#Dating101 : My Heart Will Move On

12 Oct 2012

“Dulu sebelum ada dia kamu kan baik-baik saja? Sekarang nggak ada dia juga pasti akan baik-baik saja. Dulu nggak kenal dia kamu nggak mati kan? Sekarang nggak kenal dia lagi juga pasti kamu nggak  mati….,” ujar teman saya menasihati saya yang sedih berat gara-gara blackberry saya rusak dan akhirnya mati total.

“Life is about making the right decisions and moving on.” –Unknown-

“Life is about making the right decisions and moving on.” –Unknown-

Ya, ini masih tulisan soal Dating-datingan yang kalian suka baca dan cela (dan puji, #uhuk) itu, dan isi tulisan adalah soal move on, relax …we will get through that part. Saya mau memberi contoh dari perspektif lain - kisah saya. Suatu hari blackberry saya mati total setelah bertahun-tahun bersama senang dan susah. BB dan saya sudah seperti kulkas dan magnet. Bolak balik rusak pun saya bertahan, “karena blackberry adalah kuntji” adalah “semboyan” saya. Saya bisa mati kalau nggak pake BB.

Maka waktu BB saya ‘memutuskan’ hubungan dengan saya, saya merasa sepi dan takut ‘kesepian’. Lalu saya coba sehari, dua hari, seminggu nggak pakai BB dan ternyata saya baik-baik saja. Nggak ada beban ‘diperbudak bbm’ dan bbm group. Saya juga tidak ada masalah dengan orang-orang dekat yang biasa berkomunikasi on daily basis (mereka bisa sms dan telepon saya di nomor lain), tidak ada yang berubah dalam hidup saya, kecuali lebih tenang. Nyetir juga santai nggak kepingin baca ini itu di BB. Buat mereka yang tidak dekat dengan saya memang jadi masalah. Mereka mungkin berpikir “Cisca yang pakai BB” dan “Cisca yang tidak pakai BB” adalah orang yang berbeda (yeah I know it’s sound stoopid, sampai ada yang beneran bilang begitu!-red). Mereka kurang usaha untuk komunikasi dengan saya, saya-nya juga gitu, yah seleksi alam.

Lagipula saya punya prinsip teman sejati itu layaknya tas, sedikit tapi asli lebih baik daripada banyak tapi palsu. Oh, kembali ke BB, benda yang pernah menjadi ‘jantung hati’ saya itu, tanpanya, ternyata saya nggak mati.

“You are responsible for your life. You can't keep blaming somebody else for your dysfunction. Life is really about moving on.” –Oprah Winfrey-

“You are responsible for your life. You can't keep blaming somebody else for your dysfunction. Life is really about moving on.” –Oprah Winfrey-


Terus gue musti bilang “Wow” gitu?! Apa hubungannya dengan tulisan ini?!
Seorang pembaca blog saya mengirim email ke saya, katanya sudah curhat sampai memble tapi belum tahu caranya move on. Merana terpenjara cinta (lebay) karena ‘belum bisa move on dari mantan’ dan merasa dirinya pantas masuk UGM kw-1 alias (Universitas Gak Move-On) dan merasa diri akan berakhir masuk ke ‘Panti Jomblo’ saking kelamaan nggak move on.

Saya bukan ‘pakar move on’, saya kalau putus cinta juga nangis kok, hanya karena saya (agak) bitchy bukan berarti saya bukan manusia. Saya tadinya juga nggak mau bikin tulisan #Dating101 dengan tema move on…. sampai suatu hari Tuhan membuka mata saya dengan cara memusnahkan hubungan saya dengan blackberry.

Jangan keburu bilang nggak sepadan. That blackberry means the world to me and one of the greatest things that ever happened in my life! (Lebay tiada tara-red) Di dalamnya tersimpan ribuan nomor telepon mulai dari delivery fastfood sampai pejabat setingkat Menteri, Pemimpin redaksi, fashion editors, big boss perusahaan multinasional, sosialita mulai dari level asli sampai palsu, orang-orang yang ngutang ke saya (sialnya belum bayar-red), sampai ke teman akrab sejak SD. Saya tidak pernah memback-up data dan semua itu hilang! Apa? Bodoh? Ummm… kamu dulu waktu memutuskan untuk punya relationship dengan orang yang bakal bikin susah move on ini juga agak bodoh bukan?! Hehehe….

Kehilangan blackberry bisa membuat saya kehilangan kontak penting yang berhubungan dengan pekerjaan, kehidupan sosial, keluarga, kontak dengan pacar ataupun future pacar, sampai ke kontak yang paling simpel tapi penting semacam tukang ojek langganan. Kamu kehilangan satu kontak dengan mantan dan bilang kalau kamu kehilangan dunia dan ‘your inner-self’…..

“If someone you love hurts you cry a river, build a bridge, and get over it.” –Unknown-

“If someone you love hurts you cry a river, build a bridge, and get over it.” –Unknown-

Apa dengan menemukan seseorang yang baru akan membuat kamu cepat move on?
Ya, apabila orangnya memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada mantan dan ada ketertarikan mutual ; dan tidak - apabila hanya untuk pelarian. Memberi waktu pada diri sendiri untuk mencerna, apa yang hilang dan apa yang bisa kamu temukan di masa yang akan datang sebetulnya lebih membantu.

