#Dating 101 : Mr. Right atau Mr. Right Now?

23 Aug 2012

jasonbrooksimagesblogdetik

Pertanyaan Kapan Nikah akan terasa lebih sadis kalau ditanyakan kepada seorang wanita yang sudah pacaran selama bertahun-tahun tapi belum kunjung dinikahi oleh pasangannya ; daripada diajukan kepada mereka yang jomblo. Kenapa? Karena kalau si wanita tadi bertanya pada pacarnya Aku kapan dinikahi, hasilnya bisa bervariasi - antara : si pria cari alasan mengakhiri relationship; atau oke menikah tapi agak kepaksa.

Seorang teman yang cantik, pintar, mapan dan single pernah bertanya kepada saya, kenapa ya pacarnya nggak mau nikahin dia, padahal mereka sudah hidup bersama selama kurang lebih 3 tahun. Saya sebagai seorang yang bukan pakar relationship, asal nyablak dengan menjawab Lha ngapain musti repot ngawinin elu, kalau sekarang aja rasanya udah kayak kawin sama elu?, dengan ngasalnya. Saya juga heran kenapa jawaban saya kayak laki-laki player begini ya. Pastinya saya jadi nggak enak sama teman saya itu, abis dia langsung diem sih, eh terus nangis…. haduh.

Lalu saya juga punya seorang teman pria, eksekutif, mapan, duda tanpa anak, ganteng udah pokoknya bachelor idaman. Dia enggan menikah lagi dengan alasan trauma dengan pernikahan pertamanya. Ini alasan yang lumayan mumpuni. Siapa yang tahu kapan orang bisa sembuh dari trauma? Bisa setahun, dua tahun, sejam, dua jam, seumur hidup mungkin? (siapa tahu berat bener-red).

Tapi yeah right, semua juga bisa trauma kali?! Jaman kuliah saya pernah naik bis patas lantas kecopetan tapi apa saya trauma naik bis? Ya kan nggak…lha wong nggak ada lagi, hehehe….). Beberapa wanita mungkin bisa menerima alasan tadi, saya kok nggak ya…. walau, saya akan beralasan yang sama apabila ditanya Apa saya ingin menikah kembali? *senyum sok keren*

jasonbrooksblogdetikcisca

Ketika googling mengenai hal ini, saya menemukan artikel keren dari CNN (gila ya, sampe dibahas loh sama CNN-red) tentang Do Men Want To Get Married, Or Not? jreng jrenggg! Ini dia nih pikir saya. Dan ternyata riset yang dilakukan oleh National Marriage Project di Rutgers University, terhadap 60 pria single usia 25 sampai dengan 33, 10 hal berikut adalah alasannya;


1. They can get sex without marriage more easily than in times past

–> Ummm….mungkin ini yang saya tadi katakan ke teman saya yang kemudian saya bikin nangis itu. Ya segala sesuatu kalau gampang dapatnya, makin lama orang akan juga malas untuk berusaha. Why must buy the cow if you can get the milk for free? Saya rasa disini pembaca saya sudah pada cukup besar untuk bisa memahami bahwa, di jaman yang serba gila ini, tidur dengan pacarmu bukan berarti suatu kepastian bahwa kamu akan dinikahi lho. I am just saying supaya matamu agak sedikit melek saja… (oh mengapa saya begitu bitchy?-red)


2. They can enjoy the benefits of having a wife by cohabitating rather than marrying

—> Ya bener juga. Ada orang bilang Ya terang aja dia dimanja, orang dia pacarnya coba kalau jadi istrinya, waktu saya dibelikan ini itu tanpa diminta oleh pacar saya. Kalau pakai pikiran positif sih mustinya pas jadi istri ya disayang lebih dong daripada pas jadi pacar. Eh, apa nggak? #persoalan


jasonbrooksicecream

3. They want to avoid divorce and financial risks

—> Apalagi bagi yang sudah cerai, dengan besarnya tunjangan yang gila-gilaan (bagi yang sudah punya anak) dan (maaf) tidak begitu super tajir. Bukannya apa, saya berpikir bahwa, masalah kemapanan adalah salah satu yang paling gampang men-trigger ego laki-laki. Laki-laki kan ingin menunjukkan power-nya, salah satunya dengan tingkat kemapanan tadi. Errr…….. apa nggak yah?


4. They want to wait until they are older to have children

—> Teman saya bilang, punya anak saja pas diusia 25, jadi pas usia kita 40 nanti anak kita bisa jadi seperti teman kita. Saya bilang, hell no! Emangnya pas usia 40 tahun nanti gue mau ngerecokin si anak disuruh bergaul melulu gitu sama maminya? Lah dia kan juga pingin punya teman sendiri. Dan kalau alasannya financial (supaya pas kita diusia tidak produktif, si anak sudah bisa cari kerja sendiri) ya kerja keraslah sekarang supaya bisa menghidupi si anak. Saya suka sama pendapat nomor 4 ini.


