat si Bagas terlihat tolol sendirian.

Saya pernah ketemu kasus yang sifatnya sama, namun foto yang diancam disebarkan adalah foto telanjang (kebetulan si pacar adalah fotografer), nah tindakan ini bisa diperkarakan sesuai hukum. Kembali lagi ke si pelaku (siapatahu kamu pernah berniat melakukan ini ke mantan pacarmu yaaaa….-red), siapkah untuk juga merusak nama sendiri dengan menjadi pelaku? Status penyebar adalah tersangka lho, jadi bukannya hanya akan merugikan diri sendiri?

Cannot let go......

Can't let go……

4. Gaya Perpisahan : ancaman bunuh diri atau menyakiti diri
Mario tidak bisa terima ketika Dini memutuskan hubungan cinta mereka. Mario mengancam akan melarikan mobilnya di jalan tol Cipularang untuk akhirnya menghilangkan nyawanya, sebelumnya tapi sempat bbm Dini dulu (supaya Dini aware akan aksi yang akan dilakukan Mario ini), dengan tujuan supaya Dini mau kembali ke pelukan Mario (yah,…kepingin dilarang-larang bak sinetron gitulah-red). Ini bukan yang pertama kalinya, sebelumnya Mario mengancam akan mengiris urat nadinya kalau Dini masih keukeuh mau memutuskan hubungan cinta mereka dan sebelumnya masih ada beberapa ancaman ‘action’ lainnya.

Kata Cisca: Tindakan Mario sebetulnya lebih kepada ingin mendapatkan perhatian, biasanya karena si pelaku kekurangan perhatian dari keluarga atau orang yang dia sayangi. Saya pernah membaca (tapi lupa dimana ya-red) bahwa hanya 4% dari pelaku yang mengancam mau bunuh diri terhadap pacarnya – benar-benar melakukannya, kebanyakan dari mereka sih melanjutkan hidupnya dan masih hidup aja sampe sekarang. Kan masih banyak ikan di lautan?!

Kalau saya jadi Dini, saya tidak akan merasa perlu bertanggung jawab atas ancaman Mario, saya akan merekam (atau menyimpan semua bukti ancaman tersebut) dan membicarakannya dengan orangtua Mario (atau orang yang dia segani, dengan tujuan agar dia belajar….well actually sih dengan tujuan agar dia malu, hehehe…) dan apabila ancaman terulang kembali, saya tidak akan segan memanggil polisi. Kalau mau dianggap serius, biar polisi yang menangani. Oh dan saya juga akan menyarankan supaya si Mario ini liburan dulu (lebih bagus lagi sih konsultasi ke psikolog-red) atau yang paling gampangnya adalah : dibawa tidur saja, siapatahu besok pagi suasana hati sudah berubah (halaaah…..).

Bukankah ‘dicintai karena dikasihani’ adalah suatu hal yang sangat menyedihkan? Bukankah lebih baik kalau Mario menemukan orang lain yang bisa mencintai dia apa adanya dan bahwa Dini juga berhak bersama yang lebih baik daripada Mario? Kenapa kadang orang harus memaksakan egonya agar bisa menjadi pribadi yang dicintai karena kasihan? Sedih amat…. Yah jadi ikutan galau deh yang baca tulisan ini…. #eaaaa


5. Gaya Perpisahan : berkicau di media sosial (twitter, facebook, you name it…..)

Ketika Rima memutuskan untuk tidak lagi menjumpai Bimo (catat! Belum pacaran baru berteman dekat saja lho ini-red), Bimo yang tidak terima lantas menuangkan amarahnya di jejaring sosial (karena dia cuma tahu dua, yaitu twitter dan facebook, maka lantas penuhlah timeline dan update status dengan ‘kemarahan’ Bimo tadi). Bimo update status yang menyindir-nyindir Rima dan kemudian meminta bala-bantuan untuk menyebarkan pesan tadi.

Kesedihan, kekecewaan dan ke-sok-bijak-an tampak jelas dalam setiap update status Bimo (secara si Bimo ini selebritwit ya, jadi yang me-ritwit status dia banyak, entah karena merasa bestfriend atau merasa senasib-sepenanggungan, orkes sakit hati, hehe…). Seakan dia adalah korban yang mengalami kezaliman yang paling dahsyat dari seseorang yang bernama Rima.

