Dating 101 : Penantian Tak Berujung (Berdasarkan Kisah Nyata).

Author: ciscadv  //  Category: Arsitektur, Kata Cisca, Museum

“How do I say goodbye to someone I never really had? Why do my tears fall so endlessly for someone who was never really mine? Why is it I miss someone I was never really with? And why do I love someone whose love was never really mine?”

"If you love somebody, set them free. If they return, they were always yours. If they don’t, they never were."

"If you love somebody, set them free. If they return, they were always yours. If they don’t, they never were."

Perih ya membaca beberapa kalimat ini. Sebetulnya sulit bagi saya menulis beberapa kisah tentang penantian di bawah ini (apalagi lantas untuk memberi pendapat). Kenapa? Karena belum tentu saya sendiri bisa menjalaninya. Apa kamu bisa? Mari bercermin dari beberapa kisah berikut ini.


Beberapa orang yang saya kenal, adalah wanita yang cantik dan tangguh dalam karir dan kehidupan sosial. Mereka tidak takut pada berbagai tantangan hidup, kecuali satu, yaitu : takut menghabiskan hidupnya sendirian. Oleh karena itu mereka selalu terjebak dalam keadaan : berkencan dengan pria yang tidak available (dalam artian : mereka yang sudah menikah atau sudah menjadi milik orang lain), mudah menerima perlakuan tidak menyenangkan dari pasangan (entah pemaksaan kehendak, pacar sangat posesif, dll – asal pasangan tidak meninggalkan dirinya) dan yang terakhir adalah, kembali ke mantan pacar (bukan karena ‘aku ingin bersamamu kembali’ tapi lebih kepada ‘kalau tidak kamu maka siapa lagi’).


Menanti yang Bukan Milik Kita


“Why am I afraid to lose you when you’re not even mine.” -unknown-


Adinda adalah seorang wanita karir cantik yang sukses. Ia berkencan dengan Daniel, seorang top executive perusahaan multinasional yang mapan. Daniel sudah menikah dan dikaruniai 3 anak, umurnya lebih tua 10 tahun daripada Adinda. Mereka bertemu dalam sebuah kesempatan konferensi di Bali, 2 tahun lalu. Adinda berpacaran dengan Daniel bukan karena materi, lebih kepada ‘hanya Daniel-lah yang mengerti dirinya seutuhnya’ dan Adinda tidak punya motif apapun, selain cinta.


Daniel dan istrinya sudah lama berpisah ranjang (tapi tidak bercerai dan masih tinggal serumah) dan sampai kapanpun tidak akan bisa menceraikan istrinya dengan pertimbangan adanya anak. Adinda dan Daniel tidak bisa bebas bertemu atau berkomunikasi, selalu diam-diam dan itu sudah berjalan 2 tahun. Mereka sangat menjaga komitmen, walau sesakit apapun hati Adinda (wanita umumnya lebih peka) ia dengan sabar menunggu Daniel, walau ‘happy ending’ sepertinya memang tidak akan pernah terjadi untuk mereka. Adinda tidak tahu kapan harus berhenti mencintai Daniel, dia hanya bisa menunggu. Dia sadar penuh bahwa dia akan selalu jadi yang kedua, bukan prioritas utama dan selamanya harus jadi ‘underdog’ dalam percintaan ini. Ketika ditanya kenapa dia mau saja, dia cuma menjawab ‘Gue sudah tahu dan sudah ikhlas.’


Saya tidak tahu dengan kamu, tapi menurutku, ketika seseorang sudah sampai pada titik ‘ikhlas’ atau ‘pasrah’, maka ia sungguh pribadi yang luar biasa! (luar biasa sabar, maksudku-red).


