Dating 101 : Penantian Tak Berujung (Berdasarkan Kisah Nyata).

Author: ciscadv  //  Category: Arsitektur, Kata Cisca, Museum

“How do I say goodbye to someone I never really had? Why do my tears fall so endlessly for someone who was never really mine? Why is it I miss someone I was never really with? And why do I love someone whose love was never really mine?”

"If you love somebody, set them free. If they return, they were always yours. If they don’t, they never were."

"If you love somebody, set them free. If they return, they were always yours. If they don’t, they never were."

Perih ya membaca beberapa kalimat ini. Sebetulnya sulit bagi saya menulis beberapa kisah tentang penantian di bawah ini (apalagi lantas untuk memberi pendapat). Kenapa? Karena belum tentu saya sendiri bisa menjalaninya. Apa kamu bisa? Mari bercermin dari beberapa kisah berikut ini.


Beberapa orang yang saya kenal, adalah wanita yang cantik dan tangguh dalam karir dan kehidupan sosial. Mereka tidak takut pada berbagai tantangan hidup, kecuali satu, yaitu : takut menghabiskan hidupnya sendirian. Oleh karena itu mereka selalu terjebak dalam keadaan : berkencan dengan pria yang tidak available (dalam artian : mereka yang sudah menikah atau sudah menjadi milik orang lain), mudah menerima perlakuan tidak menyenangkan dari pasangan (entah pemaksaan kehendak, pacar sangat posesif, dll – asal pasangan tidak meninggalkan dirinya) dan yang terakhir adalah, kembali ke mantan pacar (bukan karena ‘aku ingin bersamamu kembali’ tapi lebih kepada ‘kalau tidak kamu maka siapa lagi’).


Menanti yang Bukan Milik Kita


“Why am I afraid to lose you when you’re not even mine.” -unknown-


Adinda adalah seorang wanita karir cantik yang sukses. Ia berkencan dengan Daniel, seorang top executive perusahaan multinasional yang mapan. Daniel sudah menikah dan dikaruniai 3 anak, umurnya lebih tua 10 tahun daripada Adinda. Mereka bertemu dalam sebuah kesempatan konferensi di Bali, 2 tahun lalu. Adinda berpacaran dengan Daniel bukan karena materi, lebih kepada ‘hanya Daniel-lah yang mengerti dirinya seutuhnya’ dan Adinda tidak punya motif apapun, selain cinta.


Daniel dan istrinya sudah lama berpisah ranjang (tapi tidak bercerai dan masih tinggal serumah) dan sampai kapanpun tidak akan bisa menceraikan istrinya dengan pertimbangan adanya anak. Adinda dan Daniel tidak bisa bebas bertemu atau berkomunikasi, selalu diam-diam dan itu sudah berjalan 2 tahun. Mereka sangat menjaga komitmen, walau sesakit apapun hati Adinda (wanita umumnya lebih peka) ia dengan sabar menunggu Daniel, walau ‘happy ending’ sepertinya memang tidak akan pernah terjadi untuk mereka. Adinda tidak tahu kapan harus berhenti mencintai Daniel, dia hanya bisa menunggu. Dia sadar penuh bahwa dia akan selalu jadi yang kedua, bukan prioritas utama dan selamanya harus jadi ‘underdog’ dalam percintaan ini. Ketika ditanya kenapa dia mau saja, dia cuma menjawab ‘Gue sudah tahu dan sudah ikhlas.’


Saya tidak tahu dengan kamu, tapi menurutku, ketika seseorang sudah sampai pada titik ‘ikhlas’ atau ‘pasrah’, maka ia sungguh pribadi yang luar biasa! (luar biasa sabar, maksudku-red).


Menanti Di Kejauhan

"I love him, that’s why its so hard to see him loving someone else…"

"I love him, that’s why its so hard to see him loving someone else…"

Beberapa waktu lalu, ada seorang pembaca blog saya dari luar daerah - yang curhat, soal pacarnya yang dulu hangat, sekarang seperti ‘tidak ada kabarnya lagi’ - setelah pacaran berbeda kota. Gadis ini masih 22 tahun. Pacarnya 29 tahun dan berjanji akan menikahinya (sebelum dia berangkat ke Jakarta). Tapi sekarang sang pacar tidak pernah menghubunginya dan tidak bisa dihubungi. Si gadis ini bertanya kepada saya dengan polos lewat email, ‘Mbak Cisca, saya bingung sekali, beri saya saran, berapa lama saya harus menunggu dia?’ (As if – saya yang paling pengalaman aja! - #nepukjidat)


Saya sendiri belum pernah berpacaran jarak jauh. Sepertinya sulit dan saya nggak bakal mau. Namun menurut survey kecil-kecilan saya, ada 3 hal yang diperlukan dalam Long Distance Relationship; yaitu : Kepercayaan, Komunikasi dan Keterbukaan. Mata kita tidak selalu ada untuk mengawasi pasangan kita, maka itu dibutuhkan ‘Kepercayaan’ tadi. Sebagai pengganti kehadiran pasangan, di jaman serba maju, pastilah harus ada ‘Komunikasi’. Dan sebagai pasangan yang baik, dalam bersikap mustinya perlu ‘Keterbukaan’, termasuk apabila pasangan kita selingkuh, kalau dia sudah mengakuinya dan kita bisa menerimanya dengan ikhlas, bukan berarti hubungan tadi harus kandas.


Paling gampangnya, menurutku, 1 hari ada 24 jam. Kalau pasanganmu tidak bisa meluangkan 5 menit saja untuk berkomunikasi denganmu (entah lewat telepon, bbm, skype atau merpati pos sekalipun…lebay ya…hehe); berarti – ehm- maaf sayang, kamu tidak ada dalam pikirannya. Kalau ia memikirkanmu, dia akan berusaha untuk menghubungimu, bagaimanapun caranya, percaya deh.


Menanti dan Tetap Optimis


Satu kisah yang saya ingat sampai saat ini adalah kisah teman saya, sebut saja namanya Rangga, seorang wirausahawan yang sukses. Ketika usianya menginjak 30 tahun, Rangga menetapkan target untuk diri sendiri – dia harus menikah sebelum usia 31! Namun pacar saja dia belum punya dan untuk menikah di Jakarta ini, tahu sendiri kan gedung pernikahan harus dipesan setahun sebelumnya? Nah kalau sudah pacaran, memesan gedung – eh keburu putus lagi (misalnya, hehe…) nanti target menikah usia 31 tidak akan tercapai dong.