Kata Cisca : If you had a problem, face it, do not facebook it! Perlakuan Bimo mencurahkan amarah terhadap Rima di jejaring sosial membuat jelas karakternya sebagai (duh) pengecut yang tidak berani menghadapi masalah dan juga pendendam. Saya rasanya pingin bilang sama Bimo, hey…sudahlah! Get over it! Semakin lama Bimo hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Nah untuk si Rima, yang paling bagus adalah untuk mendiamkan si Bimo. Mendiamkan dalam arti, jangan pedulikan apapun yang ditulis Bimo di jejaring sosial itu, mau segila apapun. Kalau di dalam twitter istilahnya ‘di-mute forever’ haha…..

Semakin kita cuek terhadap hal-hal bodoh yang dilakukan seseorang seperti Bimo ini di jejaring sosial, semakin meradang mereka. Orang-orang seperti ini sulit sekali bahagia kalau melihat orang lain bahagia. Oleh karena itu, menjadi bahagia adalah pembalasan termanis dan paling elegan yang bisa dilakukan.

Off to a good start

Off to a good start

Saya tidak kepingin sok jadi penasihat cinta mereka yang mau putus apalagi yang putusnya agak-agak mengenaskan gitu. Maksud saya nulis posting ini adalah agar kita semua bisa bercermin (apalagi kalau salah satu kisah diatas pernah kejadian sama kamu atau temanmu, atau justru kamu sendiri pelakunya! ehm! Look how silly you are now huh?!-red), jadi kita bisa belajar kalau perpisahan itu mustinya baik-baik, apalagi kalau ketemunya dulu baik-baik.

Sayapun ketika membaca ulang tulisan ini, jadi ketawa getir sendiri. Salah satu dari kejadian diatas pernah saya alami. Satu yang menolong saya melewatinya adalah : sikap cuek. Masih banyak ikan di laut, jangan sedih! Hehehe…… :)

Sometimes you have to close one door to allow another one to open elsewhere. Good luck in love and life! Cheers!

####

Koleksi foto : explodingdog.com

Dating 101 : Menjadi Perempuan yang ‘Sederhana’

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Teman saya berkata “Kalau mau dijadikan istri yang baik, kebanyakan pria lebih menyukai tipe wanita yang sederhana”. Seketika saya berpikir, kalau demikian, boleh nggak kita sebagai wanita bilang “Kalau mau dijadikan suami sama kita, kebanyakan wanita lebih menyukai tipe yang mapan, kalau bisa kaya tujuh turunan.” Boleh nggak?

Pernikahan ini sederhana saja kan sayang? Cuma di Bali dengan undangan 200 orang VIP saja......

Pernikahan ini sederhana saja kan sayang? Cuma di Bali dengan undangan 200 orang VIP saja……

Saya bukan ngajarin jadi matre, cuma dalam perjalanan kehidupan dating saya, ada beberapa hal menyangkut unsur ‘kesederhanaan’ ini yang akhirnya mengarah ke unsur materialistis tadi. Kata teman pria saya di twitter, maksud ‘sederhana ‘ mungkin lebih ke unsur kedewasaan pikiran dan tidak terkait dengan materi. Tapi maaf, kalau dengar kata ‘sederhana’, top of mind saya (selain restoran Padang-red) adalah (maaf) merujuk ke arah materi. Jujur aja sih, mungkin pikiran saya memang dangkal sih, tapi at least kan jujur.


Sepanjang pengalaman dating saya, ada beberapa hal yang mungkin tidak bisa dibilang sederhana, misalnya saja ;


1. Dimana makan malam yang sederhana? Dan kencan pertama, siapa yang harus membayar?


Ketika salah satu date saya bertanya ‘kamu mau dinner dimana, tentukan tempatnya..’, saya pasti nanya balik ‘kamu maunya dimana?’. Nah tipsnya adalah : kalau dia kasi nama resto seperti Pizza E-birra atau Beer Garden, itu berarti dia siap untuk mentraktir di resto yang selevel itu. Jangan terus kamu sebut nama resto fine dining seperti C’s di Grand Hyatt, nanti level ‘kesederhanaan’nya nggak sama.


Siapa yang harus membayar dinner pada kencan pertama?

Jelas pihak laki-laki dong. Sejak kapan ada wanita membayar dinner pada kencan pertama, apalagi sistem bayar sendiri- sendiri begitu. Duh. Masa begitu aja harus diajarin. Tapi jangan lupa, do the ‘bill dancing’, maksudnya pura-puralah menawarkan kalau kamu juga mau ikutan bayar gitu…Hehehe…. Mau sesederhana apapun kencanmu, tetap dia harus membayar dinner di kencan pertama. Period.