Menanti Di Kejauhan

"I love him, that’s why its so hard to see him loving someone else…"

"I love him, that’s why its so hard to see him loving someone else…"

Beberapa waktu lalu, ada seorang pembaca blog saya dari luar daerah - yang curhat, soal pacarnya yang dulu hangat, sekarang seperti ‘tidak ada kabarnya lagi’ - setelah pacaran berbeda kota. Gadis ini masih 22 tahun. Pacarnya 29 tahun dan berjanji akan menikahinya (sebelum dia berangkat ke Jakarta). Tapi sekarang sang pacar tidak pernah menghubunginya dan tidak bisa dihubungi. Si gadis ini bertanya kepada saya dengan polos lewat email, ‘Mbak Cisca, saya bingung sekali, beri saya saran, berapa lama saya harus menunggu dia?’ (As if – saya yang paling pengalaman aja! - #nepukjidat)


Saya sendiri belum pernah berpacaran jarak jauh. Sepertinya sulit dan saya nggak bakal mau. Namun menurut survey kecil-kecilan saya, ada 3 hal yang diperlukan dalam Long Distance Relationship; yaitu : Kepercayaan, Komunikasi dan Keterbukaan. Mata kita tidak selalu ada untuk mengawasi pasangan kita, maka itu dibutuhkan ‘Kepercayaan’ tadi. Sebagai pengganti kehadiran pasangan, di jaman serba maju, pastilah harus ada ‘Komunikasi’. Dan sebagai pasangan yang baik, dalam bersikap mustinya perlu ‘Keterbukaan’, termasuk apabila pasangan kita selingkuh, kalau dia sudah mengakuinya dan kita bisa menerimanya dengan ikhlas, bukan berarti hubungan tadi harus kandas.


Paling gampangnya, menurutku, 1 hari ada 24 jam. Kalau pasanganmu tidak bisa meluangkan 5 menit saja untuk berkomunikasi denganmu (entah lewat telepon, bbm, skype atau merpati pos sekalipun…lebay ya…hehe); berarti – ehm- maaf sayang, kamu tidak ada dalam pikirannya. Kalau ia memikirkanmu, dia akan berusaha untuk menghubungimu, bagaimanapun caranya, percaya deh.


Menanti dan Tetap Optimis


Satu kisah yang saya ingat sampai saat ini adalah kisah teman saya, sebut saja namanya Rangga, seorang wirausahawan yang sukses. Ketika usianya menginjak 30 tahun, Rangga menetapkan target untuk diri sendiri – dia harus menikah sebelum usia 31! Namun pacar saja dia belum punya dan untuk menikah di Jakarta ini, tahu sendiri kan gedung pernikahan harus dipesan setahun sebelumnya? Nah kalau sudah pacaran, memesan gedung – eh keburu putus lagi (misalnya, hehe…) nanti target menikah usia 31 tidak akan tercapai dong.


Rangga memutar otaknya. Dia pergi ke 3 gedung pernikahan – dan dipesannya tanggal pernikahan di gedung-gedung tadi, dibayarnya DP (Down Payment) sebesar masing-masing 1,5 juta Rupiah dan pulang. Ketika beberapa bulan kedepan, Rangga berpacaran dengan seorang gadis yang disukainya, dia langsung saja bilang ‘Maukah kamu menikah dengan aku?’. Si gadis tidak menolak, tapi dia bilang “tapi kita booking gedung dulu ya, susah banget dapat tanggal yang bagus.” Rangga dengan optimis bilang, “Kamu pilih saja satu diantara gedung-gedung ini, saya sudah pesan tanggal untuk ketiganya.” AMAZING KHAN?! Dan akhirnya mereka benar-benar menikah!


Rangga bilang, dulu ketika dia memutuskan menjadi wirausahawan, tidak ada yang percaya – sampai akhirnya dia sukses, padahal dia agak sedikit ‘gambling’. Nah begitupun dalam mencari cinta – yang penting ‘never lose hope’, begitu katanya, dengan optimis.


Menanti Selamanya


Ironis kedengarannya ya. Ini kisah nyata juga dari seorang teman baik. Sebut saja namanya Bima, ia sangat mencintai pacarnya, sebut saja Karina – yang baru saja memutuskannya – dan Bima pun memohon kepada Karina untuk menemuinya, agar bisa meminta maaf secara langsung.


Bima memaksa mantannya itu untuk bertemu dengan dia sepulang kantor – di Starbucks Sarinah Thamrin. Berikut kira-kira bunyi sms mereka;


Bima : Aku sudah sampai di Starbucks, aku tunggu kamu ya.