Saya sih nggak bilang kalau saya kece dan mudah saja dapat gandengan baru selepas putus dengan mantan - walau periode ‘berduka’ saya biasanya paling lama hanya sebulanan. Kenapa saya bisa cepat dapat gandengan baru, itu karena saya sadar bahwa menjadi bahagia adalah ‘pembalasan’ yang paling baik dan paling tidak sadar dapat kita lakukan - apabila sudah tidak ada dendam pada mantan.

Forgive? yes, forgot? belum tentu. Boleh saja menyimpan kekesalan di dalam hati pada mantan, tapi sedikit saja - di kadar yang tepat untuk mengingatkan kamu supaya bisa bilang ; ‘no! I will not get back on that crazy road again!’ apabila rasa ingin balik itu ada.

“People can be more forgiving than you can imagine. But you have to forgive yourself. Let go of what’s bitter and move on.” –Bill Cosby-

“People can be more forgiving than you can imagine. But you have to forgive yourself. Let go of what’s bitter and move on.” –Bill Cosby-

Kalau dia yang menyakiti saya (saya yang jadi korbannya), apa lebih mudah buat saya untuk move-on?

Ya. Saya selalu merasa, “Lebih susah jadi yang ditinggal daripada yang meninggalkan” – yang meninggalkan biasanya sudah lega dan sudah melangkah ke suatu frase baru. Sementara yang ditinggal biasanya jadi galau dan mengalami penyesalan akut. Apalagi kalau ditinggalin (diputusinnya-red) karena ketahuan selingkuh – itu biasanya agak sedikit yah, nyesel lah – walau nantinya waktu juga yang akan membuat lupa. Yah mungkin pada saat ini manusia cenderung pencitraan atau denial, tapi itu semua sah saja. Lah kamu kalau diputusin sama pacarmu pasti kamu ngomongnya kamu yang mutusin dia khan dan bukan sebaliknya? *hehehe*

Selalu ada yang bisa ditarik dari setiap perpisahan. Dulu saya benci banget sama mantan saya, sampai-sampai saya pikir kalau kambing didandanin masih lebih cakep daripada mantan saya. Tapi sekarang saya bersyukur (walau nggak sampai berterimakasih sih sama dia-red) karena kalau dia dulu tidak menyakiti saya, sekarang saya tidak akan ketemu sama si dia (pacar baru-red) yang membuat hari-hari saya jauh lebih bahagia.

Dan ya, saya merasa lebih enak move-on (lebih sah maksudnya-red), apabila mantan saya sudah lebih dulu move-on.

Apa move-on perlu deklarasi?

Ya. Kalau kamu masih berusia 15 tahun-an. Kalau sudah berusia 30 tahun keatas biasanya sih nggak, kalaupun iya, pastilah ngeri sekali….hehehe. Mendeklarasikan move-on secara gamblang lewat social media, membuat kaos atau bahkan bendera sekalipun mungkin boleh buat lucu-lucuan. Tapi buat saya tidak ada cara ‘deklarasi’ yang lebih keren daripada ‘memiliki pacar baru yang lebih keren daripada mantan.’ Satu aksi yang mewakili berjuta kata. Ahh……

Saya juga paling bingung kalau dengan kisah gara-gara diputusin pacar, seseorang kepingin melakukan hal yang merusak diri seperti mau bunuh diri dan semacamnya. Enjoy life, there’s plenty of time to be dead.

Tidak perlu juga memaksa sang mantan untuk kembali kepada anda. Orang yang sudah tidak mau, tidak usah dipaksa. Tidak perlu juga berakting seperti anda adalah korban atau berakting sedih, atau mendadak religius. Segala sesuatu yang pura-pura (diluar kebiasaan anda) itu biasanya nantinya akan ketahuan. Lebih baik bersikap dewasa dan elegan.

Berakting seperti korban justru akan membuat orang baru melihat anda seperti artis sinetron. Tidak perlu mencari kambing hitam atas perisitiwa yang terjadi dalam hidupmu (siapa yang bertanggung jawab atas hancurnya hatimu-red), refleksi diri, akui kesalahan, maafkanlah kesalahan dirimu sendiri dulu.

dating101moveon5

Seorang pria teman saya, usianya sudah memasuki 40 tahunan (mungkin ini dia namanya berondong tua, karena kelakuan mirip berondong di usia tua-red), sulit sekali move-on dan tiap bicara selalu soal mantan mantan dan mantan. Kalaupun bicara topik lain nanti baliknya ke mantan lagi. Mirip arwah penasaran. Biasanya arwah penasaran karena ada hal duniawi yang belum terselesaikan. Mungkin teman saya itu ada urusan yang belum selesai dengan mantannya itu, atau memang susah laku saja dengan perempuan baru. Entahlah… (lalu penulis menatap bintang di langit, biar kesannya puitis kayak di film-film gituloh-red)

Kembali ke blackberry, sekarang saya sudah move-on dengan memakai perangkat komunikasi lain. Saya belajar satu hal, saya bisa karena biasa. Bebas ketergantungan dari hal yang sudah menahun memang sulit ya, tapi bukannya tidak mungkin, bisa jadi malah hasilnya menjadi lebih baik. Saya sudah memaafkan diri sendiri juga (karena kesalahan tidak memback-up data) dan menjadikan itu sebagai pelajaran. Nah, sekarang saya bisa legowo move-on-nya.

Yah memang kalau orang mau menemukan yang lebih baik, biasanya mereka memang dibuat susah dulu….

Happy move-on,

Your friend,

@CiscaDV

####

Foto : Hed Kandi Collection.


TAGS


-

Author

Follow Me