
Judul tulisan diatas adalah persis sama dengan judul email yang dikirimkan oleh seorang kawan pada (soon-to-be-ex) suaminya. Ketika tidak ada lagi kalimat yang bisa dipikirkan, apa yang lebih baik daripada langsung ke topiknya, am I right or am I right?! #maksa
“When one door of happiness closes, another opens;
but often we look so long at the closed door
that we do not see the one which has been opened for us.”
Helen Keller

Sudah genap setahun, sebut saja namanya Nadya tinggal berpisah dengan suaminya. Awalnya hanya untuk menguji ‘apakah saya bisa make it without you’, ataukah ternyata saya tidak bisa kalau hidup tanpa dirimu’, sekaligus menenangkan diri setelah kehidupan pernikahan Nadya tidak berjalan dengan mulus. Eh… ternyata dunia luar begitu indah dan ternyata Nadya jauh lebih baik hidup tanpa suaminya. Dan terhitung setahun sudah ia dan suaminya tidak pernah berkomunikasi lagi, begitupun keluarga mereka. Maka itu hari ini ia mengirimkan email kepada (mantan) suaminya itu, bahwa ia ingin berpisah, secara baik-baik. Ya, lewat email. Lucu ya…
“Menikah itu belum tentu berjodoh”, adalah suatu kutipan yang dilihatnya disuatu bacaan. Terdengar nyinyir dan mengisyaratkan bahwa pada dasarnya yang namanya manusia itu tidak akan pernah berhenti di satu titik kepuasan. Tidak perlu bawa-bawa Tuhan disini (kan pasti aja ada orang nyinyir sama tulisan ini trus bilang “Tuhan tidak suka perceraian”) , lha ya memang betul, jangankan Tuhan, manusianya pun tidak suka yang namanya perceraian. Tapi mengapa ada pasangan yang bercerai? Saya melihatnya dari satu sudut pandang saja, yaitu untuk : move on menuju ke kehidupan yang lebih baik.
Kenapa jadi lebih baik? Bukannya baiknya tetap bersama?.Mungkin ada baiknya pura-pura tetap bersama dan tidak saling mencintai just for the sake of ‘peduli terhadap pandangan orang lain’; atau mungkin berhasil menumbuhkan rasa cinta itu kembali, ya sah-sah saja, kebahagiaan seseorang kan ada pada tangannya sendiri. Kalau pasangan tersebut merasa bahagia ketika rujuk, bukankah itu adalah sebuah hal yang indah? Idealnya sih begitu.
Lain halnya bila hidup serumah menjadi seperti neraka, tiap malam sang istri merasa di bawah ancaman suami (yang mustinya memberi rasa aman malah jadi mencekam, persis kayak suasana pasca kerusuhan gitulah…-red), dan masih banyak alasan lain, yang pastinya apapun itu tidaklah bagus. Orang yang berkata “Janganlah bercerai, ingatlah akan blablabla dan blablabla…” umumnya tidak tahu, bagaimana rasanya harus berada di bawah kepedihan tinggal bersama dengan seseorang yang (tadinya) kita kira mencintai kita - tapi ternyata tidak. Apalagi untuk kasus KDRT (kalau cinta kenapa musti harus main tangan ya? Itu ekspresi cinta dari mana pula itu…. –red). Maka perpisahan memang menjadi solusi yang baik, untuk kedua belah pihak, soal perasaan orang lain - yah kan bukan ‘orang lain’ yang menjalani kehidupan sebagai pasangan itu, am I right or am I right? (lagi-lagi maksa-red)

Tadinya Belahan Jiwa Kini ‘Hanya’ Orang Asing…
“Kalau gue sampai balik sama dia dan tinggal serumah lagi, mungkin pilihannya hanya ada dua, dia yang mati atau gue yang mati. Most likely sih gue yang mati,” ujar Nadya ketika ditanya apa alasan ia meminta cerai dari suaminya. “Tuhan tidak menyukai perceraian, tapi saya yakin Tuhan juga tidak ingin umatNya berada dalam tekanan batin yang luar biasa setiap harinya, ” tambahnya. Bukankah tiap manusia mempunyai hak untuk bisa hidup tenang dan bahagia?
