#Dating101 : Confession of a ‘Female Player’

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Istilah seperti Players, Womanizer atau Don Juan dan Casanova tampaknya identik dengan kaum pria. Kali ini kita akan mencoba berpikir sebaliknya, wanita pun juga bisa menjadi seorang ‘player’ dan kebanyakan melakukannya bahkan – lebih baik daripada pria.

Player wanita? They think more like a man but do it better.
Sore itu saya mendapat beberapa request dari email, tentang pembahasan ciri-ciri wanita player,  pertanyaan bukan saja datang dari kaum pria, namun wanita. Mungkin ini didasari keinginan untuk ‘agar jangan sampai terjebak dan galau gara-gara dating dengan wanita player’ (untuk kaum pria) dan ‘bagaimana cara untuk jadi player yang elegan’ (untuk kaum wanitanya).

Berdasarkan wawancara saya dengan beberapa wanita yang saya anggap ‘player sejati’ ; berikut adalah ciri-ciri wanita player yang dijamin akan membuatmu berkata ‘ohh begitu….’ ;

Female player fact #1: Kami menarik, misteriously sexy dan pintar
Catat! Wanita yang player tidak harus berfisik ideal seperti top model, namun menarik dan cukup merawat dirinya dari ujung rambut ke ujung kaki. Kami tidak  sengaja mencari perhatian di tempat umum dan kami pintar mengolah bahan pembicaraan untuk membangun suasana (ini bisa dimungkinkan karena kami memiliki otak yang lumayan encer dan selalu di-update).

Female player fact #2 : Kami tidak pernah ‘Kiss and Tell’
Mengenai siapa teman dating kami, kami tidak pernah ‘ember’ bercerita soal ‘ngapain saja, kemana saja, blablabla…’, tidak. Kami menyimpan rahasia itu baik-baik. Hanya Tuhan, dia dan kami yang tahu apa yang terjadi. Kami mempunyai integritas tinggi untuk soal kerahasiaan sebuah hubungan.

Female player fact #3 : Kami berasal dari SES B+-A +( kami tidak kesulitan ekonomi)
Betul sekali pemirsa. Kami sangat mandiri dalam hal finansial. Biasanya kami adalah wanita top executive yang tidak membutuhkan bantuan finansial dari pria untuk bisa hidup dengan nyaman. Catat! Seorang female player memiliki ‘degree of sophistication’ yang berbeda dari sekedar wanita simpanan atau wanita (maaf) peliharaan. Pernah suatu kali seorang teman menuliskan status di bbm-nya ‘pingin tas ini, pingin hp ini, pingin ipad, dll’ dengan maksud akan dibelikan oleh teman datingnya (ya, saya pun berpikir dia sudah gila-red). Maaf, seorang wanita player sejati tidak perlu meminta (dengan cara yang demikian pula) untuk mendapatkan yang dia mau. Kami bisa membelinya sendiri. Kalau pria tersebut memberikan hadiah kepada kami, anggap saja itu bonus, karena motif utama kami bukan mencari uang. Kami tidak akan meminta, apalagi merengek dan memaksa. Oh-Please-deh.

Female player fact #4 : Kami elegan dan pandai membawa diri
Para pria akan bangga terlihat bersama kami, karena kami menarik, dan pastinya para pria akan menoleh ke kami ketika kamu terlihat bersama kami. Para wanita (dalam lubuk hatinya saya yakin banget-red) pasti ingin menjadi kami. Anda tidak akan menemukan kami naik ke meja bar atau mabuk hingga lupa diri. Sebaliknya, kami memiliki kontrol terhadap diri sendiri dengan baik. Kami tahu cara have fun yang elegan.

Female player fact #5 : Bagi kami, social media bukan segalanya
Tidak semua makan malam dengan seseorang yang terkenal harus di-tweet. Tidak semua yang dikatakan seseorang yang top harus kami tulis di status facebook. Bahkan biasanya, kami tidak pernah menulis apa status kami di facebook (mau single atau in  a relationship, dll, itu bukan kami). Social media penting bagi kami, namun privacy tetap lebih penting. Segala sesuatu yang diumbar akan menjadi ‘twittertainment’ nantinya, dan itu yang kami hindari.

Female player fact #6 : Kami tidak mengenal kata ‘paranoid’, ‘insecure’ apalagi ‘posesif’ dalam sebuah relationship
Jika kaum pria tidak menelepon kami, kami tidak lantas menjadi paranoid dan berkata ‘wah pasti dia sedang bersama wanita lain, atau sesuatu terjadi dengan dia, blablabla…’, kami cukup mengerti sinyal ini dan lantas move- on ke target berikutnya. Kami tidak akan insecure karena kami mengerti kalau kami sudah feel good about ourselves dan juga tidak akan posesif pada teman dating kami – kenapa? Karena pacar yang posesif sangat lah mengganggu, jadi bayangkan saja kalau belum pacaran saja sudah posesif….