Rangga memutar otaknya. Dia pergi ke 3 gedung pernikahan – dan dipesannya tanggal pernikahan di gedung-gedung tadi, dibayarnya DP (Down Payment) sebesar masing-masing 1,5 juta Rupiah dan pulang. Ketika beberapa bulan kedepan, Rangga berpacaran dengan seorang gadis yang disukainya, dia langsung saja bilang ‘Maukah kamu menikah dengan aku?’. Si gadis tidak menolak, tapi dia bilang “tapi kita booking gedung dulu ya, susah banget dapat tanggal yang bagus.” Rangga dengan optimis bilang, “Kamu pilih saja satu diantara gedung-gedung ini, saya sudah pesan tanggal untuk ketiganya.” AMAZING KHAN?! Dan akhirnya mereka benar-benar menikah!


Rangga bilang, dulu ketika dia memutuskan menjadi wirausahawan, tidak ada yang percaya – sampai akhirnya dia sukses, padahal dia agak sedikit ‘gambling’. Nah begitupun dalam mencari cinta – yang penting ‘never lose hope’, begitu katanya, dengan optimis.


Menanti Selamanya


Ironis kedengarannya ya. Ini kisah nyata juga dari seorang teman baik. Sebut saja namanya Bima, ia sangat mencintai pacarnya, sebut saja Karina – yang baru saja memutuskannya – dan Bima pun memohon kepada Karina untuk menemuinya, agar bisa meminta maaf secara langsung.


Bima memaksa mantannya itu untuk bertemu dengan dia sepulang kantor – di Starbucks Sarinah Thamrin. Berikut kira-kira bunyi sms mereka;


Bima : Aku sudah sampai di Starbucks, aku tunggu kamu ya.

Karina : Aku tidak akan datang, mau kamu tunggu sampai kapanpun….

Bima : Aku tidak akan pulang sampai kamu datang! Kalau perlu sampai tempat ini tutup!

Karina : Kalau begitu kamu tidak akan pernah pulang, karena tempat itu buka 24 Jam….


*dan Bimo pun langsung pulang, karena ide untuk menunggu di tempat yang buka 24 jam- itu sebenarnya dari konsepnya pun sudah salah, hehehehe……… #nepukjidat*


Penantian. Worth it or Not?

".........and i'm still waiting, is it worth the wait?"

"………and i'm still waiting, is it worth the wait?"

Saya benci bagian kesimpulan seperti ini, karena bagi saya belum tentu saya bisa menjalani yang namanya ‘sebuah penantian’, ngomong doang sih memang gampang. Kalau ditanya ‘worth it atau tidak menunggu untuk dia?’ (‘dia’ disini dalam artian ‘seseorang yang belum bisa kamu miliki’), seorang teman yang bijak pernah berkata : “Kalau menunggu itu membuatmu bahagia, ya lakukanlah. Kalau menunggu itu tidak membuatmu bahagia (bahkan membuatmu sengsara batin), maka tinjau lagi – apa masih perlu?. Kamu sendiri yang memegang kesimpulannya.”


Seperti kata pepatah (yang saya lupa darimana asalnya-red) ; “You either let go for two reasons…. you’ve learned enough to want to, or you’ve been hurt enough you have to.”



Semoga kita semua bisa menanti datangnya sesuatu yang indah dengan sabar.

Best of luck in love and life!

Your friend,

@CiscaDV


*seluruh foto koleksi JasonBrooks.com*

Jalan-jalan ke Pavlosk Palace, St. Petersburg - Rusia

Author: ciscadv  //  Category: Arsitektur, Kata Cisca, Museum, Travelling
Welcoming Ambiance
Welcoming Ambiance

THE IMPERIAL GLAM

Terletak di jantung Rusia, Istana yang dikenal lewat sebutan ‘The Imperial Summer Palace’ ini menyimpan sejarah atas dedikasi kaum Imperialis Rusia terhadap arsitektur pada masanya.


A precious heritage from a mother

Sebuah lukisan figur Maria Feodorovna remaja, ketika Ia berumur 18 tahun. Lukisan yang dibuat pada tahun 1777 oleh Alexander Roslin , seorang seniman ternama Swedia.

Sebuah lukisan figur Maria Feodorovna remaja, ketika Ia berumur 18 tahun. Lukisan yang dibuat pada tahun 1777 oleh Alexander Roslin , seorang seniman ternama Swedia.

Jika The Hermitage Museum mempunyai ‘The Winter Palace’, maka sebutan yang diberikan untuk The Pavlosk Palace adalah ‘The Imperial Summer Palace.’ Gaya arsitektur Neoklasik yang sering ditemukan pada bangunan arsitektur di abad 18 sangat kental terlihat mendominasi istana ini.


Suatu hal yang bertolak belakang dari bangunan ‘The Winter Palace’, Pavlosk Palace terlihat lebih terbuka bagi pengunjung, lebih hangat dan berkesan ‘homy’. The Palace of Pavlosk dihadiahkan dari Catherine the Great (Catherine II) untuk putra kesayangannya, Pavel – yang nantinya dipersiapkan untuk menjadi Tsar Paul I dari Rusia (Tsar Paul I of Russia).

Istana ini terletak di tengah kota St. Petersburg yang pada masa itu terkenal sebagai pusat intrik-intrik politik kaum elite– tidak jelas dikatakan mengapa dibangun berdekatan dengan istana peristirahatan sang Ibunda. Banyak pihak berkata hal ini untuk menjaga privasi keluarga kerajaan.

Foto Tampak luar bangunan The Pavlosk- The Imperial Summer Palace, St. Petersburg, Rusia.

Foto Tampak luar bangunan The Pavlosk- The Imperial Summer Palace, St. Petersburg, Rusia.

Bagi Catherine the Great, Pavlosk adalah suatu tonggak bersejarah yang memiliki nilai sentimentil baginya dan keluarga. Untuk membangun istana ini, sang kaisar wanita mempercayakan desainnya kepada arsitek favoritnya, Charles Cameron – seorang arsitek ternama berkebangsaan Skotlandia.