Saya melihat ada unsur “legawa” (dalam bahasa Jawa artinya “ikhlas”) disini. Nadya justru memberikan kesempatan pada suaminya itu untuk kembali ‘memulai hidup baru’, untuk mendapatkan kesempatan untuk berbahagia dengan orang lain yang lebih baik daripada dirinya. Bagi Nadya, hidup bersama dalam kepura-puraan itu jauh lebih buruk, daripada hidup sendiri tetapi lebih bahagia.
Ketika ditanya apa ia tidak takut akan pandangan orang terhadapnya, dengan tegas ia menjawab kalau ia tidak peduli - karena selama ini dia tidak ‘minta makan’ dari orang lain, jadi kenapa harus menghukum diri dengan pandangan orang, toh ini hidupnya sendiri dan ia yang empunya hak penuh akan kebahagiaan.
“Memang saya belum punya anak, tapi kalaupun sudah, saya akan tetap menempuh jalur perceraian, ini demi si anak juga, supaya ia tidak hidup dibawah kepura-puraan orangtuanya, yang masih menikah, mungkin juga tidur seranjang, namun hatinya tidak terpaut pada pasangannya. Untuk apa, setelah si anak dewasa, ia juga akan paham bahwa lebih baik berpisah tapi hidup bahagia daripada bersama tapi seperti dalam drama ; never ending drama….,” ujarnya ketika ada yang bilang kalau beruntung dia belum punya anak.
Perkataan “keep in touch” sebenarnya adalah sebuah perkataan yang serius. Tidak adanya komunikasi lagi antara Nadya dan (soon-to-be-ex) suaminya ini membuat keduanya seperti kembali menjadi orang asing. “Saya tidak lagi mengenal dia. Bagi saya dia sudah seperti orang asing…,” ujarnya.

Perceraian Bukan Akhir Dari Segalanya
“Ketika saya mengucap sumpah pernikahan, saya tidak pernah sedikitpun membayangkan bahwa suatu saat saya akan bercerai dari suami saya,” ujar seorang sahabat suatu waktu. Ya, mana ada manusia yang memikirkan mengenai perceraian pada saat mereka mengucap sumpah. Menurut buku “Project Everlasting” mengenai rahasia sukses pernikahan, memang disebutkan janganlah kita meletakkan ‘perceraian’ sebagai suatu pilihan – namun tentunya dapat diakhiri apabila benar-benar harus terjadi.
Beberapa sumber yang saya baca, mendeskripsikan pernikahan sebagai satu kalimat ; yaitu : Komitmen. Dan bahwa beberapa hal yang bisa ‘membatalkan komitmen’ tersebut adalah :penipuan, perzinahan dan penyiksaan (batin dan fisik)*. Dan ketika ketiga hal ini terjadi, disarankan untuk ‘menyelamatkan diri anda sendiri’ dan seseorang tadi berhak untuk meletakkan posisi pernikahan tadi di posisi kedua.
I Want a Happy Divorce….
Hidup ini pada dasarnya tergantung dari bagaimana kita mempersepsikannya. Contohnya, pada waktu terjadi kecelakaan bermotor, ada yang melihatnya sebagai ‘aduh betapa nasib sial tengah dialami 2 mobil yang tabrakan tadi, kok bisa nasib buruk sekali?’ tetapi ada pula yang melihatnya sebagai ‘2 mobil tadi tidak salah, hanya saja sesuatu telah terjadi dan mengakibatkan mereka tabrakan, untungnya tidak ada yang terluka’, begitu lho….