Karina : Aku tidak akan datang, mau kamu tunggu sampai kapanpun….

Bima : Aku tidak akan pulang sampai kamu datang! Kalau perlu sampai tempat ini tutup!

Karina : Kalau begitu kamu tidak akan pernah pulang, karena tempat itu buka 24 Jam….


*dan Bimo pun langsung pulang, karena ide untuk menunggu di tempat yang buka 24 jam- itu sebenarnya dari konsepnya pun sudah salah, hehehehe……… #nepukjidat*


Penantian. Worth it or Not?

".........and i'm still waiting, is it worth the wait?"

"………and i'm still waiting, is it worth the wait?"

Saya benci bagian kesimpulan seperti ini, karena bagi saya belum tentu saya bisa menjalani yang namanya ‘sebuah penantian’, ngomong doang sih memang gampang. Kalau ditanya ‘worth it atau tidak menunggu untuk dia?’ (‘dia’ disini dalam artian ‘seseorang yang belum bisa kamu miliki’), seorang teman yang bijak pernah berkata : “Kalau menunggu itu membuatmu bahagia, ya lakukanlah. Kalau menunggu itu tidak membuatmu bahagia (bahkan membuatmu sengsara batin), maka tinjau lagi – apa masih perlu?. Kamu sendiri yang memegang kesimpulannya.”


Seperti kata pepatah (yang saya lupa darimana asalnya-red) ; “You either let go for two reasons…. you’ve learned enough to want to, or you’ve been hurt enough you have to.”



Semoga kita semua bisa menanti datangnya sesuatu yang indah dengan sabar.

Best of luck in love and life!

Your friend,

@CiscaDV


*seluruh foto koleksi JasonBrooks.com*

Jalan-jalan ke Pavlosk Palace, St. Petersburg - Rusia

Author: ciscadv  //  Category: Arsitektur, Kata Cisca, Museum, Travelling
Welcoming Ambiance
Welcoming Ambiance

THE IMPERIAL GLAM

Terletak di jantung Rusia, Istana yang dikenal lewat sebutan ‘The Imperial Summer Palace’ ini menyimpan sejarah atas dedikasi kaum Imperialis Rusia terhadap arsitektur pada masanya.


A precious heritage from a mother

Sebuah lukisan figur Maria Feodorovna remaja, ketika Ia berumur 18 tahun. Lukisan yang dibuat pada tahun 1777 oleh Alexander Roslin , seorang seniman ternama Swedia.

Sebuah lukisan figur Maria Feodorovna remaja, ketika Ia berumur 18 tahun. Lukisan yang dibuat pada tahun 1777 oleh Alexander Roslin , seorang seniman ternama Swedia.

Jika The Hermitage Museum mempunyai ‘The Winter Palace’, maka sebutan yang diberikan untuk The Pavlosk Palace adalah ‘The Imperial Summer Palace.’ Gaya arsitektur Neoklasik yang sering ditemukan pada bangunan arsitektur di abad 18 sangat kental terlihat mendominasi istana ini.


Suatu hal yang bertolak belakang dari bangunan ‘The Winter Palace’, Pavlosk Palace terlihat lebih terbuka bagi pengunjung, lebih hangat dan berkesan ‘homy’. The Palace of Pavlosk dihadiahkan dari Catherine the Great (Catherine II) untuk putra kesayangannya, Pavel – yang nantinya dipersiapkan untuk menjadi Tsar Paul I dari Rusia (Tsar Paul I of Russia).

Istana ini terletak di tengah kota St. Petersburg yang pada masa itu terkenal sebagai pusat intrik-intrik politik kaum elite– tidak jelas dikatakan mengapa dibangun berdekatan dengan istana peristirahatan sang Ibunda. Banyak pihak berkata hal ini untuk menjaga privasi keluarga kerajaan.

Foto Tampak luar bangunan The Pavlosk- The Imperial Summer Palace, St. Petersburg, Rusia.