2. Acara kencan yang sederhana itu seperti apa?


Kalau buat saya tentunya bukan sekedar memandang bulan dan bintang di angkasa (kecuali bulan dan bintang tadi dilihat dari Bali, Ibiza atau Capri, ini sih beda ya-red). Se-sederhana apapun kencan itu tetap harus keluar biaya. Kalau tidak mau keluar biaya, jangan berkencan, di rumah saja, aman.


3 .Berlibur ke luar kota (atau negeri) yang sederhana itu seperti apa?


Sering pasangan menawarkan ‘Yuk kita liburan ke luar negeri bersama yuk…’, nah kalau ajakan ini datang dari si pria, etiketnya adalah sebelum kamu bertanya ‘siapa yang akan membayar tiket pesawatmu dll dll, dia sudah menawarkannya.’ Setidaknya si pria akan membayar biaya hotel dan tiket si wanita (ini kalau dia berkecukupan, kalau tidak si wanita yang akan bayar biaya tiket tapi hotel dan makanan dibayar oleh si pria).


Ini bukan ngajarin jadi matre, tapi etiket pria terhadap wanita yang akan diajak bepergian. Kalau tidak punya biaya yang cukup, ya nggak usah ngajak jalan-jalan ke luar negeri. Nah, sederhana kan? Hehe…


4. Asset pasangan yang sederhana. How sederhana can you go?


Saya pernah diajak jalan oleh seorang pria dan dia bilang ‘saya nggak bawa mobil, malam ini saya setirin mobil kamu, kemanapun kamu mau pergi.’ Belakangan saya tahu bahwa dia memang tidak punya mobil, tapi menyombongkan diri dengan bilang ‘saya menjualnya karena blablabla (banyak alasannya lah….nggak etis disebut disini, hehehe….-red)’.


Bagi saya, bukan masalah tidak punya mobilnya lho, tapi cara dia mengatakan ke saya bahwa dia tidak punya mobil itu yang gengsinya melebihi dari saya yang punya mobil. Saya sih sederhana, kalau musti susah-susah naik taksi atau kendaraan umum, lebih baik tidak usah pergi. Atau daripada merelakan mobil saya disetir pria (yang biasanya nyetirnya buruk, maklum karena nggak punya mobil-red) lebih baik saya setir sendiri, toh hasilnya sama aja, nyerempet-nyerempet juga, hehe….


5. Bagaimana supaya pasangan mendapat kesan bahwa kita wanita yang sederhana?


Menurut saya, benar memang sederhana itu tidak bisa diukur dari penampilan semata (suka barang branded dll). Kadang orang beli barang branded bukan berarti dia tidak sederhana lho, dia beli barang branded supaya awet dipakai dan menjadi investasi gaya (dan nggak harus repot beli banyak karena beberapa saja sudah cukup).


Kesederhanaan juga tidak bisa dilihat dari aset seseorang. Kadang orang naik Mercy bisa jadi hutangnya juga sebesar Mercy itu dan orang yang naik Kijang lebih bahagia hidupnya karena tidak punya hutang. Kadang milyuner lebih suka makan dengan alas daun pisang daripada makan di piring keramik buatan Inggris.


Dari segi pemikiran, kalau wanitanya ditanya “Oh saya pingin jadi ibu rumah tangga, mengawinimu dan punya bayi darimu” ini juga sederhana, tapi bagi pria ini complicated. Terus kalau si wanita bilang “Di usia awal 30 saya mau jadi pemimpin perusahaan, saya optimis saya bisa”, nanti dikiranya si wanita gila kerja. Jadi jadi wanita mau sederhana sampai level apa? Bingung kan?


Yang jelas jadi wanita sederhana itu agak susah, wanita itu pada dasarnya complicated, mau di-sederhanakan darimana lagi coba. Sederhana itu relatif. Menurut saya yang perlu ditinjau lagi itu adalah pasangan si wanita tersebut, cukup sederhana-kah pikirannya untuk menerima kita apa adanya.


Intinya, saya nggak nyuruh-nyuruh kalian memasyarakatkan ‘pola hidup sederhana’ yang berlebihan. Nanti fashion designers barang-barangnya nggak ada yang beli dan semua pada mau pakai batik yang dibeli di pasar PGS di Solo, hehehe……


Just be yourself, kalau dia tidak bisa menerimamu karena pandanganmu dan gaya hidupmu tidak ‘se-sederhana’ dia ya biar saja. Yang penting sebagai wanita kita harus punya kemandirian finansial. Setelah itu, kamu tentukan sendiri deh – how sederhana can you go. Pilihan ada di tangan kamu sendiri.


