Dating 101 : Materialistis vs. Realistis

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

“Cewek itu suka sama…cowok kuat.

Kuat kalau disuruh angkat-angkat, kuat beliin Louboutin. “

#pria-wanita (Dari akun twitter seorang teman,

tentang hubungan pria dan wanita).

It would be better if we were just materialistic enough.  But if given the choice between the ills of materialism and the ills of poverty, I'm for materialism every time.

It would be better if we were just materialistic enough. But if given the choice between the ills of materialism and the ills of poverty, I'm for materialism every time.

Kutipan diatas sangat blak-blakan dan jujur, saya tidak akan menampik kenyataan bahwa kaum wanita umumnya menggemari hal-hal yang indah dan glamour, euforia kegembiraan akan bertambah apabila hal tadi diberikan secara percuma oleh seorang pria yang mencintainya. Akan tetapi apabila pria tadi tidak mampu menyediakan hal-hal indah tadi dan si wanita tidak berkenan menjalin hubungan dengan dia, apa lantas bisa disebut ‘materialistis’?


Beberapa teman pria pernah curhat pada saya mengenai teman kencan yang dianggapnya materialistis. Tiap nge-date harus belikan ini dan itu, untuk bisa mendapat ‘akses’ ke hatinya. Bagi mereka yang sudah mapan tentu saja tidak menjadi masalah.Yang menjadi masalah adalah apabila pria tersebut masih berada pada level ‘struggling’ dan lantas bertemu dengan wanita idaman yang dianggapnya high-maintenance.


Tidak munafik, pria dengan tingkat kemapanan yang baik, secara otomatis akan merasa percaya diri dan akhirnya akan tampak sangat ‘seksi’ di mata wanita. Namun tentunya, kemapanan bukan tolok-ukur utama keberhasilan suatu hubungan lho ya…


Menurut teori ‘The logic of life’, dalam buku “The Undercover Economist” oleh Tim Harford, cara pandang pria dan wanita semacam ini sudah ada sejak jaman dahulu kala. Dalam buku ini, Tim menulis : anak yang dilahirkan dari orangtua yang berkecukupan pastinya akan mendapat kesempatan untuk berkembang lebih baik daripada yang orangtuanya kurang mampu. Dan disinilah awal mula teori kemapanan itu tadi berasal. Untuk melahirkan keturunan dengan fisik yang indah dan sehat, ada aspek ‘youth, health and beauty’; maka itu fisik sering menjadi faktor utama pria dalam mencari wanita idealnya. Sedangkan peran pria adalah sebagai ‘ayah, provider and protect,” dan semua aspek tadi dihubungkan dengan ‘kemapanan’. Maka itu pria yang mapan memang lebih disukai oleh para wanita. Salahkan saja teori evolusi, hehe….


Men with money also have a certain confidence that women are attracted to.

Men with money also have a certain confidence that women are attracted to.

Eit, jangan lantas bilang kalau artikel ini ‘bitchy’ ya (walau memang agak sih, hehe) – jujur ketika saya menulis saya tidak peduli mau orang suka atau tidak – yang terpenting tulisan ini tidak munafik ;) ; nah lanjut, ada beberapa poin penting serta manfaat yang bisa diambil dari sifat materialistis ini ; diantaranya :


  1. Wanita dan pria punya tingkat kemampuan yang sama untuk menjadi pribadi yang materialistis. Ada persamaan gender disini. Jangan hanya kira wanita yang lebih dominan menjadi mahluk yang materialistis. Pria juga kok. Percayalah. Cerita lengkapnya nggak di blog ya, saya tulis di media lain. Hihi….
  2. Money Cant Buy Happiness? Not True. Menghabiskan quality time liburan ke luar kota beserta keluarga membutuhkan biaya yang tak sedikit, tapi pastinya sepadan dengan perasaan puas yang dirasakan. Kadang wujud ‘yang dibeli’ itu memang tidak kelihatan, namun rasa puasnya itu yang dikejar. Tapi bayarnya tetap harus pakai uang, toh?
  3. Sifat materialisme membuat kita selalu ‘berpikir dua kali sebelum bertindak’. Sejalan dengan waktu dan peristiwa yang dialami, seseorang dapat merasakan – pasangannya ini ‘make love dengan my wallet’ atau dengan dirinya. Saat itulah dia harus berpikir dua kali, apabila ia bisa menerima keadaan itu – dan kalau itu membuatnya bahagia, ya silahkan diteruskan. Kalau tidak, silahkan dipikir ulang.
  4. Sifat Materialisme harusnya menjadi pacuan semangat untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Sepertinya tidak ada satupun mahluk hidup di dunia ini yang ingin dilahirkan sebagai orang miskin. Pasti semua mau jadi yang mapan. Namun apabila saat ini kita belum berada di kondisi yang mapan, terus berusahalah (dengan cara jujur tentunya ya) untuk meningkatkan taraf hidup kita. Money can’t buy happiness but it’s more comfortable to cry in a BMW than on a bicycle, bukan begitu?
  5. Melebarkan Network. Bila kamu merasa ‘Busyet deh, saya kok ketemunya sama orang-orang yang sepertinya mengharapkan saya dikala saya dalam keadaan berduit tapi meninggalkan saya di dalam keadaan susah ya?’ , maka sudah saatnya kamu untuk melebarkan network kamu. Di luar sana masih banyak wanita yang mencari “companion to hang with” dan bukan sekedar “cash man” saja. Kamunya yang harus lebih banyak bergaul.