Female player fact #7 : We always keep it casual
Tidak ada yang resmi dari sebuah hubungan dengan kami. Istilahnya, casual saja. Kami tidak terbelenggu jam biologis yang mengharuskan seorang wanita harus cepat menikah, punya anak, dll. Sebaliknya,  kami menganggap hidup adalah sebuah proses dan bukan tujuan. Bukan takut komitmen, tapi lebih kepada….umm… window shopping, ya sebelum menemukan satu yang benar-benar cocok.

Female player fact #8 : Kami sangat independen
Sebagai wanita kami butuh dimanja, namun tidak keterlaluan. Kami bisa mengurus diri kami sendiri, kami bisa menaklukkan jalanan kota Jakarta seperti halnya pria. Kalian tidak perlu khawatir, karena kami tidak manja dan hobi menyusahkan orang lain.

Female player fact #9 : Kami sadar fashion
Kami fashionable. Kami fashionista sejati. Catat! Kami tidak berdandan untuk menyenangkan kaum pria, apalagi untuk bersaing dengan kaum wanita. Kami berdandan untuk diri kami sendiri, karena apabila kita tampil dengan baik, kepercayaan diri akan terpancar dari situ.

Female player fact #10 : Kami (justru) akan kenalkan kamu pada teman kami atau bahkan orangtua kami

Kebanyakan pria berpikir, kalau saya belum dikenalkan pada orangtuanya dan teman-temannya berarti hubungan tersebut tidak serius. Ya itu sih pemikiran jaman dulu banget deh. Kami akan tetap mengenalkan kalian ke orangtua atau teman kami, tapi sebagai teman. Ya, teman, karena semuanya kami anggap ‘casual’ saja.

Female player fact #11 : Kami tidak selalu available
Bohong banget kalau kami bisa punya waktu dari Senin sampai Minggu untuk satu pria. Kami sangat pandai manajemen waktu, tapi kami sadar, semakin kami sibuk semakin kaum pria akan penasaran. Oleh karena waktu untuk bersama kami sangat terbatas (kami tidak selalu available), justru akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam. Sesuatu yang limited akan lebih dihargai, bukan begitu?

Female player fact #12: Kami tidak akan membuat kamu cemburu, hanya penasaran
Kami tidak suka berlebih-lebihan dalam bercerita, kami tidak ingin membuat anda cemburu, sebaliknya kami sangat pandai menjaga perasaan anda. Akibatnya anda akan merasa nyaman bersama kami dan lantas menjadi penasaran, apa yang sedang kami lakukan, sama siapa, dimana saat kami tidak ada. Mind games – sesuatu yang sangat kami kuasai.

Female player fact #13: Rules are made to be broken
Jangan coba-coba mengekang kebebasan kami atau bahkan menetapkan aturan keras kepada kami. Pada dasarnya player wanita dan pria sama saja. Kami menjadi player karena tidak ingin terkekang pada satu orang – entah takut komitmen atau belum ingin, atau belum menemukan orang yang tepat.

Female player fact #14 : Kami tidak ingin menyakiti hati siapapun
Hati adalah bagian yang paling sensitif dalam sebuah relationship. Oleh karena itu player sejati hendaknya tidak pernah ingin menyakiti hati orang yang menyayanginya. Maka itu kami memilih tidak memberi status pada sebuah relationship. Karena status adalah komitmen dan bicara soal komitmen, silahkan lihat point no #13 kembali ya.

Perlu diingat bahwa yang memberi status kepada seseorang (sebagai pacar) dan akhirnya menduakannya bukanlah seorang player sejati, orang tersebut adalah murni hobi selingkuh saja.

Female player fact #15 : Selain pandai manajemen waktu, kami juga pandai manajemen perasaan
Perasaan siapa? Perasaan orang yang menjadi date kami dong. Kami tidak akan mengindahkan tlp / sms masuk saat bersama date kami. Kami bisa membuat pria tersebut merasa satu-satunya yang paling diprioritaskan (baca: diprioritaskan ya, bukan dicintai-red). Bukankah menjadi yang pertama dalam segala hal itu menyenangkan?

Female player fact #16 : Sesungguhnya kami tidak takut komitmen
Cuma saja kami belum menemukan yang pas untuk diajak berkomitmen….

Sedikit misteri dalam sebuah relationship akan membuatnya semakin menarik. “Dont hate the player, hate the game.” Pada dasarnya ketika kamu sudah memasuki ranah ‘dating’ kamu harus bersiap untuk segala kemungkinan – termasuk rejection dari para players (mau wanita maupun pria).

