#Dating101 : Is Sharing Really Caring?

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

“Kamu sering bilang, saya akan mendoakan kamu supaya suatu saat nanti akan ada pria baik-baik yang akan mencintaimu apa adanya dan akhirnya menikahimu. Tetapi kalau saya mau berjumpa dengan pria lain selain kamu, kamu marah. Jadi doamu itu hanya di bibir saja dan bukan dari hati,” ujar Cindy (29th) kepada pacarnya, Raymond (59th) – yang notabene sudah memiliki istri dan anak. Cindy merasa bersalah karena posisinya sebagai ‘orang ketiga’ dalam rumah tangga Raymond. Namun tidak gampang untuk memutuskan hubungan ini. Akhirnya Cindy pasrah ketika harus ‘berbagi cinta’ Raymond dengan istri sah-nya.

Is sharing really caring?

Is sharing really caring?

Demikian juga dengan Raymond, ia tidak memberikan kesempatan kepada Cindy untuk berjumpa dengan orang lain yang potensial. Sedemikian erat diawasinya gerak-gerik Cindy dan juga memberi ultimatum ‘sekali saja kamu makan malam dengan pria lain, hubungan kita selesai’ kepadanya. Hal ini memberikan dilema kepada Cindy. Sudah jelas Raymond tidak akan menikahinya, namun memberikan kesempatan untuk Cindy bisa bertemu dengan orang lain pun tidak diijinkannya. Jadi maunya apa? Kenapa tidak ‘berbagi Cindy’ dengan pria lain? Toh Cindy rela ‘berbagi Raymond’ dengan istrinya.

“Kamu bilang hubungan kita selesai kalau saya bertemu pria lain, tetapi tiap malam kamu pulang ke istrimu dan sekalipun saya tidak pernah bilang kalau hubungan kita akan selesai; menurutmu apa itu fair?,” tanya Cindy pada Raymond. Wajar apabila Cindy bertanya demikian. Sebab kalau pria itu tidak dapat memberikannya ‘status’, berarti pria tersebut tidak punya hak untuk cemburu atau mengatur hidupnya. Menurut saya fair enough.

“ I’m not saying that it’s wrong to ‘share’, but I can't say that i'm ok either...”

“ I’m not saying that it’s wrong to ‘share’, but I can't say that i'm ok either…”

Lain halnya dengan Carina dan Reza. Profesi Reza sebagai business-man sukses membuatnya harus sering keluar kota, meninggalkan Carina di rumah dengan anak-anak mereka. Pasangan ini telah menikah selama 7 tahun dan (dari luar) tampaknya bahagia saja. Yang tidak diketahui oleh banyak orang adalah, Carina mempunyai ‘suatu aturan’ yang selalu dipatuhi oleh Reza. “Kalau kamu berada di luar rumah, mau ‘nakal-nakalan’, bermainlah yang bersih, jangan bawa penyakit ke rumah. Dan yang terpenting, jangan sampai saya tahu. Kalaupun suatu hari nanti saya tahu, dan ketika saya bertanya kepadamu – jawablah: ‘Tidak, saya masih setia padamu dan mencintaimu’. Jawab demikian, kecuali kamu mau hubungan kita selesai,” begitu ucap Carina pada suaminya – jauh sebelum mereka dikaruniai anak. Carina berkata, “Bahkan ketika misalnya kamu kepergok berduaan dengan wanita lain di kamar hotel pun – dan saya berada di luar pintu, jawablah pada saya ‘kamu tidak mengkhianati saya dan kamu tetap mencintai saya,’ jawab demikian kecuali kamu mau kita selesai. Karena saya tidak butuh penjelasan darimu ketika hal itu terjadi,” tegasnya.

Ketika mengetahui adanya suatu ‘pengorbanan perasaan’ yang sangat besar dari seorang wanita terhadap suaminya, yang jelas-jelas tahu bahwa suatu hari ia pasti akan dikhianati oleh suaminya – dan tetap mau ‘berbagi suami’ dengan wanita yang tidak dikenalnya, saya jadi berpikir apakah dunia yang kita tinggali ini sudah begitu jahat – dan bahwa jumlah laki-laki setia pasti tinggal sedikit. Beberapa diantara mereka menjadi gay dan sisanya pasti sudah diambil oleh wanita yang beruntung. Untuk menyiasati hubungan dengan sisanya yang ‘nakal’ ini, sebagai pasangan kita harus rela berbagi? Is it, really?