Some rich men do lose out in the end though. Sure, they may get a trophy girlfriend, but they never have her heart.

Some rich men do lose out in the end though. Sure, they may get a trophy girlfriend, but they never have her heart.

Sekali lagi, pada dasarnya semua orang berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya, juga dalam aspek ‘dating”. Contohnya ; sebut saja Nadya, seorang wanita muda usia 27 tahun, misalnya – pintar, mapan, fisik menarik, single dan lahir dari keluarga yang berkecukupan ; pastinya juga berharap untuk menemukan pasangan yang sepadan dengan dia. Jangan lantas dianggap ‘materialistis’ kalau dia tidak mau diajak jalan naik bus kota (karena ia biasa mengemudi mobil pribadi sendiri). Dengan pasangan kencan, Nadya tidak melihat ‘dapat material apa dari pasangannya, tetapi lebih fokus ke kualitas hubungan’. Bedakan dengan Nana, wanita single usia 33 tahun, dengan kualitas taraf hidup seperti Nadya – bedanya ; Nana berorientasi pada materi – menjadikan ‘materi’ sebagai pelengkap dalam relationship dia; nah ini baru materialistis to-the-max. Nadya realistis dan Nana materialistis. Beda lho…


“I’m not materialistic. I believe in presents from the heart,

like a drawing that a child does.”

Victoria Beckham

Jadi bagaimana apabila kita dihadapkan pada kenyataan kalau pasangan kita sekarang, dirasa ‘materialistis’ oleh kita? Tanya kepada dirimu sendiri, kalau kamu bisa menerima keadaannya seperti itu (dan itu membuatmu bahagia dan tetap menjadi dirimu sendiri), ya silahkan lanjutkan saja. Tapi apabila itu tidak membuatmu bahagia, ya kamu sendiri yang tahu jawabnya. Mungkin ini juga yang jadi dasar ada fenomena ‘wanita yang lebih muda menikahi pria yang jauh lebih tua dan kaya’, saya selalu berpikir ‘yah asal mereka happy, ya sesukanya mereka sajalah,’ am I right or am I right?

. There are plenty of women that don't want a man with "big bucks," yet still want to know that he has the potential to be an adequate provider.

. There are plenty of women that don't want a man with "big bucks," yet still want to know that he has the potential to be an adequate provider.

Inti dari tulisan ini sebenarnya dapat dijabarkan dalam satu kalimat simple, “ how do we define ‘what is enough’?” Apa definisi kata ‘cukup’ bagi pribadi masing-masing. Ketika kita merasa ‘cukup’; karena diatas langit masih ada langit dan bahwa tidak akan selesai materi dikejar ; lebih idealnya lagi – merasakan keadaan dimana ‘ada atau tidak ada uang, rasanya sama saja’ ; seimbang yang sempurna!. Oh ya, jadi kamu termasuk yang realistis atau yang materialistis nih? ;)




Good luck in love and life,

Your friend,

@CiscaDV

“People say I’m extravagant because I want to be surrounded by beauty.

But tell me, who wants to be surrounded by garbage?”