Charles Cameron dipercaya oleh Catherine untuk memberi ‘nafas’ renaissance kepada Pavlosk dengan penerapan gaya arsitek khas Andrea Palladio. Hasilnya adalah sebuah istana megah dengan gaya Russian-empire. Tsar Paul I of Russia jatuh cinta kepada Maria Feodorovna mereka pun menikah dan tinggal di istana ini hingga akhir hayatnya.


Mewarisi sang Ibunda yang juga memiliki hasrat untuk mengoleksi benda-benda bersejarah dan karya seni, Tsar Paul I ibarat buah yang tak jatuh jauh dari pohonnya. Bersama dengan sang istri, pernikahan mereka membawa perubahan yang dramatis dalam sejarah perkembangan Pavlosk.


Bersama mereka mengumpulkan berbagai karya seni para seniman ternama Eropa dan menjadikan Pavlosk suatu galeri bersejarah bagi yang menjawab rasa haus keduanya terhadap benda-benda seni. Jadilah Pavlosk sebagai suatu istana yang menggambarkan perjalanan hidup extravagant pasangan ini dan peninggalan bersejarah dari salah satu keluarga kerajaan paling terkemuka di dunia.


Sebuah koleksi furnitur ekslusif- Theodore Alexander ‘The Pavlosk Collection’,

Authorized by the State of Pavlosk Palace, St. Petersburg, Russia


Empire Inspired – Salah satu master bedroom dalam istana Pavlosk
Empire Inspired – Salah satu master bedroom dalam istana Pavlosk

Theodore Alexander adalah salah satu produsen furnitur ternama di Amerika, pembuat fine furniture yang telah sukses membuat berbagai replika dengan sentuhan desain modern dari The Hermitage Museum- St. Petersburg, Rusia dan The Althorpe House –rumah kediaman keluarga Spencer di Inggris.

Kini rangkaian furnitur ecletic sebagai replika dari koleksi furnitur yang dimiliki The Pavlosk Palace dipersembahkan bagi para kolektor furnitur bermutu tinggi. Haute furniture atau Haute meubel (istilah lain dari fine furniture) yang dihadirkan adalah replika yang telah disahkan keasliannya oleh pihak kurator The State of Pavlosk Palace.

Salah satu tangga utama penghubung ruangan dalam istana ini. Tengok koleksi permadani buatan tangan dengan materi khusus, pilihan kain untuk tirai jendela ukuran besar dan koleksi piranti makan dengan berbagai motif aristokratik pada masa itu – sungguh ekletik dan membawa romantisme tersendiri di jaman yang serba modern ini. Di Indonesia sendiri, koleksi Theodore Alexander – The Pavlosk Palace dengan sertifikasi keasliannya dapat dijumpai di Da Vinci Tower-Jakarta.
Salah satu tangga utama penghubung ruangan dalam istana ini. Tengok koleksi permadani buatan tangan dengan materi khusus, pilihan kain untuk tirai jendela ukuran besar dan koleksi piranti makan dengan berbagai motif aristokratik pada masa itu – sungguh ekletik dan membawa romantisme tersendiri di jaman yang serba modern ini. Di Indonesia sendiri, koleksi Theodore Alexander – The Pavlosk Palace dengan sertifikasi keasliannya dapat dijumpai di Da Vinci Tower-Jakarta.

Perusahaan furnitur ini menjaga mutu dan kecantikan tiap-tiap produk yang dihasilkannya dengan cara menggunakan bahan dan tehnik pembuatan yang sama dengan yang dilakukan oleh para seniman abad ke 18 tersebut. Koleksi furnitur yang dipilih untuk dibuat replikanya termasuk beberapa koleksi pribadi kegemaran Tsar Paul I of Russia dan sang istri – Maria Feodorovna, seperti meja tulis sang kaisar atau koleksi meja centerpiece ruangan istana.


Dalam Istana Pavlosk sendiri – koleksi furniture mereka tersebar di puluhan ruangan, beberapa diantaranya mempunyai gaya yang sama dengan koleksi furniture dari ‘ The Winter Palace’ milik sang ibu, yakni dengan ciri khas penggunaan batuan mulia sebagai aksen penghias furnitur. Mereka telah menghargai keberadaan sebuah furnitur sebagai sebuah ‘perhiasan’ dalam ruangan.


Setelah Theodore Alexander resmi mendapat lisensi hak ekslusif sebagai pencipta replika furnitur dari istana Pavlosk, lagi-lagi sang kepala tim desain Theodore Alexander, Paul-Maitland Smith dan Creative Director – Anthony Cox dan tim harus berpetualang ke St. Petersburg, bekerja siang dan malam menggambar sketsa dari hasil pengamatan mata, untuk mendapatkan gambaran sedetil-detilnya tentang koleksi furnitur istana Pavlovsk.

Design Klasik dengan sentuhan khas Pavlosk untuk hunian modern

Grand Entrance.Istana yang megah dengan arsitektur neoklasik ini mempunyai ratusan koleksi furnitur yang bernilai tinggi. Koleksi tersebut masih dalam keadaan yang terpelihara dengan baik hingga saat ini. Kemungkinan besar karena tehnik pembuatan dan bahan baku yang bermutu tinggi. Selain koleksi furnitur yang tersebar di berbagai ruangan, istana ini juga memiliki ratusan koleksi tekstil langka dan ribuan objek seni seperti patung dan benda-benda penghias ruangan yang beragam. Beberapa objek dekorasi seperti vas bunga, dll telah menggunakan bahan kristal terbaik dan porselen

Grand Entrance.Istana yang megah dengan arsitektur neoklasik ini mempunyai ratusan koleksi furnitur yang bernilai tinggi. Koleksi tersebut masih dalam keadaan yang terpelihara dengan baik hingga saat ini. Kemungkinan besar karena tehnik pembuatan dan bahan baku yang bermutu tinggi. Selain koleksi furnitur yang tersebar di berbagai ruangan, istana ini juga memiliki ratusan koleksi tekstil langka dan ribuan objek seni seperti patung dan benda-benda penghias ruangan yang beragam. Beberapa objek dekorasi seperti vas bunga, dll telah menggunakan bahan kristal terbaik dan porselen

Dalam tiap pengamatan,mereka ditemani oleh sang kepala museum dan beberapa kurator. Hasil akhir, mereka tak sekedar menciptakan kopi dari furnitur-furnitur antik ini, namun memberikan ‘nafas’ modern kedalamnya, sehingga koleksi ini layak untuk menghias rumah-rumah modern masa kini. Bahan dasar yang digunakan juga terdiri dari berbagai jenis kayu langka yang tumbuh di Rusia, seperti kayu Karelian Birch dan Pollard Burl, dan masih banyak kayu eksotik lainnya.