Banyak pasangan ‘berbagi’ dengan alasan yang menurut saya konyol. Atau mungkin, saya saja sih yang bitter menanggapinya. Ada pasangan (yang tidak tergolong muda lagi, karena masing-masing sudah pernah berumah tangga sebelumnya), tinggal bersama dan kemudian berbagi rekening bank (satu untuk semua) dan kemudian (yang menurut saya lebih bodoh lagi – oops! Maafkan bahasa saya, hehehe…..) berbagi kartu kredit. Akhirnya bisa ditebak, bahwa ketika mereka berpisah, salah satu pihak kabur dari kewajiban membayar hutang. Kalau sudah begini tidak lagi mau sharing atau berbagi seperti dulu. Hebat ya? (tentunya ini sarkasme-red).

Atau yang lebih aneh lagi, pasangan yang berbagi password – entah itu password social media seperti facebook, twitter, atau sekedar password email. Maksudku, apa sih yang kalian pikirkan sewaktu membagi itu? (hehe….). Yang jelas ini adalah kasus dimana cinta bisa membutakan segalanya. Maksudnya pasti agar salah satu pasangan berkata ‘hey, silahkan ini password facebook aku – I have nothing to hide from you…’ TET! Salah besar! Semua orang punya rahasia. Kalau mau hubunganmu awet, ada beberapa hal yang perlu dibagi, ada yang … well… cukup kamu dan Tuhan saja yang tahu yaaa….

“I know there is no guarantee in relationship.  However I just want to know that at the end of the day, I can say that I tried.  If that means I will have to share you with another person, that I’ll do....”

“I know there is no guarantee in relationship. However I just want to know that at the end of the day, I can say that I tried. If that means I will have to share you with another person, that I’ll do….”

Dulu, saya pernah dihadapkan pada kenyataan ‘harus berbagi cinta kasih seseorang dengan keluarganya’ dan pasangan saya selalu menempatkan keluarganya diatas saya. Disini saya mengambil keputusan bahwa saya tidak rela ‘berbagi’ dan akhirnya hubungan kami kandas ditengah jalan. Padahal, saya tergolong orang yang paling cuek. Hal yang paling kecil seperti; memeriksa telepon genggam pasangan – itu tidak pernah sekalipun saya lakukan. Kenapa? Sekali saja seorang wanita memeriksa (secara diam-diam terutama) telepon genggam pasangannya, pasti akan ada hal-hal yang kemudian memicu keparno-an wanita tersebut. Maka itu lebih baik tidak usah. Namun herannya, ketika dihadapkan pada pilihan untuk berbagi pasangan saya dengan segerombolan keluarganya, saya tidak mau. Harusnya berbagi itu adil, sama rata – tidak ada satu pihak yang dimenangkan. Itu namanya baru fair.

Semua orang punya rahasia, saya punya, anda punya, oh, saya punya BANYAK! Dan dalam soal dating, kadang saya rela berbagi beberapa aspek – yang tentunya dapat membahagiakan pasangan saya, walau kadang itu berarti mengorbankan perasaan saya sebagai wanita. Yes, you can tell that I’m a bit crazy….


So, is sharing really caring?!


Good luck in love and life!

Xoxo,

@CiscaDV

####

Koleksi Foto : JasonBrooks.com

#Dating101 : Painfully Possessive

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Teman saya bilang “kalau pacarmu tidak posesif kepadamu, berarti dia tidak sayang sama kamu….” Well, posesif dalam level tertentu bisa jadi lucu dan seksi, tapi kalau sudah sangat kelewatan, kita harus negosiasi.

Pacar posesif, karena dia kurang kece atau kita-nya yang kelewat kece? #eaaa

Pacar posesif, karena dia kurang kece atau kita-nya yang kelewat kece? #eaaa

Mungkin tiap tiga bulan sekali Pras (30) bisa bertemu dengan teman-teman akrabnya untuk sekedar ngopi dan ngobrol santai sepulang kerja. Waktunya cukup singkat, paling 2 jam saja sepulang kerja. Tapi selama 2 jam itu pula blackberrynya tidak bisa lepas dari tangannya. Pacarnya minta dibbm / ditelepon per 10 menit dan dengan topik yang tidak penting, yang semua bisa dijawab dengan ‘Penting banget nggak? Bisa nanti aja khan?’ Dan kelihatannya Pras tersiksa sekali. Tapi dia tidak punya pilihan, dia bisa saja cuek terhadap kelakuan pacar yang ‘meneror’nya sekarang – tapi akibatnya waktu pulang nanti, bisa jadi di mobil akan diserbu oleh amukan dari pacarnya; dan itu akan jadi lebih males lagi, katanya.