Foto Tampak luar bangunan The Pavlosk- The Imperial Summer Palace, St. Petersburg, Rusia.

Bagi Catherine the Great, Pavlosk adalah suatu tonggak bersejarah yang memiliki nilai sentimentil baginya dan keluarga. Untuk membangun istana ini, sang kaisar wanita mempercayakan desainnya kepada arsitek favoritnya, Charles Cameron – seorang arsitek ternama berkebangsaan Skotlandia.

Charles Cameron dipercaya oleh Catherine untuk memberi ‘nafas’ renaissance kepada Pavlosk dengan penerapan gaya arsitek khas Andrea Palladio. Hasilnya adalah sebuah istana megah dengan gaya Russian-empire. Tsar Paul I of Russia jatuh cinta kepada Maria Feodorovna mereka pun menikah dan tinggal di istana ini hingga akhir hayatnya.


Mewarisi sang Ibunda yang juga memiliki hasrat untuk mengoleksi benda-benda bersejarah dan karya seni, Tsar Paul I ibarat buah yang tak jatuh jauh dari pohonnya. Bersama dengan sang istri, pernikahan mereka membawa perubahan yang dramatis dalam sejarah perkembangan Pavlosk.


Bersama mereka mengumpulkan berbagai karya seni para seniman ternama Eropa dan menjadikan Pavlosk suatu galeri bersejarah bagi yang menjawab rasa haus keduanya terhadap benda-benda seni. Jadilah Pavlosk sebagai suatu istana yang menggambarkan perjalanan hidup extravagant pasangan ini dan peninggalan bersejarah dari salah satu keluarga kerajaan paling terkemuka di dunia.


Sebuah koleksi furnitur ekslusif- Theodore Alexander ‘The Pavlosk Collection’,

Authorized by the State of Pavlosk Palace, St. Petersburg, Russia


Empire Inspired – Salah satu master bedroom dalam istana Pavlosk
Empire Inspired – Salah satu master bedroom dalam istana Pavlosk

Theodore Alexander adalah salah satu produsen furnitur ternama di Amerika, pembuat fine furniture yang telah sukses membuat berbagai replika dengan sentuhan desain modern dari The Hermitage Museum- St. Petersburg, Rusia dan The Althorpe House –rumah kediaman keluarga Spencer di Inggris.

Kini rangkaian furnitur ecletic sebagai replika dari koleksi furnitur yang dimiliki The Pavlosk Palace dipersembahkan bagi para kolektor furnitur bermutu tinggi. Haute furniture atau Haute meubel (istilah lain dari fine furniture) yang dihadirkan adalah replika yang telah disahkan keasliannya oleh pihak kurator The State of Pavlosk Palace.

Salah satu tangga utama penghubung ruangan dalam istana ini. Tengok koleksi permadani buatan tangan dengan materi khusus, pilihan kain untuk tirai jendela ukuran besar dan koleksi piranti makan dengan berbagai motif aristokratik pada masa itu – sungguh ekletik dan membawa romantisme tersendiri di jaman yang serba modern ini. Di Indonesia sendiri, koleksi Theodore Alexander – The Pavlosk Palace dengan sertifikasi keasliannya dapat dijumpai di Da Vinci Tower-Jakarta.
Salah satu tangga utama penghubung ruangan dalam istana ini. Tengok koleksi permadani buatan tangan dengan materi khusus, pilihan kain untuk tirai jendela ukuran besar dan koleksi piranti makan dengan berbagai motif aristokratik pada masa itu – sungguh ekletik dan membawa romantisme tersendiri di jaman yang serba modern ini. Di Indonesia sendiri, koleksi Theodore Alexander – The Pavlosk Palace dengan sertifikasi keasliannya dapat dijumpai di Da Vinci Tower-Jakarta.

Perusahaan furnitur ini menjaga mutu dan kecantikan tiap-tiap produk yang dihasilkannya dengan cara menggunakan bahan dan tehnik pembuatan yang sama dengan yang dilakukan oleh para seniman abad ke 18 tersebut. Koleksi furnitur yang dipilih untuk dibuat replikanya termasuk beberapa koleksi pribadi kegemaran Tsar Paul I of Russia dan sang istri – Maria Feodorovna, seperti meja tulis sang kaisar atau koleksi meja centerpiece ruangan istana.