Tidak perlu menjadi player sejati untuk menikmati kehidupan dating, cukup percaya diri (confidence) dalam level yang medium. Just be yourself and have no expectation, maka dating life pasti lebih menyenangkan - baik dijalani bersama player maupun bukan, hehehe……



Good luck in love and life!
Your friend;
@CiscaDV

Foto : Koleksi Jason Brooks.

Dating 101 : I Want a Happy Divorce!

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Judul tulisan diatas adalah persis sama dengan judul email yang dikirimkan oleh seorang kawan pada (soon-to-be-ex) suaminya. Ketika tidak ada lagi kalimat yang bisa dipikirkan, apa yang lebih baik daripada langsung ke topiknya, am I right or am I right?! #maksa


When one door of happiness closes, another opens;
but often we look so long at the closed door
that we do not see the one which has been opened for us.”
Helen Keller

Sudah genap setahun, sebut saja namanya Nadya tinggal berpisah dengan suaminya. Awalnya hanya untuk menguji ‘apakah saya bisa make it without you’, ataukah ternyata saya tidak bisa kalau hidup tanpa dirimu’, sekaligus menenangkan diri setelah kehidupan pernikahan Nadya tidak berjalan dengan mulus. Eh… ternyata dunia luar begitu indah dan ternyata Nadya jauh lebih baik hidup tanpa suaminya. Dan terhitung setahun sudah ia dan suaminya tidak pernah berkomunikasi lagi, begitupun keluarga mereka. Maka itu hari ini ia mengirimkan email kepada (mantan) suaminya itu, bahwa ia ingin berpisah, secara baik-baik. Ya, lewat email. Lucu ya…

“Menikah itu belum tentu berjodoh”, adalah suatu kutipan yang dilihatnya disuatu bacaan. Terdengar nyinyir dan mengisyaratkan bahwa pada dasarnya yang namanya manusia itu tidak akan pernah berhenti di satu titik kepuasan. Tidak perlu bawa-bawa Tuhan disini (kan pasti aja ada orang nyinyir sama tulisan ini trus  bilang “Tuhan tidak suka perceraian”) , lha ya memang betul, jangankan Tuhan, manusianya pun tidak suka yang namanya perceraian. Tapi mengapa ada pasangan yang bercerai? Saya melihatnya dari satu sudut pandang saja, yaitu untuk : move on menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Kenapa jadi lebih baik? Bukannya baiknya tetap bersama?.Mungkin ada baiknya pura-pura tetap bersama dan tidak saling mencintai just for the sake of ‘peduli terhadap pandangan orang lain’;  atau mungkin berhasil menumbuhkan rasa cinta itu kembali, ya sah-sah saja, kebahagiaan seseorang kan ada pada tangannya sendiri. Kalau pasangan tersebut merasa bahagia ketika rujuk, bukankah itu adalah sebuah hal yang indah? Idealnya sih begitu.

Lain halnya bila hidup serumah menjadi seperti neraka, tiap malam sang istri merasa di bawah ancaman suami (yang mustinya memberi rasa aman malah jadi mencekam, persis kayak suasana pasca kerusuhan gitulah…-red), dan masih banyak alasan lain, yang pastinya apapun itu tidaklah bagus. Orang yang berkata “Janganlah bercerai, ingatlah akan blablabla dan blablabla…” umumnya tidak tahu, bagaimana rasanya harus berada di bawah kepedihan tinggal bersama dengan seseorang yang (tadinya) kita kira mencintai kita - tapi ternyata tidak. Apalagi untuk kasus KDRT (kalau cinta kenapa musti harus main tangan ya? Itu ekspresi cinta dari mana pula itu…. –red). Maka perpisahan memang menjadi solusi yang baik, untuk kedua belah pihak, soal perasaan orang lain - yah kan bukan ‘orang lain’ yang menjalani kehidupan sebagai pasangan itu, am I right or am I right? (lagi-lagi maksa-red)

Tadinya Belahan Jiwa Kini ‘Hanya’ Orang Asing…

“Kalau gue sampai balik sama dia dan tinggal serumah lagi, mungkin pilihannya hanya ada dua, dia yang mati atau gue yang mati. Most likely sih gue yang mati,” ujar Nadya ketika ditanya apa alasan ia meminta cerai dari suaminya. “Tuhan tidak menyukai perceraian, tapi saya yakin Tuhan juga tidak ingin umatNya berada dalam tekanan batin yang luar biasa setiap harinya, ” tambahnya. Bukankah tiap manusia mempunyai hak untuk bisa hidup tenang dan bahagia?

Saya melihat ada unsur “legawa” (dalam bahasa Jawa artinya “ikhlas”) disini. Nadya justru memberikan kesempatan pada suaminya itu untuk kembali ‘memulai hidup baru’, untuk mendapatkan kesempatan untuk berbahagia dengan orang lain yang lebih baik daripada dirinya. Bagi Nadya, hidup bersama dalam kepura-puraan itu jauh lebih buruk, daripada hidup sendiri tetapi lebih bahagia.