Sedangkan Cindy (28) suka sekali hang-out dengan teman-temannya. Entah sekedar ngopi, shopping atau clubbing. Sang pacar pernah ultimatum “Kamu tidak boleh pergi nanti malam,” dengan alasan yang tidak jelas (dianggapnya pergi ke club adalah sebuah dosa besarrrr….hehehe). Dan bisa ditebak, malam itu Cindy malah pergi dan memutuskan untuk tidak mendengarkan ancaman pacar. Besoknya bisa ditebak. Mereka berantem besar.

Yang lebih parah lagi, kisah si Reza (38), pacarnya pernah mengarang cerita kalau dia sedang dalam masalah besar (sehingga menghabiskan energi dan pikiran Reza untuk sesuatu yang tidak jelas) dan juga pernah mengarang cerita lantas menuduh kalau Reza berselingkuh (padahal Reza tidak pernah selingkuh). Pacarnya melakukan itu untuk mendapatkan seluruh perhatian dan waktu Reza. Beberapa waktu lalu, teman-teman wanita Reza pun ikut dicemburui oleh si pacar. Saya tidak tahu kisah selanjutnya, apa sekarang Reza ini sedang dirantai dalam kandang atau bagaimana…. (hehehe….lebay-red).

Tuntutan vs. Tuntutan

“Idealnya, kalau pasangan menuntut apa, kita juga harus menuntut yang setimpal,” ujar (sebut saja), Mira (29 th) yang mengaku punya pacar sangat posesif. Sang pacar menuntutnya tidak boleh keluar malam diatas jam 12 pada saat weekend. Sedangkan sang pacar tidak bisa menemaninya setiap weekend karena ada kesibukan, pula sang pacar tidak kunjung menikahinya. “Lha dia juga nggak bisa memberikan gue status (maksudnya dinikahi-red), kenapa gue harus tunduk pada aturan ketat yang dia berikan? Secara gue sudah dewasa dan paham mana yang baik dan buruk dari hidup gue…,” ujarnya agak berapi-api.

Menurut sahabat pria saya, posesif sebenarnya adalah suatu bentuk ketidak-adilan. Dimana satu pihak bisa menuntut sesuatu kepada pihak lain, tapi pihak lain tidak berhak menuntut balik. Ini berlaku dalam keadaan apple-to-apple ya. Misalnya, Budi tidak memperbolehkan Siti pergi clubbing malam minggu. Sebagai balasannya, Siti minta Budi tidak pergi dengan teman-temannya bersepeda di hari Minggu. Budi tidak mau ngalah, karena alasannya pergi bersepeda adalah kesenangannya. Nah bagaimana dengan Siti, bukankah clubbing adalah juga kesenangannya? Dua-duanya adalah aktifitas yang membuat masing-masing senang – dan masing-masing berupaya ‘membunuh’ kesenangan masing-masing.

Pada saat ditanya alasan mengapa seseorang bertindak posesif, pastilah dia akan mencari pembenaran, sampai dirinya menang. Kalau alasan posesif itu jelas, tidak apa-apa, tapi kalau lebih kearah egois, dimana salah satu menuntut lebih dari pasangan tentunya nggak adil ya.

Selidiki penyebabnya

“Kebanyakan temen-temen gue yang laki-laki memang dulunya rada bangsat sih, makanya sekarang suka pada posesif ke ceweknya,” ujar salah satu sahabat pria saya, tentang teman prianya yang posesifnya kelewatan. Sang pacar diwajibkan untuk : berpakaian sesuai kehendaknya, wajib lapor tiap 10 menit sekali, menuntut wajib ditemani kemanapun pacarnya pergi, mengganggu acara bersosialiasi sang pacar, terlalu banyak telepon, parno berlebihan kalau pacar bakalan selingkuh, suka merendahkan pacar (mulai dari level intelektualitas dan usia, misalnya), serta tingkah laku suka membesar-besarkan hal yang kecil. Keinginan membuat si pacar ‘takluk’ pada kehendaknya itulah yang akhirnya membuat ia kehilangan pacarnya karena sang pacar lantas ‘memberontak’….. (Ya sih, saya dengernya aja sudah pingin garuk-garuk kepala padahal nggak ketombean… *keluh*)

“Ternyata sebab si Anita posesif abis sama gue adalah karena dari dulu dia selalu dikhianati pacar-pacarnya,” ujar Donny – yang tidak paham kenapa di usia 35 th Anita masih posesif dan mengekang Donny berlebihan. Ini tidak adil juga karena mustinya Anita paham kalau tidak semua laki-laki sama sifatnya dan mustinya lebih memberikan kepercayaan pada Donny. Bahwasanya kalau Donny ternyata memang rada (maaf) bajingan juga, ya mungkin Anita memang sedang sial saja, hehehe…..