Begitu pula dengan cara kita memandang sebuah perceraian. Apabila dipandang sebagai ‘akhir dari segalanya’ maka terjadilah menurut pemikiranmu. Tapi apabila dipandang sebagai ‘langkah untuk menempuh kehidupan baru yang lebih baik,’ pastinya akan bermakna beda. Pasti ada masa-masa kesedihan atau depresi yang akan dialami tiap pasangan yang akan bercerai, namun fokuslah untuk menjalani hidup yang lebih baik ketika semua prosesnya berakhir.
Perlu diketahui, bahwa alasan saya menulis tulisan ini bukanlah untuk mendukung adanya perceraian. Tidak ada yang menyukai kata ‘cerai’. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan tentunya. Namun apabila itu terjadi, saya ingin membantumu melihat bahwa di luar sana hidup baru akan menunggu kamu, kamu tinggal harus mengontrol persepsimu atas perceraian tadi.
Ibarat menaiki sebuah kapal, apabila kita tenggelam, hanya ada dua pilihan yang bisa diambil, yaitu : tetap tenggelam atau belajar untuk berenang agar selamat. Its your choice – sink or swim!
Perceraian memang suatu akhiran alias ending, namun dapat juga menjadi awalan kehidupan baru yang lebih baik.
“When you fall in a river, you’re no longer a fisherman;
you’re a swimmer.” - Gene Hill

Best of Luck in Love and Life!
Your friend,
@CiscaDV
Jakarta, Februari 2012
Tulisan ini saya persembahkan bagi kamu, yang pernah atau sedang menjalani proses perceraian. Saya percaya bahwa kamu akan menjadi pribadi yang kuat setelahnya.
Untuk kehidupan yang lebih baik….



Februari 6th, 2012 at 8:55 PM
Great Article….. Semoga bisa cepet jadi buku ya….
[Reply]
Februari 6th, 2012 at 9:51 PM
thanks,deeply thanks.
[Reply]
Februari 6th, 2012 at 9:52 PM
thanks,saya sangat menghargai ini.
[Reply]
Februari 6th, 2012 at 10:27 PM
Good story….anyway, kenapa ga dibahas kenapa nadya memutuskan untuk menikah? apakah karena cinta? kebiasaan bersama2 dengan si pacar jadi memutuskan untuk menikah atau desakan orang tua? apakah karena lembaga perceraian menjadi satu2nya lembaga untuk melegalkan perceraian?….coba lembaga perceraian tidak ada….apa nadya punya option lain?
anyway,i appreciate your opinion by writing this story
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 2:15 AM
ya beginilah jaman sekarang, cerai dan nikah sama gampangnya, alih-alih malah jadi seperti permainan saja hehehe.
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 6:49 AM
i want a happy…
Best of Luck in Love and Life! <– gak prnh ktinggalan
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 6:53 AM
pertamax
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 8:06 AM
ngga berani komen apa2, coz saya belum pernah ada di posisi seperti itu.
dan semoga ngga akan
gud luck aja deh buat yg sedang berada d posisi itu
semoga kuat
juz like u said cis
for a better life
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 9:31 AM
Gak ada siapapun yang berharap divorce. Tapi daripada saling menyakiti…,
Liat saja tuh anang dan krisdayanti. Akhirnya mereka masing2 bahagia. anak juga bahagia. keadaan tanpa saling menyakiti jauh lebih sehat bagi semuanya.
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 10:35 AM
Terkadang cinta saja itu adalah tidak cukup, bukan?.
Atau mungkin awalnya itu adalah bukan cinta sama sekali?.
Melainkan hanya suka.
?.
Cinta itu adalah ‘pilihan dan tanggung jawab’.
?.