Tehnik pembuatan menggunakan cara yang sama dengan cara kuno, sebagian besar dikerjakan secara manual (hand-made). Disinilah suatu unsur penting yaitu ‘craftmanship’ telah membuat suatu furnitur memiliki nilai tinggi dan kisah penciptaan tersendiri.


Finishing yang dipilih lebih netral dari koleksi sebelumnya (The Hermitage Museum), untuk The Pavlosk Collection, banyak digunakan finishing warna kayu natural dan kehitaman, ini untuk menghadirkan efek kemewahan selera kaum imperial pada masa tersebut.

Selera pasangan Tsar Paul I of Russia dan Maria Feodorovna memang lebih cenderung country dan homy, sesuai dengan julukan sang istana megah mereka, The Summer Imperial Palace.

Haute-Meuble. Salah satu koleksi console table yang merupakan replika koleksi furnitur The Pavlosk Palace, koleksi disambut hangat oleh para kolektor fine furnitur ketika diperkenalkan pertama kali di Harrods-London

Haute-Meuble. Salah satu koleksi console table yang merupakan replika koleksi furnitur The Pavlosk Palace, koleksi disambut hangat oleh para kolektor fine furnitur ketika diperkenalkan pertama kali di Harrods-London

Jika kebanyakan koleksi furnitur favorit sang Ibunda – Catherine the Great yang tersimpan di dalam The Winter Palace menggunakan batuan mulia seperti Lapiz Lazuli atau Amethyst, koleksi furnitur dalam The Pavlosk Palace mempunyai ciri khas tersendiri.


Dengan jenius para desainer interior Theodore Alexander menggunakan bahan-bahan unik seperti imperial blue glass –sejenis kaca khusus yang dibuat sepenuhnya dengan tangan oleh perajin khusus dan lapisan keramik bergaya ‘Jasperware’ untuk memperkaya tampilan furnitur. Untuk melengkapi keseluruhan tampilan, mereka menggunakan lapisan inlay mother-of-pearl dan lapisan stainless steel dengan potongan khusus yang cantik.


Pada masa pemerintahan Catherine the Great – tidak sembarang keluarga dapat memiliki furnitur untuk penghias hunian dengan penggunaan bahan-bahan eksotik seperti ini. Anda harus terlahir sebagai seorang bangsawan, tapi tak cukup hanya disitu – anda harus punya selera individual seperti layaknya keluarga kerajaan.

Dramatic Russian. Sebuah pojok cantik dalam ruangan perpustakaan The Pavlosk Palace. Beberapa furniturnya telah menjadi inspirasi replika Theodore Alexander
Dramatic Russian. Sebuah pojok cantik dalam ruangan perpustakaan The Pavlosk Palace. Beberapa furniturnya telah menjadi inspirasi replika Theodore Alexander

Lamanya pengerjaan sebuah furnitur tidak dapat ditentukan oleh berapa hari atau berapa bulan, sulitnya mencari bahan baku yang tepat dan sistem pengerjaan yang full hand-made menjadi alasan mengapa furnitur ini layak disebut sebagai ‘collectors item’ – ada kebanggaan tersendiri memilikinya.

####

Seluruh foto koleksi dari Theodore Alexander untuk Da Vinci Indonesia.

Teks oleh Francisca Prandayani (diolah dari berbagai sumber)

Ayo Wisata Museum di Bali!

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca, Museum, Travelling

Geng #UbudTrip berfoto bersama anggota keluarga Puri Saren, Museum Puri Lukisan, Juni 2011 (photo oleh : Benny Chandra)

Geng #UbudTrip berfoto bersama anggota keluarga Puri Saren, Museum Puri Lukisan, Juni 2011 (photo oleh : Benny Chandra)

Sebuah tulisan yang terinsprasi dari kunjungan ke “Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati”, Ubud-Bali.


Yang dilakukan apabila berkunjung ke Pulau Dewata

Sungai Tjampuhan - Ubud, Bali.

Sungai Tjampuhan - Ubud, Bali.

Apabila anda berkunjung ke pulau Bali, pasti yang ada di pikiran pertama-kalinya adalah kata ‘bersenang-senang’. Pulau ini menyedot ratusan wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara tiap tahunnya.

Data dari sumber yang saya peroleh; pada tahun 2003 kuartal ke III , jumlah wisatawan yang datang ke Bali meningkat drastis sebanyak 334.137 orang dari 182.840 orang pada kuartal ke II, padahal waktu itu kurs Dollar terapresiasi terhadap Rupiah Rp.10.559. Maka dapat disimpulkan bahwa Kurs tidak sepenuhnya mempengaruhi jumlah wisatawan yang datang ke Bali. Jadi pada intinya, semua yang datang ke Bali sebenarnya mampu menghabisnya dana yang tidak sedikit, baik untuk sekedar hang-out bersama teman-teman dan keluarga di daerah yang populer seperti Kuta atau Seminyak, atau sekedar mencari ketenangan lahir-bathin di daerah yang eksotis seperti Ubud.

Penulis bersama dengan Mas Bembi Indrio, salah satu penulis Buku "Ubud :The Spirit of Bali" (bersama dengan Hermawan Kartajaya); Juni 2011

Penulis bersama dengan Mas Bembi Indrio, salah satu penulis Buku "Ubud :The Spirit of Bali" (bersama dengan Hermawan Kartajaya); Juni 2011

Pemerintah kita sebenarnya tidak terlalu sulit mempromosikan Bali sebagai poros wisata Indonesia. Seorang kawan saya, CEO sebuah perusahaan ternama dari Italia pernah berujar “Wah kamu dari Indonesia? Bali ya?”, hal ini membuktikan bahwa Bali secara tidak langsung menjadi top-of-mind bagi beberapa orang dari luar Indonesia, ketika kita pertama menyebut nama Indonesia.


Salah satu Villa di Tjampuhan Hotel, Ubud - Bali, tempat Walter Spies pernah tinggal dan berkarya selama beliau singgah di Bali.

