#Dating101 : Pria Modal Dengkul

1 Dec 2012

Catatan : Tulisan ini hanya boleh dibaca oleh mereka yang open-minded dan sudah pernah dimuat di majalah MALE (Detik.com) edisi 18-25 November 2012, kalau tidak percaya download saja di male.detik.com pemirsa….

ciscadv

Belakangan saya mengamati perilaku pria di sekeliling saya, dan dari beberapa cerita sahabat, tentang ‘Apa sih yang paling menggelitik ego pria?’ ; that one thing yang kalau disindir atau mereka merasa tersindir, mereka bisa menjadi pribadi yang berbeda dari yang biasanya (saya sih menggambarkan ini sebagai ‘keluar aslinya’) hehehe. Ternyata bukan soal fisik, atau hal-hal yang menyangkut SARA, apalagi urusan ranjang…..

male1

Modal

Modal yang saya maksud disini adalah level kemapanan finansial - kurang lebih bahasa elegannya sih begitu. Eit, bedakan antara ‘Materialistis’ dan ‘Realistis’. Idealnya pria adalah penyedia bread and butter dalam keluarga. Men must provide. Wanita, seberapa besarnya penghasilannya, bukan dalam kodratnya untuk mensupport pria - walau pria tadi penghasilannya lebih rendah. Tetap satu hal yang harus dimiliki pria kalau tidak mau dibilang ‘mokondo’ (tentang apa kepanjangan istilah ini coba anda tanya sama teman saja ya, kalau ditulis disini, bisa-bisa saya dipecat jadi penulis); yaitu tanggung jawabnya untuk provide bagi pasangannya.

Tetangga saya, seorang wanita yang menikah di usia yang tidak muda lagi. Sang suami yang berusia kurang lebih sama, tidak memiliki kemampuan finansial yang baik. Berdua mereka menumpang di rumah orangtua dan untuk kebutuhan sehari-hari, si wanita-lah yang bekerja serabutan, mulai dari membuat bisnis katering kecil-kecilan sampai berjualan batik kulakan. Mobil yang dibeli si wanita juga ludes dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lho suaminya ngapain? Ya sehari-harinya di rumah saja mengurus anak - seperti tidak ada lagi bagian dari otaknya yang bisa digunakan untuk mencari kerja dan menghidupi anak dan istrinya dengan layak. Tell me can you be happy with that kind of life? Hebat kalau bisa.

Berdiri Di Atas Kaki Sendiri

Ya masak di atas kaki orang lain? Kan aneh. Sebuah kisah nyata, sebut saja namanya Hendry - anak bungsu dari 3 bersaudara (semua laki-laki). Hendry baru saja menikah dan ayahnya baru saja meninggal (dengan perginya sang ayah, praktis Hendry sebagai anak yang berpenghasilan paling besar, merasa wajib membantu keuangan keluarga). Setiap bulannya, Hendry harus menanggung biaya kakak-kakak laki-lakinya (ya, anda tidak salah baca) dan keluarga kakak-kakak laki-lakinya (termasuk istri ya) dengan biaya-biaya rutin tetek bengek seperti bayar listrik sampai ke belanja bulanan. Semua karena dua kakak laki-lakinya tidak berpenghasilan sebesar dia (salah satunya malah tidak bekerja sama sekali). Hal ini membuat lantas kemudian tabungan pasangan muda Hendry dan istrinya ini defisit. Kapan bisa menabung demi masa depan keluarga sendiri, kalau harus memberi makan ’segerbong kereta’ di belakangnya?

Mendengar kisah Hendry, saya rasa hal ini tidak benar dilakukan terhadap keluarga kaya, apalagi sama keluarga yang ‘baru menabung supaya kaya.’ Dan kalau ditilik penyebab utamanya balik lagi ke pria yang tidak modal (ya dua kakak Hendry tadi mustinya kerja yang lebih giat lagi, supaya dapat menghidupi keluarga sendiri dengan hasil keringat sendiri). Itu baru namanya pria, bukan?

Saya Adanya Begini, Kamu Mau Apa Nggak?

Pertanyaan yang diajukan kaum pria kalau mereka merasa terjepit. Mantan pacar saya pernah bilang dengan nada setengah mengancam begini ke saya, ketika saya menolak untuk menikahinya, karena saya rasa tingkat kemapanan finansialnya belum cukup untuk - bahkan memenuhi kebutuhan hidup sendiri apalagi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kontan saja saya menjawab ‘Nggak’ dengan santai. Dan tentu saja kami langsung putus. Ia kemudian menikah dengan gadis ‘biasa banget’, tidak career oriented, tidak mengerti ‘dunia persilatan’ dan mereka hidup menumpang di rumah orangtua istri. Sehari-harinya sang istri berjualan kue kering (bahasa kerennya ‘homemade cookies’) dan si pria ini senantiasa berpindah-pindah pekerjaan dengan penghasilan seadanya. Baiklah kalau mereka bisa bahagia dengan kondisi finansial bulanan yang seadanya, tapi saya yakin, terserah mau dibilang bitchy atau tidak, kebanyakan wanita yang memiliki kemapanan finansial tidak akan mau.