Dalam Istana Pavlosk sendiri – koleksi furniture mereka tersebar di puluhan ruangan, beberapa diantaranya mempunyai gaya yang sama dengan koleksi furniture dari ‘ The Winter Palace’ milik sang ibu, yakni dengan ciri khas penggunaan batuan mulia sebagai aksen penghias furnitur. Mereka telah menghargai keberadaan sebuah furnitur sebagai sebuah ‘perhiasan’ dalam ruangan.


Setelah Theodore Alexander resmi mendapat lisensi hak ekslusif sebagai pencipta replika furnitur dari istana Pavlosk, lagi-lagi sang kepala tim desain Theodore Alexander, Paul-Maitland Smith dan Creative Director – Anthony Cox dan tim harus berpetualang ke St. Petersburg, bekerja siang dan malam menggambar sketsa dari hasil pengamatan mata, untuk mendapatkan gambaran sedetil-detilnya tentang koleksi furnitur istana Pavlovsk.

Design Klasik dengan sentuhan khas Pavlosk untuk hunian modern

Grand Entrance.Istana yang megah dengan arsitektur neoklasik ini mempunyai ratusan koleksi furnitur yang bernilai tinggi. Koleksi tersebut masih dalam keadaan yang terpelihara dengan baik hingga saat ini. Kemungkinan besar karena tehnik pembuatan dan bahan baku yang bermutu tinggi. Selain koleksi furnitur yang tersebar di berbagai ruangan, istana ini juga memiliki ratusan koleksi tekstil langka dan ribuan objek seni seperti patung dan benda-benda penghias ruangan yang beragam. Beberapa objek dekorasi seperti vas bunga, dll telah menggunakan bahan kristal terbaik dan porselen

Grand Entrance.Istana yang megah dengan arsitektur neoklasik ini mempunyai ratusan koleksi furnitur yang bernilai tinggi. Koleksi tersebut masih dalam keadaan yang terpelihara dengan baik hingga saat ini. Kemungkinan besar karena tehnik pembuatan dan bahan baku yang bermutu tinggi. Selain koleksi furnitur yang tersebar di berbagai ruangan, istana ini juga memiliki ratusan koleksi tekstil langka dan ribuan objek seni seperti patung dan benda-benda penghias ruangan yang beragam. Beberapa objek dekorasi seperti vas bunga, dll telah menggunakan bahan kristal terbaik dan porselen

Dalam tiap pengamatan,mereka ditemani oleh sang kepala museum dan beberapa kurator. Hasil akhir, mereka tak sekedar menciptakan kopi dari furnitur-furnitur antik ini, namun memberikan ‘nafas’ modern kedalamnya, sehingga koleksi ini layak untuk menghias rumah-rumah modern masa kini. Bahan dasar yang digunakan juga terdiri dari berbagai jenis kayu langka yang tumbuh di Rusia, seperti kayu Karelian Birch dan Pollard Burl, dan masih banyak kayu eksotik lainnya.


Tehnik pembuatan menggunakan cara yang sama dengan cara kuno, sebagian besar dikerjakan secara manual (hand-made). Disinilah suatu unsur penting yaitu ‘craftmanship’ telah membuat suatu furnitur memiliki nilai tinggi dan kisah penciptaan tersendiri.


Finishing yang dipilih lebih netral dari koleksi sebelumnya (The Hermitage Museum), untuk The Pavlosk Collection, banyak digunakan finishing warna kayu natural dan kehitaman, ini untuk menghadirkan efek kemewahan selera kaum imperial pada masa tersebut.

Selera pasangan Tsar Paul I of Russia dan Maria Feodorovna memang lebih cenderung country dan homy, sesuai dengan julukan sang istana megah mereka, The Summer Imperial Palace.