5. They fear that marriage will require too many changes and compromises

—> Mungkin saja. Belum saja si pria tadi melihat wajah pacar ketika bangun pagi hari. Yang biasanya Paramitha kemudian jadi Parahbanget mungkin bikin shock. Belum lagi hal-hal lain yang nggak keluar pas pacaran. Bisa dimengerti.


6. They are waiting for the perfect soulmate and she hasnt appeared yet

—> Hopeless romantic. Terus…. kalau yang dirasa soulmate adalah istri orang bagaimana? Mau tetep dikawinin juga? Errrrr….. #persoalan



jasonbrooksciscadv

7. They face few social pressures to marry

—> Good, jadi pas Lebaran atau Natalan atau pertemuan keluarga memang nggak ada keluarganya yang nanya pertanyaan ambigu seperti Kapan Nikah? hehehe…..


8. They are reluctant to mary a woman who already has children

—> Sadly but true. Saya punya teman pria yang agak mikir mau menikahi pacarnya, hanya karena pacarnya janda beranak tiga. Well bukan salah si pria ini juga. Bapak saya pernah bilang, tugas utama seorang bapak ada tiga, satu : memberi nama (baik) pada si anak, kedua : memberinya bekal ilmu setinggi-tingginya, dan ketiga : menikahkannya. Kedengaran simple ya, tapi coba aja jadi bapak dengan anak yang pembangkang dan bandel kayak saya, pasti kerasa deh susahnya. Bukan salah pria, bukan salah si janda mereka hanya perlu berpikir panjang saja. This is a very sensitive matter and I am not a pro, jadi mending saya diem deh…. (tumben, biasanya nyinyir-red).


9. They want to own a house before they get a wife

—> Good point! Barangsiapa menjadi laki-laki dan berpikir kalau nantinya setelah nikah kita bisa hidup dimana saja dialah laki-laki yang ngawur (menurut saya-red). Saya rasa ini adalah bentuk tanggung jawab. Asal perlu diingat, manusia tidak pernah puas. Mau punya berapa rumah? Satu, dua, tiga? When is enough is enough? #persoalan


10. They want to enjoy single life for as long as possible

—> Saya selalu menelepon ibu saya setiap hari. Dan ibu saya pun selalu menelepon ibunya setiap hari. Rutinitas yang tradisional jaman modern ini, tapi saya menganggapnya sangat penting. Yang menohok adalah, ketika ibu bertanya, Kalau kamu nggak punya anak, besok siapa yang akan telepon kamu? (Yah gak mungkin mau dijawab masak mas-mas delivery KFC ; khan nggak mungkin juga-red). Skor 1:0 untuk ibu.


—> Anyway, siapa sih yang nggak mau merasakan hidup single yang menyenangkan dalam waktu lama? Semua juga mau. Tapi di satu titik memang kita musti berhenti dan sadar bahwa kita kan nggak bisa muda selamanya. Gitu aja sih…. #jleb


jasonbrookstogethercoffee

Sebagai seorang wanita, saya tidak menampik keinginan untuk membangun keluarga dengan Mr.Right saya nantinya. Hanya saja, saya ingin dia menikahi saya ketika dia siap dan atas keinginannya sendiri daripada saya yang membentuk keinginannya. Bagi saya, dengan ia mencintai saya apa adanya; dengan segala kekurangan saya dan bertanggung jawab (ini penting, karena bagi saya level kejantanan pria diukur dari tanggung jawab dan bukan kata-katanya) atas kebahagiaan saya. He always ready to take a full responsibility for my happiness. Itu saja sudah membuat saya sangat bersyukur.

Saya sendiri bukan pribadi yang merasa bahwa menikah itu adalah satu-satunya jalan agar kita bisa bahagia (yes, setelah ini pasti saya akan menerima banyak komen pedas dari mereka yang suka memburu-buru orang agar segera menikah, hiks…). Tapi kalau pernikahan itu memang yang membuatmu bahagia - ya usahakanlah bagaimana caranya, dengan halal tentunya, untuk menikah.

Buat kamu yang lagi bimbang karena tidak kunjung dinikahi, kamu jangan sedih itu bukan salahmu 100% - bukan juga salah si pria. Jangan terburu-buru. Segala yang terburu-buru itu hasilnya belum tentu baik (duh, percaya deh sama saya buat yang satu ini-red). Kamu lari ngejar bis saja begitu naik - tetap bisa salah jurusan kok, apalagi menikah (hehehe, analogi yang gila….-red).


ciscadvjasonbrooks

Ambil waktu untuk berpikir. Bukan tidak mungkin si Mr. Right Now akan jadi Mr. Right yang mengajak kamu ke pelaminan. Saya percaya dan yakin, masih banyak laki-laki baik di dunia ini yang ingin menikah dan membangun keluarga.

Dan buat kamu, temanku yang cantik, dengan dia atau tidak dengan dia (yeah , youve heard me with or without him), menikah itu hanya soal masalah waktu saja….. ;)


Good luck in love and life!

xoxo,

@CiscaDV


*Foto : Koleksi Jasonbrooks.com


TAGS


-

Author

Follow Me