Kompromi

Sebetulnya tidak ada yang tidak bisa dinegosiasikan – bahkan dalam kehidupan dating sekalipun (lain kalau sudah menikah yaaa….). Kalau dalam pacaran, semua hendaknya bisa dikomunikasikan sampai ketemu dengan titik nyaman yang disepakati kedua belah pihak. Jangan menuntut pasangan yang aneh-aneh juga kalau kamu tidak mau balik dituntut yang aneh sih….hehehe.

Secara pribadi, saya lebih suka hubungan yang sangat ‘based –on –trust’, dalam artian kita saling menaruh kepercayaan pada pasangan dan kalau sampai dia macam-macam, tanpa ba-bi-bu selesai sudah – tanpa perlu memberi penjelasan. Bukankah kita sudah pada tahap kedewasaan yang bisa membedakan mana yang baik dan benar, mana yang salah mana yang nggak dan mana yang rese dan tidak rese?

Pasti ada jiwa pemberontak dalam tiap pribadi yang merasa sedikit tertekan karena pasangannya kelewat posesif. Ibarat menggenggam pasir di tangan, apabila kita terlalu erat menggenggamnya, maka pasir tersebut akan lolos dari sela-sela jari kita – tapi sebaliknya, apabila tidak digenggam terlalu erat, pasir tersebut tetap akan utuh di tangan kita… (ceile….penulisnya sedang bijak saat menulis ini, hehehe…).

Posesif karena insecure? Nggak banget......

Posesif karena insecure? Nggak banget……

Sebagai wanita, saya percaya diatas cewek kece masih ada yang lebih kece, diatas cewek yang pintar masih ada yang lebih pintar, diatas cewek seksi masih ada yang lebih seksi. Sekarang tergantung pada pasangan saja, kalau dia merasa nyaman karena kita sebagai wanita pede (dan mencintai diri kita apa adanya) – dan tentu saja kalau si cowok tadi memang bukan buaya ya, hehe….. pastinya akan tetap bersama kita.

Karena mau di-posesif-in separah apapun, kalau memang pasangannya mental buaya darat-pun percuma saja, yang ada sebagai wanita – kita akan terlihat sebagai mahluk paranoid yang membuat hidup pasangan menjadi ribet. Kamu nggak pingin terlihat sebagai perempuan rusuh kaaaannn……..

Kenapa disini saya bilang “Painful” adalah karena alangkah menyakitkan apabila kita harus kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi, justru karena sikap posesif yang berlebihan tadi. Rasa sakit tadi akan dirasakan bukan hanya oleh si posesif yang aktif tadi, tapi juga pada yang menjadi objeknya…. ;) #jleb #jleb #jleb  ……

Posesif yang berlebihan akan membuat kamu merasa sakit sendiri (dalam artian : ya, kamu menyiksa dirimu sendiri). Posesif kalau levelnya tepat akan menjadi seksi, playful, lucu dan bikin ketawa. Kalau sudah kelebihan….well… yah, kan sudah sering dibilangin kalau segala sesuatu yang berlebihan itu kan tidak baik….hehehe….


Good luck in love and life!

Your friend,

@CiscaDV


Images : HedKandi artwork

vienafair360(1)

vienafair3

advienafair4

#Dating101 : Confession of a ‘Female Player’

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Istilah seperti Players, Womanizer atau Don Juan dan Casanova tampaknya identik dengan kaum pria. Kali ini kita akan mencoba berpikir sebaliknya, wanita pun juga bisa menjadi seorang ‘player’ dan kebanyakan melakukannya bahkan – lebih baik daripada pria.

Player wanita? They think more like a man but do it better.
Sore itu saya mendapat beberapa request dari email, tentang pembahasan ciri-ciri wanita player,  pertanyaan bukan saja datang dari kaum pria, namun wanita. Mungkin ini didasari keinginan untuk ‘agar jangan sampai terjebak dan galau gara-gara dating dengan wanita player’ (untuk kaum pria) dan ‘bagaimana cara untuk jadi player yang elegan’ (untuk kaum wanitanya).