Salah satu Villa di Tjampuhan Hotel, Ubud - Bali, tempat Walter Spies pernah tinggal dan berkarya selama beliau singgah di Bali.

Apa yang anda lakukan kalau anda berlibur ke Bali? Beberapa teman saya langsung berujar kalau mereka suka dengan daerah yang ‘hip’ seperti Kuta atau Seminyak untuk menghabiskan waktu di pantai dengan bar dan lounge yang ternama (kebanyakan mereka peroleh referensinya dari majalah-majalah travel). Beberapa mengucap, kalau untuk urusan ‘menyepi’ dari segala hiruk pikuk kota, tidak ada yang dapat mengalahkan Ubud sebagai satu-satunya yang dituju oleh mereka. Dan beberapa dari mereka yang saya tanya ini umumnya kaum sosialita dan fashionista Ibukota – yang tentunya tak segan menghabiskan dana yang tak sedikit untuk berlibur, atau sekedar – yang mereka sebut dengan ‘weekend getaway’.

Jarang ada yang mengucap ‘Kalau ke Bali, saya suka berkunjung ke Museum’. Mungkin saya pun kalau tidak beberapa kali diundang ke Bali untuk melihat Museum, atau event yang diadakan di- Museum, saya juga tidak terpikir jawaban seperti ini. Mengingat saya masih tergolong muda *ehm* usia yang masih ingin dianggap suka bersenang-senang dan jauh dari hal yang berbau serius seperti ‘datang ke Museum’.


Dari beberapa website mengenai museum yang saya kunjungi, umumnya kata-kata pembuka atau tagline mereka adalah “A visit to The National Museum, Cultural Center and National Archive will acquaint you with the country history and culture.” Jadi untuk memahami budaya dan sejarah suatu negara atau bangsa, kunjungilah museum di negara tersebut. Nah, beberapa teman saya yang usianya sepantaran saya menganggap kalau “culture” mengunjungi museum apabila ke Bali itu mungkin belum banyak dimiliki oleh banyak kawula muda di Indonesia. Mungkin itu sebabnya, di beberapa museum yang saya kunjungi di Bali, di buku tamu mereka, kebanyakan saya melihat nama-nama wisatawan asing disitu. Nama-nama seperti Jean, Mark, Isabelle atau Valleria lebih banyak dijumpai ketimbang Bambang, Siti atau Hasan, hehehe…… (iseng amat ya ngeliatin buku tamu-red).


The Tjampuhan Hotels View

The Tjampuhan Hotels View

Ada Berapa Museum sih di Bali?

Kalau pertanyaan tadi menjadi pertanyaan kuis, tentunya banyak yang salah menjawab. Berani bertaruh orang Bali sendiri mungkin tidak tahu berapa banyak museum di pulau mereka. Saya pernah melempar pertanyaan ini di twitter dan memperoleh satu jawaban yang cerdas dari @chicohakim dan @senirupa (dua tokoh ini memang punya passion yang kuat di bidang seni dan budaya), bahwa ada 19 museum di Bali yang terdaftar di Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali. Dari 19 itu, yang aktif ada 16 museum dan diluar yang tercatat itu, masih ada 35 museum lagi yang belum tercatat. Mas @senirupa sendiri berkata secara hitungan kasar ada 15 museum dan yang pantas dikunjungi ada 10 museum.


Nah, apabila kita diminta menyebutkan 5 saja dari jumlah total museum tadi dan masih merasa kesusahan (maksudnya, masih pake mikir dulu gituloh), saya menganggapnya wajar. Saya sendiri belum menemukan buku yang mendokumentasikan – dari ‘lifestyle’ point-of-view (maksud saya ‘dengan bahasa yang mudah dicerna – ibu-ibu juga ngerti gituloh) mengenai ‘Apa saja museum di Bali, lokasinya di mana saja dan karya-karya kelas dunia apa yang dimiliki oleh museum tersebut’ (kalau boleh, seniman yang menghasilkan karya itu diulas sedikit). Kalau ada buku seperti ini, yang diulas dengan bahasa yang mudah dicerna dan jadi coffee table book yang keren untuk jadi penghias meja tamu di rumah, sudah pasti saya akan jadi orang pertama yang memesannya. Saya memiliki beragam buku yang keren (setidaknya untuk dipajang di rumah) mengenai kolektor-kolektor seni terkemuka di Indonesia (siapa saja mereka dan apa saja karya yang mereka koleksi) sampai buku tentang ulasan per-museum (dalam artian tidak secara keseluruhan) mengenai museum di Bali, tapi tidak ada yang memetakan museum secara keseluruhan. Saat ini saya sedang mencari satu buku yang lumayan terkenal, namanya : “Treasures of Bali - A Guide to Museums in Bali ” (Gateway Books International, the UK along with Bali Museum Association (Himusba) – 2006). Kalau teman-teman ada yang tahu belinya di mana (tergolong langka soalnya) kabari saya ya.


Kenapa musti ke Museum kalau ke Bali?

Salah satu karya I Gusti Nyoman Lempad di Puri Saren, Ubud

Salah satu karya I Gusti Nyoman Lempad di Puri Saren, Ubud

Kita bangga kalau di Bali melihat peristiwa Ngaben, mengunjungi Pura atau objek wisata indah lainnya, atau kalau untuk anak muda, pergi ke bar dan lounge yang ternama dan mendapat banyak rekomendasi dari teman-teman lain. Mungkin sudah saatnya mempertimbangkan mengunjungi Museum. Percaya deh, setelah beberapa kali ke Bali dan mengunjungi museum di Bali, saya bahkan mengunjungi museum yang sama sebanyak dua kali, tanpa diminta, semata-mata karena penasaran , karya siapa lagi yang kali ini ditampilkan disana dan masih banyak yang lainnya.


Halaman Depan Museum Pasifika (Photo : Da Vinci Magazine)

Halaman Depan Museum Pasifika (Photo : Da Vinci Magazine)

Di Nusa Dua saya beberapa kali mengunjungi Museum Pasifika. Museum ini didedikasikan untuk membagi pengetahuan sejarah dan memamerkan berbagai karya seni dari Asia Pasifik dengan menempatkan Indonesia dan khususnya Bali sebagai pusatnya. Beberapa karya seniman ternama seperti Theo Meier, Miguel Covarubias dan masih banyak lagi terpajang dengan indahnya di Museum ini. Tulisan saya mengenai museum ini bisa dilihat di tulisan blog saya dengan judul “Theo Meier ; Seniman Swiss yang Jatuh Cinta pada Bali.”