Karena Rupiah Kamu Berubah

Begitu melihat besarnya tunjangan yang harus diberikan ke mantan istri (untuk biaya hidup dua anak mereka yang masih kecil), sebut saja Reza, langsung naik pitam dan bilang “Kok banyak amat? Kamu kan tahu berapa penghasilan saya?! Gila ya kamu minta segini buat anak? Anakmu kalau nggak saya kasi duit bisa mati ya?!,” tanyanya semi-kesetanan dalam sebuah percakapan via telepon. Istri baru Reza, yang selama ini melihat dia romantis, kalem, lembut, penyayang dan blablabla…(maklum istri muda), langsung kaget. “Lho kok gini ya ternyata aslinya suami gue? Kalau ditagih soal uang - langsung ngamuk,” pikirnya dalam hati.

Ego pria yang tersentil, lantas tidak bisa menunjukkan power dan kelihatan kelemahannya- akibatnya ngamuk. Kalau sudah tidak bisa provide dan kemudian kepepet, ’setan’nya langsung keluar. Kok bisa gitu ya?

Pria Kalau Berduit, Pasti ‘Jatuhnya’ Nakal

Ujar teman wanita saya, mengomentari suaminya yang dulu penyayang dan perhatian pada keluarga (waktu mereka masih hidup susah) dan kini tertangkap selingkuh dengan sekretarisnya (ketika mereka sudah kaya raya). Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, wong kadang uang bisa membeli segalanya, mulai dari mobil sampai persahabatan. Barang siapa bilang dia tidak bahagia memiliki uang banyak, mungkin dia tidak tahu cara shopping yang baik, hehe….

Soal taraf ukur ‘kenakalan’ pria, sebenarnya nggak usah nunggu sampai berduit sih. Pria miskin saja bisa ‘nakal’ kok, apalagi yang berduit?! Ini mungkin sebabnya wanita merindukan figur pria ‘family man’, yang membahagiakan dia lahir bathin sampai ke anak-anaknya. Semua kembali ke pribadi masing-masing.

Pria Bertanggung Jawab

Kami wanita, menilai pria dari kepribadian. Tentu mobil pribadi, rumah pribadi dan deposito pribadi juga menjadi ukuran. Bohong kalau nggak. Seorang teman (anak orang super kaya), pernah bertanya kepada wanita simpanan ayahnya (yang sudah tua, dompet kece walau wajah agak memble), apakah wanita tadi tetap mau sama ayahnya, kalau ayahnya bukan seorang pejabat melainkan hanya seorang pekerja kasar. Sang wanita simpanan menjawab jujur dengan muka polos…”Nggak…” Lah.. jadi selama ini yang dicintai apanya ya?! Tapi disinilah kehebatan materi, orang jelek tapi berduit saja bisa laku keras, apalagi orang ganteng dan berduit.

Kebanyakan wanita bukannya materialistis tapi realistis. Kalau sehari-harinya Anna naik mercy ke kantor, fashionable dan bergaul dengan kalangan atas - jangan bilang ia sombong kalau ia tidak mau diajak kencan dengan Agung, yang berencana menjemputnya naik motor, makan di pinggir jalan dan kemudian (apalagi) bayar sendiri-sendiri. Disini bukan tuntutan materi yang berbicara, tetapi fakta bahwa pria tadi berupaya mengubah wanita tadi sesuai dengan keinginannya. Karena tidak berhasil mendapatkan cinta Anna, Agung lantas berkata bahwa Anna adalah gadis yang sombong. Ketika Anna kemudian berkencan dengan Ronny, yang kemampuan finansialnya diatas Anna, tentunya Anna merasa bahagia dibanding kencan dengan Ronny. Ya khan menangis di dalam BMW masih terasa lebih nyaman daripada menangis diatas motor toh?

Begini lho, kalau wanita materialistis, asal si pria tajir saja pasti dia akan tempel - padahal belum tentu cinta kepribadiannya. Mau si pria tadi wajahnya seperti hantu blau tapi naiknya Lamborghini (nah kan jadi ‘Cargenic’ ya, alias lebih cakep dibalik kaca V-Kool, hehehe….), pasti tetap ditempel kayak magnet kulkas. Terlepas mungkin pria tadi baik hati dan wanita tadi sungguh mencintai dia yaaa….. Wanita yang realistis, punya pandangan ‘bird eye view’ (ceile bahasanya….) akan pertanggung-jawaban seorang pria apabila memiliki dirinya sebagai pasangan hidupnya - tentunya secara wise donk.

Intinya, kami menyukai pria yang bertanggung jawab. Tentunya secara finansial juga. Pria tidak harus tajir melintir agar disukai wanita, namun dia harus menunjukkan tanggung jawab. Dan perkataan yang sesuai dengan perbuatan.

Kalau anda pria dan belum mencapai tingkat kemapanan finansial yang mantap, ya berusahalah dengan giat. Kerja dan tunjukkan pada kami kalau anda berusaha. Kerja yang halal dan jangan malas. Jangan menipu wanita dengan pencitraan finansial - namun tunjukkan kalau anda memang kerja keras dan bermodal. Jadikan diri anda berbeda dari pria-pria lain yang diam saja karena ‘rejeki sudah diatur sama Tuhan’. Saya yakin Tuhan juga nggak suka lihat orang malas kok, kayaknya sih begitu….hehe. Sediakan wanita anda kenyamanan finansial disertai perlakuan yang gentleman. Kami sebagai wanita juga akan provide anda dengan reward yang menyenangkan. Percayalah, mungkin saya bitchy tapi jujur.

Good Luck in Love and Life!

xoxo,

@CiscaDV

00e94f26d20704423b1c109bdf7b8271_photo-1-tile

b15a4de44c1fb9d021f66aa3178cf95e_cover


TAGS


-

Author

Follow Me