Berdasarkan wawancara saya dengan beberapa wanita yang saya anggap ‘player sejati’ ; berikut adalah ciri-ciri wanita player yang dijamin akan membuatmu berkata ‘ohh begitu….’ ;

Female player fact #1: Kami menarik, misteriously sexy dan pintar
Catat! Wanita yang player tidak harus berfisik ideal seperti top model, namun menarik dan cukup merawat dirinya dari ujung rambut ke ujung kaki. Kami tidak  sengaja mencari perhatian di tempat umum dan kami pintar mengolah bahan pembicaraan untuk membangun suasana (ini bisa dimungkinkan karena kami memiliki otak yang lumayan encer dan selalu di-update).

Female player fact #2 : Kami tidak pernah ‘Kiss and Tell’
Mengenai siapa teman dating kami, kami tidak pernah ‘ember’ bercerita soal ‘ngapain saja, kemana saja, blablabla…’, tidak. Kami menyimpan rahasia itu baik-baik. Hanya Tuhan, dia dan kami yang tahu apa yang terjadi. Kami mempunyai integritas tinggi untuk soal kerahasiaan sebuah hubungan.

Female player fact #3 : Kami berasal dari SES B+-A +( kami tidak kesulitan ekonomi)
Betul sekali pemirsa. Kami sangat mandiri dalam hal finansial. Biasanya kami adalah wanita top executive yang tidak membutuhkan bantuan finansial dari pria untuk bisa hidup dengan nyaman. Catat! Seorang female player memiliki ‘degree of sophistication’ yang berbeda dari sekedar wanita simpanan atau wanita (maaf) peliharaan. Pernah suatu kali seorang teman menuliskan status di bbm-nya ‘pingin tas ini, pingin hp ini, pingin ipad, dll’ dengan maksud akan dibelikan oleh teman datingnya (ya, saya pun berpikir dia sudah gila-red). Maaf, seorang wanita player sejati tidak perlu meminta (dengan cara yang demikian pula) untuk mendapatkan yang dia mau. Kami bisa membelinya sendiri. Kalau pria tersebut memberikan hadiah kepada kami, anggap saja itu bonus, karena motif utama kami bukan mencari uang. Kami tidak akan meminta, apalagi merengek dan memaksa. Oh-Please-deh.

Female player fact #4 : Kami elegan dan pandai membawa diri
Para pria akan bangga terlihat bersama kami, karena kami menarik, dan pastinya para pria akan menoleh ke kami ketika kamu terlihat bersama kami. Para wanita (dalam lubuk hatinya saya yakin banget-red) pasti ingin menjadi kami. Anda tidak akan menemukan kami naik ke meja bar atau mabuk hingga lupa diri. Sebaliknya, kami memiliki kontrol terhadap diri sendiri dengan baik. Kami tahu cara have fun yang elegan.

Female player fact #5 : Bagi kami, social media bukan segalanya
Tidak semua makan malam dengan seseorang yang terkenal harus di-tweet. Tidak semua yang dikatakan seseorang yang top harus kami tulis di status facebook. Bahkan biasanya, kami tidak pernah menulis apa status kami di facebook (mau single atau in  a relationship, dll, itu bukan kami). Social media penting bagi kami, namun privacy tetap lebih penting. Segala sesuatu yang diumbar akan menjadi ‘twittertainment’ nantinya, dan itu yang kami hindari.

Female player fact #6 : Kami tidak mengenal kata ‘paranoid’, ‘insecure’ apalagi ‘posesif’ dalam sebuah relationship
Jika kaum pria tidak menelepon kami, kami tidak lantas menjadi paranoid dan berkata ‘wah pasti dia sedang bersama wanita lain, atau sesuatu terjadi dengan dia, blablabla…’, kami cukup mengerti sinyal ini dan lantas move- on ke target berikutnya. Kami tidak akan insecure karena kami mengerti kalau kami sudah feel good about ourselves dan juga tidak akan posesif pada teman dating kami – kenapa? Karena pacar yang posesif sangat lah mengganggu, jadi bayangkan saja kalau belum pacaran saja sudah posesif….

Female player fact #7 : We always keep it casual
Tidak ada yang resmi dari sebuah hubungan dengan kami. Istilahnya, casual saja. Kami tidak terbelenggu jam biologis yang mengharuskan seorang wanita harus cepat menikah, punya anak, dll. Sebaliknya,  kami menganggap hidup adalah sebuah proses dan bukan tujuan. Bukan takut komitmen, tapi lebih kepada….umm… window shopping, ya sebelum menemukan satu yang benar-benar cocok.

Female player fact #8 : Kami sangat independen
Sebagai wanita kami butuh dimanja, namun tidak keterlaluan. Kami bisa mengurus diri kami sendiri, kami bisa menaklukkan jalanan kota Jakarta seperti halnya pria. Kalian tidak perlu khawatir, karena kami tidak manja dan hobi menyusahkan orang lain.