Di Ubud sendiri, saya juga beberapa kali mengunjungi Museum Rudana, yang banyak memamerkan dan mempromosikan karya seni berupa lukisan dan patung karya seniman Bali. Di antara karya seni yang dipamerkan adalah karya dari I Gusti Nyoman Lempad, Nyoman Gunarsa, Made Wianta,seniman Indonesia di luar Bali seperti Affandi, Basuki Abdullah, Srihadi Soedarsono, Sunaryo Sutono, maupun seniman asing yang tinggal di Bali seperti Antonio Blanco dan Arie Smit.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali.

Salah satu karya seni yang dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali.

Apabila anda mengunjungi kedua museum ini, kesan ‘angker’ atau ‘kuno’ seperti yang anda bayangkan apabila mengunjungi museum pada umumnya, langsung musnah seketika. Yang and dapatkan adalah museum yang tertata apik bagai art-space atau art-gallery, yang sangat terawat, dengan pendingin udara yang sejuk dan guide yang fasih menjelaskan mengenai karya-karya dalam berbagai bahasa. Biaya masuk museum pun relatif terjangkau, dibandingkan dengan usaha kedua pemiliknya dalam menghadirkan karya-karya besar tadi ke hadapan mata anda. Sungguh sebuah pengalaman ‘kembali ke masa lalu’ yang nyaman dan menyenangkan. Anda harus mencobanya, bener deh, jewer kuping saya kalau bohong…hehehe…..


Museum Puri Lukisan dan Museum Marketing 3.0

Dari keterangan yang saya peroleh dari website MarkPlusInc, Pulau Bali itu diibaratkan seperti bawang, berlapis-lapis. Lapisan luarnya adalah Kuta dan Nusa Dua, sedang lapisan terdalamnya adalah Ubud. Ubud adalah jiwa dan inti dari Pulau Bali, lengkap dengan kehangatan, keramahan, begitu otentik – selaras dengan DNA Pulau Bali.


Ubud mempunyai jiwa, atau ‘taksu’ (begitu orang Bali biasa menyebutnya), sebagai kekuatan yang tidak bisa kita lihat, yang membuat semua orang yang datang berkunjung merasa lahir kembali. Barangkali karena ‘taksu’ ini tadi, pelukis kenamaan mancanegara betah datang dan menetap di pulau bali sejak tahun 1930-an. Hal ini tidak lepas dari usaha ‘marketing’ yang dilakukan oleh Raja Ubud pada masa itu. Brand ‘Ubud’ telah berhasil memarketingkan seluruh Pulau Bali dan menularkan unsur taksu ke para seniman besar tadi. Barangkali itu juga yang membuat nama-nama seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet lantas menjadi teman dekat keluarga kerajaan Puri Saren, termasuk Tjokorda Gde Agung Sukawati (1910-1978). Pada tahun 1936, bersama mereka membentuk perkumpulan seniman Pita Maha dan pada tahun 1953, membentuk Yayasan Ratna Wartha dan lantas membentuk Museum Puri Lukisan pada tahun 1956.



Kenapa saya membahas Museum Puri Lukisan dan Museum Marketing 3.0 ini secara khusus dalam satu section dalam tulisan ini? Karena saya baru saja mengunjungi 2 Museum ini minggu lalu, pastinya – dan juga karena saya sudah beberapa kali mengunjungi Museum Puri Lukisan dalam beberapa waktu terakhir ini. Terakhir saya ke Museum Puri Lukisan memang tahun 2008, namun itu sudah kunjungan yang ke 3 kalinya. Dan kesan ‘tua’ dan ‘serius’ memang yang saya dapatkan apabila ke Museum Puri Lukisan, tapi memang itu yang saya sukai dari museum tertua di Ubud ini.


Halaman Depan Museum Puri Lukisan, Ubud - Bali

Halaman Depan Museum Puri Lukisan, Ubud - Bali

Di museum ini bisa dinikmati perkembangan seni rupa di Ubud, baik seni lukis maupun seni pahat. Ada juga beberapa karya dari para seniman asing yang berkarya di Ubud seperti: Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smit serta maestro lain seperti I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made dan yang lainnya.


Buku "Pioneers of Balinese Paintings" oleh DR. Helena Spanjaard

Buku "Pioneers of Balinese Paintings" oleh DR. Helena Spanjaard

Saya ingat, terakhir kali saya datang ke Museum Puri Lukisan adalah karena waktu itu, Museum ini menggelar Pameran “Para Pelopor Seni Lukis Bali - Koleksi Rudolf Bonnet”, pada tahun 2008 silam. Kala itu saya mendapat kehormatan berkunjung dan ditemani oleh sang penulis buku sekaligus kurator pameran tersebut, Dr. Helena Spanjaard ; untuk dapat melihat berbagai karya seniman Rudolf Bonnet sebanyak lebih dari 60 lukisan Bali yang berasal dari periode 1929-1958 yang dipamerkan dalam kualitas prima. Selain itu juga ada beberapa karya dari nama-nama besar lainnya seperti I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat dan I Patera. Dr. Helena Spanjaard pun secara lugas bercerita mengenai proses peralihan dari pandangan etnografis ke sejarah seni dari seni Bali sejak tahun 1920. Anda dapat membaca secara lengkap kisahnya dalam buku yang berjudul Pioneers of Balinese Painting: The Rudolf Bonnet Collection”. Ketika ia menandatangani buku saya, secara spontan saya berkata dalam hati, suatu saat kalau punya anak, saya akan mewariskan buku itu kepadanya (hehehe…..optimis kan boleh). Kala itu saya ingat, saya berfoto di depan pohon besar di halaman museum ini. Dan memang beberapa tamu yang hadir pada waktu itu, banyak sekali turis mancanegara (umumnya kebangsaan Belanda) yang jauh-jauh berkunjung ke Bali, demi melihat pameran ini.