Haute-Meuble. Salah satu koleksi console table yang merupakan replika koleksi furnitur The Pavlosk Palace, koleksi disambut hangat oleh para kolektor fine furnitur ketika diperkenalkan pertama kali di Harrods-London

Haute-Meuble. Salah satu koleksi console table yang merupakan replika koleksi furnitur The Pavlosk Palace, koleksi disambut hangat oleh para kolektor fine furnitur ketika diperkenalkan pertama kali di Harrods-London

Jika kebanyakan koleksi furnitur favorit sang Ibunda – Catherine the Great yang tersimpan di dalam The Winter Palace menggunakan batuan mulia seperti Lapiz Lazuli atau Amethyst, koleksi furnitur dalam The Pavlosk Palace mempunyai ciri khas tersendiri.


Dengan jenius para desainer interior Theodore Alexander menggunakan bahan-bahan unik seperti imperial blue glass –sejenis kaca khusus yang dibuat sepenuhnya dengan tangan oleh perajin khusus dan lapisan keramik bergaya ‘Jasperware’ untuk memperkaya tampilan furnitur. Untuk melengkapi keseluruhan tampilan, mereka menggunakan lapisan inlay mother-of-pearl dan lapisan stainless steel dengan potongan khusus yang cantik.


Pada masa pemerintahan Catherine the Great – tidak sembarang keluarga dapat memiliki furnitur untuk penghias hunian dengan penggunaan bahan-bahan eksotik seperti ini. Anda harus terlahir sebagai seorang bangsawan, tapi tak cukup hanya disitu – anda harus punya selera individual seperti layaknya keluarga kerajaan.

Dramatic Russian. Sebuah pojok cantik dalam ruangan perpustakaan The Pavlosk Palace. Beberapa furniturnya telah menjadi inspirasi replika Theodore Alexander
Dramatic Russian. Sebuah pojok cantik dalam ruangan perpustakaan The Pavlosk Palace. Beberapa furniturnya telah menjadi inspirasi replika Theodore Alexander

Lamanya pengerjaan sebuah furnitur tidak dapat ditentukan oleh berapa hari atau berapa bulan, sulitnya mencari bahan baku yang tepat dan sistem pengerjaan yang full hand-made menjadi alasan mengapa furnitur ini layak disebut sebagai ‘collectors item’ – ada kebanggaan tersendiri memilikinya.

####

Seluruh foto koleksi dari Theodore Alexander untuk Da Vinci Indonesia.

Teks oleh Francisca Prandayani (diolah dari berbagai sumber)

Laporan dari Singapura - Tips Menata Ulang Hunian dari Alan Rohwer

Author: ciscadv  //  Category: Arsitektur, Desain, Interior

The Exterior View

Rumah peristirahatan di Sentosa Cove - Singapura ini, telah didesain ulang oleh desainer dan luxury consultant terkemuka asal New York; Alan Rohwer. Palet warna yang lembut, material terbaik di segala aspek, langit-langit yang tinggi dan beachview di area Sentosa Cove menjadikan hunian elegan ini jadi sarana weekend getaway yang sempurna.


Tampilan hunian bergaya kontemporer menjadi pilihan gaya eksterior yang terbentuk dari pilihan warna yang didominasi warna putih dan pemakaian bahan kaca. Kolam renang sebagai sebuah center of attention dapat diakses dari ruang keluarga di lantai dasar. Hunian 3 tingkat ini memiliki open terrace di bagian rooftop-nya. Alan Rohwer sukses menjadikan hunian seluas 8000 sq ft tampak lebih luas dan mengundang siapa saja yang berkunjung dengan kehangatan keluarga.


Rohwer diberi kebebasan dari pemilik rumah untuk membuat perubahan artistik, juga kebebasan untuk memilih rangkaian furniture koleksi Da Vinci yang ia perlukan untuk menata ulang interior rumah dalam waktu tiga hari saja. Konsep Rohwer pada dasarnya adalah menyamakan suasana eksterior dengan interior hunian; maka ia memilih warna-warna natural yang menyelaraskan keseluruhan tampilan. Rohwer sendiri telah lama dikenal sebagai konsultan desain dan penataan interior selama 20 tahun, sukses menjalankan banyak proyek di Milan, Moscow, Beijing dan Singapura. Ia dipercaya oleh Donatella Versace untuk memberikan konsultasi penataan hunian; khususnya untuk lini aksesori hunian Versace Home.