[Reply]
indrimamamput Reply:
Februari 7th, 2012 at 1:08 PM
Setuju dengan kalimat terakhir …
cinta >> “pilihan dan tanggung jawab”
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 1:03 PM
nice…smoga bisa memberi pencerahan agar kita tidak mudah menghakimi org dalam kasus seperti ini.perceraian memang menyakitkan tapi akan lebih menyakitkan jika hidup dalam kepura-puraan
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 4:01 PM
Its really true n I’m agree with u,..tulisan ini sangat menginspirasiku yg saat ini baru saja melewati proses perceraian krn KDRT..awalnya memang terasa sangat berat hidup tanpa suami terlebih aku punya malaikat kecil disisiku yg blm genap 2 tahun..Namun dgn begitu byk org yg memberiku kekuatan, skrg alhamdulillah aku bs melalui hari2 berat..sekali lagi thx.
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 4:37 PM
nice..
saya setuju, saya sekarang sedang mengalaminya….
saya tidak berharap mengalami hal seperti ini, tp saya sudah berusaha insya Alloh semampu saya, cuman ternyata berpisah adalah keputusan terbaik…
di depan sana ada hidup yg lebih baik buat saya, dan saya harus raih itu….
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 5:10 PM
This is very nice article, really appreciate it
Soon I’ll get married, and this article makes me see another side of the married itself. Thanks for sharing .
[Reply]
Februari 7th, 2012 at 7:52 PM
ketika seseorang memutuskan untuk menikah… pasti sudah merencanakan dengan baik untuk kedepannya pula… tetapi saat ada perceraian itu bukan hasil tetapi proses yang memang harus dilalui…
ketika saya menikah nanti,saya hanya berpikir “saya mencintai lelaki ini dan saya percaya bahwa dia lelaki untuk saya”
thanks for the article
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 1:51 AM
perhatian artikel ini baik2. memang sharing, tp pembenaran diri atas tindakan2mu (sungguh sangat egois). kdrt memang dilarang. tp apakah wanita yg sudah menikah tapi masih berselingkuh (walau bnyk wanita yg tidak mau mengakuinya krn malu atau utk pembenaran diri mrk) tetap dibenarkan oleh masyarakat? krn jaman skrg adalah jaman emansipasi wanita. wanita ingin sejajar dgn pria tp mereka (wanita) tidak mau disamakan tanggung jawabnya dengan pria maka uu kdrt diadakan utk melindungi para wanita (kebanyakan), tp apakah ada uu perselingkuhan utk wanita yang berselingkuh? apakah wanita yg berselingkuh tidak melakukan kdrt thdp suaminya? mengapa kdrt dinilai hanya secara fisik saja dan kebanyakan hanya utk memojokkan kaum pria… apakah mereka tidak mengerti, jaman sekarang banyak dan bahkan banyak sekali wanita yang jg berselingkuh secara terang2an? cobalah utk tidak selalu membuat alasan pembenaran kelakuan diri anda. cobalah jikalau anda sendiri kalau anda sbg pria dan pasangan anda berselingkuh dengan teman baik anda dan pasangan anda selama ini yang anda percayakan bahwa mereka hanyalah sbg sahabat saja?
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 2:04 AM
saya sama sekali setuju dgn perceraian…. mengapa pikiran anda harus bercerai, mengapa tidak mencari jalan keluarnya dgn sebaik2nya dan mengapa anda mau menikah dengan dia? dgn alasan, dulu dia baik,skrg sudah berubah… mengapa dia bisa berubah? apakah pernah anda instropeksi diri mengapa pasangan kita berubah sifat dan sikap nya thdp kita? jangan mencari alasan utk bercerai tapi carilah alasan utk bersatu kembali. bnyk org bilang bercerai lbh baik dan banyak kok orang2 jaman skrg bercerai. hey… sadarlah perkataan anda itu. mana yg lbh bnyk bercerai atau bersatu kembali mjd keluarga yang utuh. mengapa org lain bisa bersatu kembali? mengapa anda tidak bisa? (alias bercerai). karena satu aja jawaban saya: karena anda adalah seorg yg sangat egois dan selalu mencari jalan utk bercerai (niat cerai > niat bersatu lg ) bukannya mencari jalan utk bersatu kembali tp krn niat anda memang udah mau bercerai…. benar tidak? ngaku aja sejujur2nya dari dalam hati anda. memang anda sudah tidak mau hidup bersama2 lg dgn dia. terus anda selalu menyalahkan pasangan anda dulu. bukannya anda instropeksi diri dulu. tp anda berharap pasangan anda spt harapan anda. mengapa tidak sebaliknya anda berpikir?