Female player fact #9 : Kami sadar fashion
Kami fashionable. Kami fashionista sejati. Catat! Kami tidak berdandan untuk menyenangkan kaum pria, apalagi untuk bersaing dengan kaum wanita. Kami berdandan untuk diri kami sendiri, karena apabila kita tampil dengan baik, kepercayaan diri akan terpancar dari situ.

Female player fact #10 : Kami (justru) akan kenalkan kamu pada teman kami atau bahkan orangtua kami

Kebanyakan pria berpikir, kalau saya belum dikenalkan pada orangtuanya dan teman-temannya berarti hubungan tersebut tidak serius. Ya itu sih pemikiran jaman dulu banget deh. Kami akan tetap mengenalkan kalian ke orangtua atau teman kami, tapi sebagai teman. Ya, teman, karena semuanya kami anggap ‘casual’ saja.

Female player fact #11 : Kami tidak selalu available
Bohong banget kalau kami bisa punya waktu dari Senin sampai Minggu untuk satu pria. Kami sangat pandai manajemen waktu, tapi kami sadar, semakin kami sibuk semakin kaum pria akan penasaran. Oleh karena waktu untuk bersama kami sangat terbatas (kami tidak selalu available), justru akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam. Sesuatu yang limited akan lebih dihargai, bukan begitu?

Female player fact #12: Kami tidak akan membuat kamu cemburu, hanya penasaran
Kami tidak suka berlebih-lebihan dalam bercerita, kami tidak ingin membuat anda cemburu, sebaliknya kami sangat pandai menjaga perasaan anda. Akibatnya anda akan merasa nyaman bersama kami dan lantas menjadi penasaran, apa yang sedang kami lakukan, sama siapa, dimana saat kami tidak ada. Mind games – sesuatu yang sangat kami kuasai.

Female player fact #13: Rules are made to be broken
Jangan coba-coba mengekang kebebasan kami atau bahkan menetapkan aturan keras kepada kami. Pada dasarnya player wanita dan pria sama saja. Kami menjadi player karena tidak ingin terkekang pada satu orang – entah takut komitmen atau belum ingin, atau belum menemukan orang yang tepat.

Female player fact #14 : Kami tidak ingin menyakiti hati siapapun
Hati adalah bagian yang paling sensitif dalam sebuah relationship. Oleh karena itu player sejati hendaknya tidak pernah ingin menyakiti hati orang yang menyayanginya. Maka itu kami memilih tidak memberi status pada sebuah relationship. Karena status adalah komitmen dan bicara soal komitmen, silahkan lihat point no #13 kembali ya.

Perlu diingat bahwa yang memberi status kepada seseorang (sebagai pacar) dan akhirnya menduakannya bukanlah seorang player sejati, orang tersebut adalah murni hobi selingkuh saja.

Female player fact #15 : Selain pandai manajemen waktu, kami juga pandai manajemen perasaan
Perasaan siapa? Perasaan orang yang menjadi date kami dong. Kami tidak akan mengindahkan tlp / sms masuk saat bersama date kami. Kami bisa membuat pria tersebut merasa satu-satunya yang paling diprioritaskan (baca: diprioritaskan ya, bukan dicintai-red). Bukankah menjadi yang pertama dalam segala hal itu menyenangkan?

Female player fact #16 : Sesungguhnya kami tidak takut komitmen
Cuma saja kami belum menemukan yang pas untuk diajak berkomitmen….

Sedikit misteri dalam sebuah relationship akan membuatnya semakin menarik. “Dont hate the player, hate the game.” Pada dasarnya ketika kamu sudah memasuki ranah ‘dating’ kamu harus bersiap untuk segala kemungkinan – termasuk rejection dari para players (mau wanita maupun pria).

Tidak perlu menjadi player sejati untuk menikmati kehidupan dating, cukup percaya diri (confidence) dalam level yang medium. Just be yourself and have no expectation, maka dating life pasti lebih menyenangkan - baik dijalani bersama player maupun bukan, hehehe……



Good luck in love and life!
Your friend;
@CiscaDV

Foto : Koleksi Jason Brooks.

Dating 101 : I Want a Happy Divorce!