Bagian dalam Museum Marketing 3.0

Bagian dalam Museum Marketing 3.0

Di dalam kompleks Museum Puri Lukisan, terdapat satu Museum yang baru diresmikan sejak Mei 2011 lalu. Nama lengkap museum tersebut  adalah “Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati”.  Namanya begitu, karena almarhum Tjokorda Gde Agung Sukawati (Last King of Ubud) adalah ayahanda dari ketiga Tjokorda dari Puri Saren yang dulu memang melakukan Marketing 3.0 untuk Ubud. Ketiga Tjokorda itu adalah Tjokorda Gde Putra Sukawati (CEO, Grup. Tjampuhan), yang merupakan “Pengelingsir Puri Saren”, Tjokorda Gde Oka Sukawati (Bupati Gianyar) dan Tjokorda Gde Raka Sukawati, seniman serba bisa yang menulis thesis “Spiritual Marketing” di Program Pasca Sarjana Universitas Udayana.


Kompleks Museum Puri Lukisan di jalan Raya Ubud milik Keluarga Puri Saren yang merupakan Museum tertua di sana, diputuskan menjadi tempat dari Museum Marketing 3.0. Keluarga Puri Saren menyumbang bangunan fisiknya, sesuai dengan pesan mendiang Tjokorda Gde Agung Sukawati sebelum ia meninggal kepada anak-anaknya untuk mengembangkan Museum Puri Lukisan dengan memuat perjalanan keluarganya juga cerita pemasaran brand “ubud” ke dunia sejak tahun 1930an.


Para penggagas Museum Marketing 3.0

Para penggagas Museum Marketing 3.0

Sesuai dengan namanya, museum ini menampilkan berbagai kisah dari praktik-praktik Marketing yang telah dilakukan oleh berbagai individu atau perusahaan yang mempunyai jiwa dan semangat 3.0, nilai spiritual yang berakar kepada ‘people, planet and prosperity’. Semua objek wisata Ubud pada umumnya masih menjaga ketat unsur spiritualnya. Maka itu pemilihan lokasi museum ini tidaklah salah, sebab aplikasi marketing kuno telah dilaksanakan oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati dengan membuat seniman-seniman mancanegara tadi singgah dan akhirnya berbaur dengan masyarakat Ubud.


Membuat konsep “berkunjung ke museum tapi tidak membosankan” menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para insan penggagas museum saat ini. Kehadiran Museum Marketing 3.0 di Ubud menjadi ‘nafas baru’ bagi dunia museum di Indonesia. Kehadirannya tidak hanya menyuarakan bahwa ‘inilah praktik Marketing yang sebenar-benarnya’ kepada dunia, Marketing seperti layaknya ‘obat yang menyembuhkan konsumen’. Setiap konsumen mempunyai masalahnya masing-masing, mereka mempunyai rasa khawatir, aspirasi dan hasrat terhadap apa yang ingin mereka dapatkan dari suatu brand. Pemasar adalah tokoh yang ‘dapat menyembuhkan’ masalah-masalah psikis tadi dengan konsep marketing yang benar. Sebagai contoh yang dapat dilihat di museum ini adalah program marketing dari Apple, Facebook dan Twitter yang dengan beragam perspektif yang unik dapat menyediakan ‘solusi’ bagi konsumennya.



Penulis di dalam Museum Marketing 3.0

Penulis di dalam Museum Marketing 3.0

Museum sejatinya adalah tempat untuk menambah inspirasi, ilmu dan membuat kita selalu haus untuk kembali me-recharge diri terhadap ilmu pengetahuan yang dikandungnya. Sudah selayaknya kini kita mempertimbangkan alternatif lain untuk berwisata ke Pulau Bali.

Jadi, bagaimana teman? Sudah tertarikkah anda untuk berwisata museum di Bali?

####

Sumber :

  1. Markplusinc.com
  2. Buku “Ubud, A Short History of an Art and Cultural Center in Bali.” Jean Couteau, Adrian Vickers, Graeme MacRae and I Wayan Rai S. Editors : Bembi Dwi Indrio and Soemantri Widagdo. Published to coincide with the opening of The Ubud Cultural Heritage Center at the Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali.
  3. Buku : “Ubud, The Spirit of Bali.” Hermawan Kartajaya with Bembi Dwi Indrio. Penerbit : MarkPlusInc.
  4. Pengalaman pribadi penulis selama berkunjung ke Ubud beberapa kali sejak tahun 2007.

Theo Meier ; Seniman Swiss yang Jatuh Cinta pada Bali

Author: ciscadv  //  Category: Museum, Travelling

Theo Meier (Foto : Kol. Museum Pasifika - Bali)

Goresan Tangan ‘Gauguin dari Swiss’ yang Jenius

Seorang pelukis terkemuka dunia, Paul Cezanne berpendapat bahwa alam adalah sumber inspirasi tanpa batas bagi seorang seniman dalam karyanya. Karya seni dalam kebanyakan wujudnya merupakan sebuah interpretasi paralel dari alam yang diabadikan melalui indera dan idealisme sang seniman, yang kemudian di ekspresikan melalui pendekatan tertentu sehingga menghasilkan karakter yang khas.

Theo Meier, salah seorang pelukis kenamaan Swiss, yang dijuluki “Gauguin dari Swiss” adalah salah satu seniman yang berkarya karena kecintaan pada alam dan kemurnian budaya Bali lewat sapuan kuasnya. Julukan demikian didapatnya karena lukisan karya Eugene Henri Paul Gauguin yang berkebangaan Perancis- sangat khas dengan bentuk yang sederhana dan warna yang cemerlang, hal ini secara tidak langsung memberikan pengaruh atas lahirnya primitifisme dalam seni modern, seperti layaknya lukisan ciptaan Meier. Beberapa lukisan Meier tersimpan dan dipresentasikan secara apik oleh Musium Pasifika di pulau dewata, Bali.

Terinspirasi dari kemurnian dan kesederhanaan alam Bali

Kelahiran Basle (Swiss) pada tahun 1908, Theo Meier mendapat beasiswa dari School of Art pada usia yang masih belia, dua puluh tahun. Setelah lulus dari sekolah, ia mencoba melukis wajah sebagai mata pencariannya. Inspirasi terbesar dalam lukisan-lukisannya adalah gaya hidup dan karya-karya seni dari Paul Gauguin. Ia sempat berkunjung ke Tahiti dan Singapura sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di Bali pada tahun 1936. Di pulau inilah ia menemukan ciri khas sendiri dalam melukis, dengan memutuskan untuk keluar dari norma-norma baku dan kembali ke kesederhanaan, kemurnian dan sesuatu yang alami. Ia melukis dengan goresan kuas yang sungguh-sungguh berasal dari dalam hati dengan perpaduan warna yang ekspresif. Beberapa pengamat seni mengatakan kalau lukisannya kebanyakan menggambarkan aspek emosional sang seniman.