Sukses ya all my fabulous ladies! Best of luck in love and life! *smooch!*


“The most complex things are the simplest….”
Agni Celeste

####

Memanusiakan Binatang

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Karung itu bergerak-gerak. Tergeletak di tengah jalan. Waktu itu menunjukkan pukul satu pagi. Andi menepikan mobilnya dan dengan ragu-ragu membukanya. Alangkah terkejutnya ia ketika di dalam karung tersebut terdapat dua ekor anak anjing yang ketakutan.


Dibawanya dua anak anjing tadi pulang dan dirawatnya. Dinamakannya ‘Hope’ dan ‘Lucky’. Nama yang sangat tepat, dimana dua anak anjing tadi bisa saja mati terlindas kendaraan yang lalu lalang di jalan tersebut. Rupanya orang yang membuangnya memang bermaksud demikian. Hope dan Lucky kini menjadi dua anjing kesayangan Andi, bersama dengan 5 anjing lainnya yang ia pelihara selayaknya anak sendiri.


Tidak banyak orang seperti Andi, yang dengan hati nuraninya ikhlas menyelamatkan jiwa binatang yang terlantar. Banyak cerita yang saya dengar, pemilik anjing dengan tega membuang binatang peliharaannya ketika sudah besar, tidak lucu lagi, dan kemudian enggan merawatnya. Mereka melakukan berbagai cara, seperti tadi – memasukkan anak anjing ke dalam karung dan membuang di jalan raya (supaya sengaja tertabrak kendaraan) atau membuangnya begitu saja. Tidak terpikir pada mereka, bahwa hewan juga punya perasaan - selayaknya manusia.

Komitmen


Memelihara binatang, apapun itu – adalah sebuah komitmen serius. Tingkatannya tidak main-main, seperti layaknya anda mengadopsi seorang anak manusia. Anda harus memberinya kasih sayang, perhatian, pangan dan papan (kalau sandang alias binatangnya mau dikasih baju ya itu terserah sih, hehe…) dan banyak aspek lain yang layak. Apabila tidak mampu memberikan hal tadi, lebih baik jangan. Cinta terhadap binatang peliharaan tidak sepantasnya putus ditengah jalan, kecuali kematian memisahkan. Kedengarannya memang lebay – namun komitmen ini yang tidak dimiliki oleh para pemilik binatang yang menelantarkan binatang di kemudian hari, ketika mereka merasa sudah tidak lagi mencintainya. Kadang saya berpikir apa mereka bisa tidur di malam hari? Tindakan itu sudah mustinya masuk ke tindakan kriminal.


Anak anjing adalah hadiah yang paling sering diminta anak kecil terhadap orangtuanya. Dan karena harganya murah-meriah (tergolong ‘terjangkau’), banyak orangtua yang lantas memberikannya tanpa edukasi tanggung jawab terlebih dahulu pada si anak. Syukur kalau anjingnya dipelihara hingga mati tua, kalau sudah gede sedikit – atau nakal sedikit lantas dibuang? Apa tindakan ‘main buang’ ini yang ingin anak-anak ingat dari orangtuanya ketika mereka besar nanti?


Finder’s Keepers!


Hobi saya adalah memungut binatang terlantar (catat : biasanya anjing atau kucing, kalau reptil saya sendiri takut, hehehe…) di pinggir jalan dan merawatnya pulang ke rumah. Entah kenapa tiap melakukan itu saya merasakan saya berperan besuaaarrr banget pada roda kehidupan ini, padahal itu adalah seekor binatang. Kalau ada anjing – katakanlah orang bilang ‘anjing kampung’, saya justru lebih senang mengambilnya daripada anjing ras. Anjing ras pasti banyak yang mau, tidak demikian sama anjing kampung, pikir saya. Sebenarnya, menurut saya, Tuhan saja tidak pernah membeda-bedakan manusia di hadapan Dia, jadi siapa kita manusia – tega membeda-bedakan anjing di hadapan kita? Bagi saya levelnya sama, mau anjing kampung atau anjing ras sekalipun.


Dan Bapak saya kadang curiga, ini makin lama anjing di rumah kok semakin banyak, ada yang kudisan pula (dan dalam masa penyembuhan pula, jadi bentuknya nggak ‘lucu’ seperti anjing sehat ya, hehe…) dan terakhir ada 12 anak anjing liar berlarian dengan heboh. Dia bilang ‘Jangan-jangan mereka di jalan ada pemiliknya dan kamu main ambil saja ya? Finder’s keepers?!’ haha…..