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Judul tulisan diatas adalah persis sama dengan judul email yang dikirimkan oleh seorang kawan pada (soon-to-be-ex) suaminya. Ketika tidak ada lagi kalimat yang bisa dipikirkan, apa yang lebih baik daripada langsung ke topiknya, am I right or am I right?! #maksa


When one door of happiness closes, another opens;
but often we look so long at the closed door
that we do not see the one which has been opened for us.”
Helen Keller

Sudah genap setahun, sebut saja namanya Nadya tinggal berpisah dengan suaminya. Awalnya hanya untuk menguji ‘apakah saya bisa make it without you’, ataukah ternyata saya tidak bisa kalau hidup tanpa dirimu’, sekaligus menenangkan diri setelah kehidupan pernikahan Nadya tidak berjalan dengan mulus. Eh… ternyata dunia luar begitu indah dan ternyata Nadya jauh lebih baik hidup tanpa suaminya. Dan terhitung setahun sudah ia dan suaminya tidak pernah berkomunikasi lagi, begitupun keluarga mereka. Maka itu hari ini ia mengirimkan email kepada (mantan) suaminya itu, bahwa ia ingin berpisah, secara baik-baik. Ya, lewat email. Lucu ya…

“Menikah itu belum tentu berjodoh”, adalah suatu kutipan yang dilihatnya disuatu bacaan. Terdengar nyinyir dan mengisyaratkan bahwa pada dasarnya yang namanya manusia itu tidak akan pernah berhenti di satu titik kepuasan. Tidak perlu bawa-bawa Tuhan disini (kan pasti aja ada orang nyinyir sama tulisan ini trus  bilang “Tuhan tidak suka perceraian”) , lha ya memang betul, jangankan Tuhan, manusianya pun tidak suka yang namanya perceraian. Tapi mengapa ada pasangan yang bercerai? Saya melihatnya dari satu sudut pandang saja, yaitu untuk : move on menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Kenapa jadi lebih baik? Bukannya baiknya tetap bersama?.Mungkin ada baiknya pura-pura tetap bersama dan tidak saling mencintai just for the sake of ‘peduli terhadap pandangan orang lain’;  atau mungkin berhasil menumbuhkan rasa cinta itu kembali, ya sah-sah saja, kebahagiaan seseorang kan ada pada tangannya sendiri. Kalau pasangan tersebut merasa bahagia ketika rujuk, bukankah itu adalah sebuah hal yang indah? Idealnya sih begitu.

Lain halnya bila hidup serumah menjadi seperti neraka, tiap malam sang istri merasa di bawah ancaman suami (yang mustinya memberi rasa aman malah jadi mencekam, persis kayak suasana pasca kerusuhan gitulah…-red), dan masih banyak alasan lain, yang pastinya apapun itu tidaklah bagus. Orang yang berkata “Janganlah bercerai, ingatlah akan blablabla dan blablabla…” umumnya tidak tahu, bagaimana rasanya harus berada di bawah kepedihan tinggal bersama dengan seseorang yang (tadinya) kita kira mencintai kita - tapi ternyata tidak. Apalagi untuk kasus KDRT (kalau cinta kenapa musti harus main tangan ya? Itu ekspresi cinta dari mana pula itu…. –red). Maka perpisahan memang menjadi solusi yang baik, untuk kedua belah pihak, soal perasaan orang lain - yah kan bukan ‘orang lain’ yang menjalani kehidupan sebagai pasangan itu, am I right or am I right? (lagi-lagi maksa-red)

Tadinya Belahan Jiwa Kini ‘Hanya’ Orang Asing…

“Kalau gue sampai balik sama dia dan tinggal serumah lagi, mungkin pilihannya hanya ada dua, dia yang mati atau gue yang mati. Most likely sih gue yang mati,” ujar Nadya ketika ditanya apa alasan ia meminta cerai dari suaminya. “Tuhan tidak menyukai perceraian, tapi saya yakin Tuhan juga tidak ingin umatNya berada dalam tekanan batin yang luar biasa setiap harinya, ” tambahnya. Bukankah tiap manusia mempunyai hak untuk bisa hidup tenang dan bahagia?

Saya melihat ada unsur “legawa” (dalam bahasa Jawa artinya “ikhlas”) disini. Nadya justru memberikan kesempatan pada suaminya itu untuk kembali ‘memulai hidup baru’, untuk mendapatkan kesempatan untuk berbahagia dengan orang lain yang lebih baik daripada dirinya. Bagi Nadya, hidup bersama dalam kepura-puraan itu jauh lebih buruk, daripada hidup sendiri tetapi lebih bahagia.

Ketika ditanya apa ia tidak takut akan pandangan orang terhadapnya, dengan tegas ia menjawab kalau ia tidak peduli - karena selama ini dia tidak ‘minta makan’ dari orang lain, jadi kenapa harus menghukum diri dengan pandangan orang, toh ini hidupnya sendiri dan ia yang empunya hak penuh akan kebahagiaan.