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 8:00 AM
thanks alot, divorce bukan akhir dr segalanya..tapi langkah awal memulai kehidupan yang lebih baik.semoga
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 9:21 AM
perkawinan adalah sebuah misteri, yang seharusnya memiliki tujuan bersama.sedangkan pilihan ada di tangan masing2…
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 9:42 AM
sepupu saya ngalamin ini. dia gugat cerai suaminya karena ga bahagia…dan setelah menikah lagi..Alhamdulillah dia bahagia dengan 3 orang anak yang super duper lucu dan suami yang menurut saya jaaauuuhhh lebih baik dr suami yg pertama…
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 9:50 AM
Nice artikel gan , thank you
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 11:48 AM
seringkali org tdk memahami, apalagi msh membawa embel2 ‘menurut adat ke-Timuran’…tapi, hidup di bawah tekanan batin itu luar biasa sekali susahnya…been there and i am happy now eventhough hrs menghadapi divorce consequences
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 11:55 AM
Artikel yang sangat menyentuh,
saya sedang mengalami proses tersebut, dan yang perlu digaris bawahi adalah lembaga perceraian sama sekali tidak membantu dalam hal perceraian karena saya butuh waktu 1/2 tahun sampai hari ini belum selesai juga.jadi lebih gampang menjadi nyonya dari pada mantan nyonya.
untuk para calon janda, pokoknya jangan patah semangat, cerai itu bukan akhir dari segalanya, kita harus mampu melangkah dan terus melangkah untuk kehidupan yang lebih baik.
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 12:25 PM
Nice, saya sekarang hidup sendiri bersama anak saya dari umur 1 bulan walaupun berat tapi saya jalanin dengan bersyukur krn bisa hidup sendiri dengan tidak ada kecurigaan di antara saya dan suami. life must go on ( demi sang buah hati ).
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 12:45 PM
Bagus sekali tulisannya tapi saya tetap yakin Tuhan mempertemukan dua insan dan menjadi satu tubuh bukan untuk dipisahkan segampang alasan logis seperti ulasan di atas. Dalam tulisan ini opsinya hanya daripada saling menyakiti/pura-pura lebih baik bercerai kenapa tidak ada opsi daripada saling menyakiti/pura-pura/ apaajalah (hal yang jelek)lebih baik mengubah diri untuk membuat kehidupan pernikahan lebih baik. Saya sangat tidak setuju apalagi dikatakan kalau anak akan bisa menerima dan mengatakan lebih baik orangtuanya bercerai daripada saling menyakiti/pura-pura. Kalaupun mereka seolah dapat menerimanya itu karena mereka tidak punya pilihan. Ketika anda punya anak dan menyayanginya sesuai dengan amanat Tuhan, anda akan berpikiran lain tentang perceraian. Kesimpulannya seburuk apapun pernikahan kita, kita tetap punya pilihan untuk mengubahnya menjadi lebih baik karena itulah Manusia dikatakan mahluk ciptaan Tuhan yang paling mulia. Terimakasih.