Di Bali, Meier menetap di Sanur dan menikah untuk pertama kalinya dengan Made Mulungan dan menjalin pertemanan dengan beberapa seniman asal luar negeri lain yang tinggal di Bali, diantaranya Walter Spies, Jean Adrien Le Mayeur de Merprès, Willem Gerard Hofker, Emilio Ambron, Auke Sonnega, Han Snel, Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, Renato Christiano, Donald Friend dan beberapa seniman lainnya. Ia juga menjadi teman baik Ida Bagus Nyoman Rai. Di era penjajahan Jepang dan setelah perang berakhir, ia tinggal di daerah Saba dan kemudian menetap di Iseh, di lereng gunung yang dikeramatkan masyarakat Bali - Gunung Agung dan mendirikan rumah dan studio melukisnya. Tahun 1942, Meier menikah untuk kedua kalinya dengan Made Pegi, seorang gadis Bali yang juga model lukisan favoritnya.

Pada tahun 1955, Meier kembali ke Basle dan mengadakan pameran lukisannya. Desember 1959, ia diundang untuk mengunjungi teman baiknya, Pangeran Sanidh Rangsit di Thailand. Meier kemudian memutuskan untuk menetap di Hua Hin, dimana ia bertemu dengan calon istri ketiganya, seorang gadis Thailand bernama La-iad (Jettli) – dan menikah pada tahun 1964. Pasangan tersebut menetap di Chiang Mai dan membangun rumah bergaya tradisional ditepi sungai Mae Ping.

Potret Bali dimata Theo Meier

‘Bali was the place

– there I was shaped

and there I became what I am today.’

Theo Meier, 1908-1982

Portrait of Tahitian Woman; Theo Meier; 1932 (Oil on Canvas 52 x 45 cm)

B

agi Theo Meier, berbagai ritual musik dan tari Bali serta khususnya, kecantikan dan sisi eksotis wanita Bali memberi inspirasi sebagian besar karyanya. Dalam sesi : ‘Magic of Bali : Beauty, Desire and Seduction’ dalam pameran memperingati 100 tahunnya (‘A Centenary Tribute to Theo Meier’/ yang juga diprarkasai oleh kurator tamu Georges Breguet) di Museum Pasifika, didedikasikan sebagai kekaguman Meier atas keelokan wanita Bali.

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno adalah salah satu teman baik Meier dan kolektor lukisannya. Dalam kunjungannya ke Swiss, Meier memberikan hadiah lukisan berjudul ‘Penari Rejang’ kepada sang proklamator. Hingga kini beberapa karya Meier menjadi koleksi khusus kepresidenan dan tersimpan apik di Istana Bogor.

Selama dua puluh tahun menetap di Thailand, ia sangat produktif menghasilkan karya-karya yang terinspirasi dua budaya; Bali dan Thailand, bahkan memadukan kedua budaya tersebut. Kisah hidupnya terhenti pada tanggal 19 Juni 1982, dimana ia menghembuskan nafas terakhir di sebuah rumah sakit di Berne, Swiss- karena penyakit kanker.

Musium Pasifika dan penghargaan atas karya Theo Meier

Two young Balinese Sitting; Theo Meier; 1941, Oil on Canvas 88 x 74 cm

‘A Collection is not just a group of beautiful paintings,

but it is an ensemble of artwork

with a common thread

binding it all together.’

– Philippe Augier, Founder of the Pasifika Museum, Nusa Dua, Bali-

W

arisan seni dari Theo Meier diberi kehormatan untuk dipamerkan dalam sebuah pameran peringatan 100 tahunnya di Musium Pasifika yang terletak di Nusa Dua, Bali bulan April 2008 lalu. Memamerkan lebih dari 70 karya Meier, kebanyakan diantaranya adalah lukisan cat minyak yang dibuat olehnya sejak tahun 1929 hingga 1982 yang dikerjakan selama perjalanan hidupnya di Eropa, Tahiti, Bali dan Thailand. Kebanyakan karya Meier yang dipamerkan adalah pinjaman dari beberapa musium ternama dan koleksi pribadi dari berbagai negara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Swiss dan untuk pertama kalinya dipamerkan ke publik.

Terletak di komplek Nusa Dua, bagian Selatan pulau Bali, Indonesia, Musium Pasifika dibangun diatas tanah seluas 12.000 m2, terdiri dari 8 paviliun dan 11 ruangan untuk pameran berbagai karya seni. Musium ini mempunyai sekitar 600 karya seni dari 200 seniman yang berasal dari Indonesia, Melanesia Pasifik dan Polinesia, Indochina Peninsula dan beberapa negara lain di Asia.

Musium ini didedikasikan untuk membagi pengetahuan sejarah dan memamerkan berbagai karya seni dari Asia Pasifik dengan menempatkan Indonesia dan khususnya Bali sebagai pusatnya. Berbagai seniman ternama seperti Le Mayeur, Antonio Blanco dan Renato Christiano sempat tinggal di Tahiti sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di Indonesia, mereka tidak pergi ke wilayah Asia lainnya. Seniman lain seperti Emilio Ambron atau Roland Strasser sering berkunjung ke Bali, Cina, Jepang dan Kamboja, tapi tidak berkunjung ke wilayah Pasifik lainnya. Hanya dua seniman, Miguel Covarrubias dan Theo Meier yang mengunjungi Tahiti namun akhirnya menetap di Bali. Theo Meier adalah seniman pertama yang menjadi ikon pembukaan pameran perdana musium ini sejak pertama kali dibuka untuk umum pada bulan Agustus 2006. Seperti dikatakan Miguel Covarrubias, musium yang inspiratif ini akan membawa tiap pengunjungnya kedalam petualangan sejarah seni lintas wilayah Asia Pasifik.

####

Credit title :

Musium Pasifika, Nusa Dua – Bali. Ph: +62-21 717 91535 atau +62-361 774 935, email: jktoff@indosat.net.id.

Seluruh foto : Courtesy of MUSEUM PASIFIKA - Nusa Dua, Bali.