“Memang saya belum punya anak, tapi kalaupun sudah, saya akan tetap menempuh jalur perceraian, ini demi si anak juga, supaya ia tidak hidup dibawah kepura-puraan orangtuanya, yang masih menikah, mungkin juga tidur seranjang, namun hatinya tidak terpaut pada pasangannya. Untuk apa, setelah si anak dewasa, ia juga akan paham bahwa lebih baik berpisah tapi hidup bahagia daripada bersama tapi seperti dalam drama ; never ending drama….,” ujarnya ketika ada yang bilang kalau beruntung dia belum punya anak.

Perkataan “keep in touch” sebenarnya adalah sebuah perkataan yang serius. Tidak adanya komunikasi lagi antara Nadya dan (soon-to-be-ex) suaminya ini membuat keduanya seperti kembali menjadi orang asing. “Saya tidak lagi mengenal dia. Bagi saya dia sudah seperti orang asing…,” ujarnya.


Perceraian Bukan Akhir Dari Segalanya

“Ketika saya mengucap sumpah pernikahan, saya tidak pernah sedikitpun membayangkan bahwa suatu saat saya akan bercerai dari suami saya,” ujar seorang sahabat suatu waktu. Ya, mana ada manusia yang memikirkan mengenai perceraian pada saat mereka mengucap sumpah. Menurut buku “Project Everlasting” mengenai rahasia sukses pernikahan, memang disebutkan janganlah kita meletakkan ‘perceraian’ sebagai suatu pilihan – namun tentunya dapat diakhiri apabila benar-benar harus terjadi.

Beberapa sumber yang saya baca, mendeskripsikan pernikahan sebagai satu kalimat ; yaitu : Komitmen. Dan bahwa beberapa hal yang bisa ‘membatalkan komitmen’ tersebut adalah :penipuan, perzinahan dan penyiksaan (batin dan fisik)*. Dan ketika ketiga hal ini terjadi, disarankan untuk ‘menyelamatkan diri anda sendiri’ dan seseorang tadi berhak untuk meletakkan posisi pernikahan tadi di posisi kedua.

I Want a Happy Divorce….

Hidup ini pada dasarnya tergantung dari bagaimana kita mempersepsikannya. Contohnya, pada waktu terjadi kecelakaan bermotor, ada yang melihatnya sebagai ‘aduh betapa nasib sial tengah dialami 2 mobil yang tabrakan tadi, kok bisa nasib buruk sekali?’ tetapi ada pula yang melihatnya sebagai ‘2 mobil tadi tidak salah, hanya saja sesuatu telah terjadi dan mengakibatkan mereka tabrakan, untungnya tidak ada yang terluka’, begitu lho….

Begitu pula dengan cara kita memandang sebuah perceraian. Apabila dipandang sebagai ‘akhir dari segalanya’ maka terjadilah menurut pemikiranmu. Tapi apabila dipandang sebagai ‘langkah untuk menempuh kehidupan baru yang lebih baik,’ pastinya akan bermakna beda. Pasti ada masa-masa kesedihan atau depresi yang akan dialami tiap pasangan yang akan bercerai, namun fokuslah untuk menjalani hidup yang lebih baik ketika semua prosesnya berakhir.

Perlu diketahui, bahwa alasan saya menulis tulisan ini bukanlah untuk mendukung adanya perceraian. Tidak ada yang menyukai kata ‘cerai’. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan tentunya. Namun apabila itu terjadi, saya ingin membantumu melihat bahwa di luar sana hidup baru akan menunggu kamu, kamu tinggal harus mengontrol persepsimu atas perceraian tadi.

Ibarat menaiki sebuah kapal, apabila kita tenggelam, hanya ada dua pilihan yang bisa diambil, yaitu : tetap tenggelam atau belajar untuk berenang agar selamat. Its your choice – sink or swim!

Perceraian memang suatu akhiran alias ending, namun dapat juga menjadi awalan kehidupan baru yang lebih baik.

When you fall in a river, you’re no longer a fisherman;
you’re a swimmer.” - Gene Hill


Best of Luck in Love and Life!
Your friend,
@CiscaDV


Jakarta, Februari 2012
Tulisan ini saya persembahkan bagi kamu, yang pernah atau sedang menjalani proses perceraian.
Saya percaya bahwa kamu akan menjadi pribadi yang kuat setelahnya.
Untuk kehidupan yang lebih baik….