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 1:11 PM
saya mengalami hal ini, setelah bbrp bln berpisah,akhirnya saya dan suami memutuskan utk berpisah. walaupun kami sdh mempunyai 2 anak. kami berfikir justru ini jl yg terbaik utk psikologis anak2 kami. lebih baik pisah ketimbang anak2 melihat pertengkaran diantara kami. tapi kami tetap menjalin silaturahmi yg baik walaupun hal ini didasarkan demi kebaikan anak2 kami. dalam sebulan ada saatnya, kami berempat pergi bersama seperti sblum berpisah. kini, saya bahagia, mantan suami bahagia, anak2 kami juga bahagia. mereka bahagia karena ketika pergi bersama-sama, mereka tidak pernah melihat kami bertengkar lagi. saya sadar apa yg kami lakukan bukanlah suatu contoh yg baik, tapi mungkin bisa menjadi solusi bagi orang lain yg dalam posisi yg sama (bingung hrs memutuskan tetap bersama atau berpisah)….
[Reply]
Februari 8th, 2012 at 1:17 PM
Saya sudah mengalami, awalnya saya ragu untuk mengambil keputusan “Cerai”. Namun seiring terbukanya mata saya tentang perilaku mantan Suami yg makin menggila..sehingga cukup 8 tahun saya mengambil keputusan untuk berpisah.
Smoga ini yg terbaik. Hanya Allah yg tahu.
[Reply]
Februari 9th, 2012 at 7:23 AM
mungkin sama dengan putus sama pacar tp lebih mendalam
[Reply]
Februari 9th, 2012 at 8:39 AM
infonya keren
[Reply]
Februari 11th, 2012 at 1:42 PM
betul sekali, menikah itu belum tentu berjodoh…
lebih baik berpisah daripada batin tersiksa karena tiada kecocokan dengan pasangan
[Reply]
Februari 11th, 2012 at 3:50 PM
artikelnya bagus, pas banget ama kondisiku saat ini.
[Reply]
Februari 12th, 2012 at 8:14 AM
perkawinan awal dari kehidupan bersama
perceraian awal dari kebebasan baru
happy single parrent
[Reply]
Februari 16th, 2012 at 12:11 PM
Info top banget.
Modal copas?.
Tetapi bisa kaya?.
Bagaimanakah itu bisa terjadi?.
Temukan jawabannya di sini -> http://www.colourbearer.blogdetik.com/.
Bukan sulap ataupun mistik.
Melainkan intelektualitas dan profesionalitas.
Peace :).
[Reply]
Februari 19th, 2012 at 6:23 AM
Kalau segala cara sudah diupayakan dengan pikiran positif, namun selalu terbentur ke jalan buntu, memang pilihan “itu” mungkin lebih baik.
Hanya saja, untuk mereka yang sudah punya anak, perlu dicermati agar anak dapat tetap mendapatkan kasih sayang yang “penuh” untuk masa depan mereka.
[Reply]
Februari 19th, 2012 at 11:55 AM
wah sangat bermanfaat infonya
[Reply]
Februari 25th, 2012 at 4:59 PM
sangat menenangkan….stlah 15 tahun menjalani dgn rasa tertekan krn takut akan pandangan orang dan Tuhan, dan akhirnya berpisah 1 tahun sbelum akhirnya berani menggugat, akhirnya sy merasakan artinya rumah tangga yg tenang dan menyenangkan dgn melihat masa depan yg lebih cerah…..aamiin, thanks cisca
[Reply]
Maret 20th, 2012 at 2:09 PM
postingan pencerahan nii mbak
[Reply]
Maret 28th, 2012 at 6:13 PM
Ketika anda berada dalam situasi yang tidak lagi menginginkan perkawinan, namun Anda tidak “mampu”untuk meninggalkannya, itu berarti Anda terperangkap dalam hubungan dan komitmen perkawinan Anda.
[Reply]
Mei 4th, 2012 at 5:44 PM
mantab sekali cisca…. dan saya baru baca post ini *brb ambil tissu*
[Reply]
Mei 5th, 2012 at 8:11 AM
owwwhhh jadi gitu ya,,,, terimaksih atas semua informasinya,,,,
[Reply]