Ketika ditanya apa ia tidak takut akan pandangan orang terhadapnya, dengan tegas ia menjawab kalau ia tidak peduli - karena selama ini dia tidak ‘minta makan’ dari orang lain, jadi kenapa harus menghukum diri dengan pandangan orang, toh ini hidupnya sendiri dan ia yang empunya hak penuh akan kebahagiaan.

“Memang saya belum punya anak, tapi kalaupun sudah, saya akan tetap menempuh jalur perceraian, ini demi si anak juga, supaya ia tidak hidup dibawah kepura-puraan orangtuanya, yang masih menikah, mungkin juga tidur seranjang, namun hatinya tidak terpaut pada pasangannya. Untuk apa, setelah si anak dewasa, ia juga akan paham bahwa lebih baik berpisah tapi hidup bahagia daripada bersama tapi seperti dalam drama ; never ending drama….,” ujarnya ketika ada yang bilang kalau beruntung dia belum punya anak.

Perkataan “keep in touch” sebenarnya adalah sebuah perkataan yang serius. Tidak adanya komunikasi lagi antara Nadya dan (soon-to-be-ex) suaminya ini membuat keduanya seperti kembali menjadi orang asing. “Saya tidak lagi mengenal dia. Bagi saya dia sudah seperti orang asing…,” ujarnya.


Perceraian Bukan Akhir Dari Segalanya

“Ketika saya mengucap sumpah pernikahan, saya tidak pernah sedikitpun membayangkan bahwa suatu saat saya akan bercerai dari suami saya,” ujar seorang sahabat suatu waktu. Ya, mana ada manusia yang memikirkan mengenai perceraian pada saat mereka mengucap sumpah. Menurut buku “Project Everlasting” mengenai rahasia sukses pernikahan, memang disebutkan janganlah kita meletakkan ‘perceraian’ sebagai suatu pilihan – namun tentunya dapat diakhiri apabila benar-benar harus terjadi.

Beberapa sumber yang saya baca, mendeskripsikan pernikahan sebagai satu kalimat ; yaitu : Komitmen. Dan bahwa beberapa hal yang bisa ‘membatalkan komitmen’ tersebut adalah :penipuan, perzinahan dan penyiksaan (batin dan fisik)*. Dan ketika ketiga hal ini terjadi, disarankan untuk ‘menyelamatkan diri anda sendiri’ dan seseorang tadi berhak untuk meletakkan posisi pernikahan tadi di posisi kedua.

I Want a Happy Divorce….

Hidup ini pada dasarnya tergantung dari bagaimana kita mempersepsikannya. Contohnya, pada waktu terjadi kecelakaan bermotor, ada yang melihatnya sebagai ‘aduh betapa nasib sial tengah dialami 2 mobil yang tabrakan tadi, kok bisa nasib buruk sekali?’ tetapi ada pula yang melihatnya sebagai ‘2 mobil tadi tidak salah, hanya saja sesuatu telah terjadi dan mengakibatkan mereka tabrakan, untungnya tidak ada yang terluka’, begitu lho….

Begitu pula dengan cara kita memandang sebuah perceraian. Apabila dipandang sebagai ‘akhir dari segalanya’ maka terjadilah menurut pemikiranmu. Tapi apabila dipandang sebagai ‘langkah untuk menempuh kehidupan baru yang lebih baik,’ pastinya akan bermakna beda. Pasti ada masa-masa kesedihan atau depresi yang akan dialami tiap pasangan yang akan bercerai, namun fokuslah untuk menjalani hidup yang lebih baik ketika semua prosesnya berakhir.

Perlu diketahui, bahwa alasan saya menulis tulisan ini bukanlah untuk mendukung adanya perceraian. Tidak ada yang menyukai kata ‘cerai’. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan tentunya. Namun apabila itu terjadi, saya ingin membantumu melihat bahwa di luar sana hidup baru akan menunggu kamu, kamu tinggal harus mengontrol persepsimu atas perceraian tadi.

Ibarat menaiki sebuah kapal, apabila kita tenggelam, hanya ada dua pilihan yang bisa diambil, yaitu : tetap tenggelam atau belajar untuk berenang agar selamat. Its your choice – sink or swim!

Perceraian memang suatu akhiran alias ending, namun dapat juga menjadi awalan kehidupan baru yang lebih baik.

When you fall in a river, you’re no longer a fisherman;
you’re a swimmer.” - Gene Hill


Best of Luck in Love and Life!
Your friend,
@CiscaDV


Jakarta, Februari 2012
Tulisan ini saya persembahkan bagi kamu, yang pernah atau sedang menjalani proses perceraian.
Saya percaya bahwa kamu akan menjadi pribadi yang kuat setelahnya.
Untuk kehidupan yang lebih baik….