-Imelda Marcos-

Photo by : Jason Brooks (Hed Kandi) and Jedroot.com


4 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

18 Responses to “Dating 101 : Materialistis vs. Realistis”

  1. gajah_pesing Says:

    jaman sekarang memang berbeda mengartikan antara materialistis dan kebutuhan, padahala kebutuhan sudah jelas berbeda dengan keinginan..

    tulisan ini menarik mbak :)

    [Reply]

  2. kw Says:

    Uang sangat penting, materialis dikit kayaknya gpp :)

    [Reply]

  3. donny Says:

    kalo menurut saya sih, uang bisa membuat banyak hal menjadi mudah :)

    kalau kemiskinan membuat orang menjadi menderita, kenapa kita masih bisa melihat mereka tertawa ?

    kalo kekayaan bisa membuat orang bahagia, kenapa kita melihat banyak yang menderita (masuk bui contohnya) ?

    kuncinya : mensyukuri segala nikmat dan karunia yang diberikan Allah SWT, karena nikmat dan karunia tersebut hadir dalam berbagai bentuk (kesehatan, keluarga yang harmonis, anak yang sholeh, dll).

    keep on posting sis :D

    [Reply]

  4. iwepetujulapan Says:

    Setuju… materi memang penting sebab kita adalah jiwa yang hidup di dunia materi

    [Reply]

  5. indonnovo Says:

    beda tipis yah,.. sepertinya cuma niat aja yang jadi pembatas tipisnya…
    http://novotzky.blogdetik.com/

    [Reply]

  6. rizki larasati Says:

    tulisan yang sangat realistis.:)
    tampilan blognya lebih kerennn.. ala da vinci :P

    [Reply]

  7. qurathun Says:

    kesimpulannya menarik mba…mmg benar kalau definisi “cukup” itu tergantung dari diri kita sendiri. Satu lagi yang mau saya tambahkan yaitu selalu bersyukur…. :-)

    [Reply]

  8. depz Says:

    materialistis itu manusiawi, karena manusia terlahir dengan hasrat dan keinginan

    yg jd pertanyaan seberapa “kadar” materialistisnya :D

    [Reply]

  9. lestaritania Says:

    tulisannya menarik mba… kalo saya: bukan matrealisitis tapi realistis…hehhe

    salam kenal..

    [Reply]

  10. wahyuboez Says:

    Nice artike….
    Faktanya cinta memang sering tidak mengenal uang, tapi uang tetap saja mengenal cinta ya mbak? hihihi

    [Reply]

  11. itakzui Says:

    betul juga, tapi nggak 100%.
    setiap orang pasti butuh materi ya, cuma kadar masing-masing pasti beda. Kesannya cewek materialistis itu, sangat bergantung sekali ke cowok. Daripada bergantung pada orang lain, lebih baik menjadikan diri sendiri kaya dengan usaha sendiri. Jadi wanita yang lebih mandiri dan mampu menghidupi diri sendiri dan orang lain. (^_^)

    [Reply]

  12. aridiansetiawan Says:

    mmg g munafik- tapi cintanya yg munafik - ada uang abang di sayang gak ada uang abang di tendang.
    cewek klo udh nemuin cinta lebih banyak berkorban- buktinya banyak keperawanan di berikan secara cuma2.

    [Reply]

  13. ubaysiboy Says:

    waahh…kerren mbak..emang bener bgt tuhh..setuju bgt,,ya tergantung dari masing” orangnya,,sip.sip,,
    :-D

    [Reply]

  14. tas maika etnik Says:

    dunia itu memang penuh tipu daya. orang matre adalah orang yang tidak mau bersyukur dan pilih-piih dalam bergaul. tidak mau naek bus kota memang tidak salah. tapi kalau alasannya “terbiasa naik mobil pribadi”, itu yang menggambarkan dia adalah matre..

    [Reply]

  15. fajarokto Says:

    guess what..
    meski cewek itu materialistis,
    aku tetap nekat mencintai wanita :D :D

    karena mencintai wanita adalah mencintai keindahan :P

    BTW, Tulisan yang cantik ;;)

    [Reply]

  16. Scor Wang :). Says:

    Scor numpang iklan dulu :).

    Info top banget -> http://colourbearer.blogdetik.com/.

    Terus salam blogging & blogger.

    Kemudian, Tips dari Scor :).
    1. If love is money?.
    Buy it!.

    2. Then if money is love?.
    Find it.

    3. Love money?.
    It is Brengsek!.
    :d.

    Sekian.

    [Reply]

  17. obat herbal alami kanker rahim Says:

    materialistis
    why not??:)

    [Reply]

  18. manda Says:

    mbak …keren tulisannnya…dan setuju bgt sam tulisannya….

    [Reply]

Leave a Reply