Hasilnya adalah perpaduan dari tekstur dan warna yang membuat statement dramatis. Rohwer memulai prosesnya dari pemilihan beberapa item furniture yang iconic dari beberapa brand Da Vinci Luxury, diantaranya : Kenzo Maison, IPE Cavalli, Versace Home dan Fendi Casa. Khusus untuk hunian ini, pemilihan warna natural berkisar pada warna beige, hitam dan putih; pemilihan furniture pun mengikuti konsep warna tersebut.

Untuk ruang keluarga yang elegan, Rohwer memadukan Versace Home armchair, coffee table, karpet bulu yang mewah dan aksesori penunjang. Aksen diujung ruangan adalah coffee table Fendi Casa. Sebagai pelengkap dipilih koleksi bantal dari material sutra terbaik keluaran Versace Home berwarna hitam. Kesan feminin tercermin dari pemilihan rangkaian bunga anggrek putih sebagai sentuhan akhir. Hasilnya adalah ruang keluarga yang chic, tampak lapang, elegan namun dengan kesan ramah menyambut setiap tamu yang datang.

Pemilihan warna natural juga diimplementasikan di ruang makan, yang menampilkan Chandelier berwarna beige dengan bentuk oval dari IPE Cavalli. Khusus untuk area dapur bersih, dipilihkan kitchen set yang dibuat secara khusus dari Scavollini dengan warna hitam; sengaja untuk menyelaraskan warna di dinding dan lantai marmer dapur. Sebagai center of attention ruang makan, adalah mirrored dining table dari IPE Cavalli, yang secara nyata memisahkan ruangan makan dengan ruang keluarga. Area dapur dan ruang makan memiliki akses pemandangan tak terbatas ke arah ruang keluarga; menjadikannya suatu area entertainment terpenting bagi setiap pengunjung hunian tersebut.

Hunian ini dirancang untuk memberi pengalaman liburan bagi penghuninya. Maka apabila si pemilik sedang enggan beraktivitas diluar ruangan seperti di area kolam renang, maka mereka dapat menikmati hiburan di entertainment room. Entah sekedar membaca buku favorit atau menikmati sajian musik dan film dari home theatre, ruangan ini didesain untuk memanjakan segenap indera kita. Ada 2 sitting area di ruangan ini, salah satunya menggunakan sofa three-seaters keluaran Versace Home, lengkap dengan coffee table dan lampu sudut. Untuk area duduk yang lebih formal, diletakkan sebuah rak buku untuk membuat kesan ruang baca yang nyaman. Pemilihan bahan lantai kayu menambah kenyamanan dan aspek elegan dari ruangan ini.

Terpisah dari seluruh aktivitas ruangan lain, ruangan kamar tidur utama menjanjikan kenyamanan yang private. Dengan palet warna beige, coklat muda dan putih, atmosfer nyaman pun didapatkan. Disini pemilihan furniture bertema American Classic, seperti dari brand John Richards berperan penting. Karena elemen utama kamar ini adalah pemandangan langsung kearah laut, kebun yang hijau dan kolam renang di halaman belakang, maka peletakan furniture diatur sedemikian rupa agar tidak menutupi pemandangan spesial tersebut.

Mencermati pemilihan furniture dan aseksori pelengkap dalam hunian ini, sangat mudah memberi label ‘elegan dan glamor’ terhadapnya. Namun tetap kunci penataan bergantung pada keselarasan antara satu ruang dengan lainnya dan palet warna eksterior dan interior yang berpadu secara harmonis. Rohwer menciptakan sebuah hunian yang mencerminkan kepribadian sesungguhnya dari pemilik hunian, seperti layaknya rangkaian furniture yang dipilihnya. Hasil akhirnya adalah sebuah hunian idaman yang modern, elegan, mewah namun menyimpan sejuta kehangatan bagi siapapun yang tinggal di dalamnya.