Satu kebahagiaan yang saya rasakan adalah kalau harus merelakan mereka diadopsi orang lain, tidak ada syarat atau biaya, cukup dengan syarat ‘Bahwa kamu akan selalu menjaganya, dalam susah maupun senang, sakit maupun sehat , pokoknya cinta tanpa syarat’, maka seekor anjing hasil ‘tangkapan’ saya dapat menjadi milikmu.


Tidak jarang ketika saya menepikan mobil untuk ‘menangkap’ (saya tidak bisa bilang ‘menyelamatkan’ ya, sebab kata ‘penyelamatan’ itu besar banget artinya, toh si anjing waktu dikejar ya lari juga! Mereka tidak dengan ‘sukarela’ nyamperin saya minta diselamatkan, hihi…) orang banyak marah dan mengklakson, bahkan mereka teriak ‘Woy…cakep-cakep gila ya mbak?!” (and I swear dia bilang saya cakep, hihi…).


Saya tidak peduli, yang penting anjingnya selamat. Saya juga nggak pernah digigit sama anjing-anjing yang saya masukkan dalam mobil saya. Mungkin mereka feelingnya nyambung sama saya, kalau saya mau bawa mereka ke tempat yang lebih baik. Atau mungkin saya dulu reinkarnasi anjing yang baik sehingga ketika lahir sebagai manusia, Tuhan meminta saya jadi penyelamat anjing liar, entahlah….. hehe, ngasal banget kalimat terakhir tadi ya?

Kata-kata tanpa action tidak akan menyelesaikan masalah


Banyak yang bilang pada saya, kebetulan keluarga kami adalah muslim yang taat. Dan Ibu saya sering diberitahu oleh teman-temannya “Ibu, jangan pelihara anjing di rumah, nanti malaikat tidak akan mampir ke rumah.” Begitu saya mendengar komentar itu, saya cuma ketawa saja dan bilang “Malaikat juga tahu, denger dong kan ada lagunya…” atau beberapa jawaban lain yang ngasal. Saya tidak berkompeten menjelaskan hukum agama terhadap ini, apakah menjadi najis atau tidak hunian dan sebagainya. Hanya saja, Tuhan tahu kita berniat baik, semua binatang kan mahluk Tuhan juga, memelihara untuk tujuan baik masa iya jadi malah dosa? Serahkan saja pada yang diatas. Toh yang kami lakukan bukan tindakan kriminal khan?


Mari bersama-sama selamatkan binatang telantar!


Minggu lalu seorang teman mengenalkan saya pada sebuah yayasan pecinta binatang, yaitu Pejaten Shelter (link : http://www.facebook.com/people/Shelter-Pejaten/100000307519363 ) dan juga www.adopsianjing.com (link : http://www.adopsianjing.com/2009/08/penggalangan-dana-untuk-pejaten-shelter.html) dia tahu saya suka ‘mungutin’ anjing-anjing liar di jalan dan merawatnya (Sehingga tempat di rumah penuh). Nah tempat penampungan ini bersedia merawatnya, dengan beberapa syarat – juga bantu mencarikan calon pemilik yang potensial untuk mengadopsi anjing dan kucing telantar yang mereka tampung. Saya lantas melihat ke halaman facebooknya, betapa teriris hati melihat beberapa foto binatang yang membutuhkan uluran tangan kita dan kemudian betapa bahagianya melihat mereka yang mendonasikan dana ataupun sukarela menjadi relawan di shelter tersebut.


Saya sarankan kamu join deh di facebooknya dan lantas memberikan support kepada mereka. At least – kalau kamu belum punya keberanian (atau tepatnya ‘kenekatan’) untuk ‘turun langsung’ menyelamatkan binatang, kamu bisa membantu lewat saran lain, yaitu support kamu lewat social media. Saya tidak tahu besaran amalanmu, tapi saya berani jamin bahwa yang kamu lakukan itu juga perbuatan yang mulia.


Memanusiakan binatang bukannya lantas menjadikan binatang itu seperti ‘dewa’ yang harus kita perhatikan melebihi lainnya, namun lebih kepada memanusiakan diri kita sendiri – untuk menolong pihak yang lemah. Sebab lebih ‘manusia’ mana? Orang yang membuang binatang sembarangan di jalan – dengan maksud membunuh, atau binatang yang harus merasakan akibat yang disebabkan perbuatan mahluk yang dinamakan ‘manusia’ itu tadi?

####