Dating 101 : Penantian Tak Berujung (Berdasarkan Kisah Nyata).
Author: ciscadv // Category: Arsitektur, Kata Cisca, Museum“How do I say goodbye to someone I never really had? Why do my tears fall so endlessly for someone who was never really mine? Why is it I miss someone I was never really with? And why do I love someone whose love was never really mine?”

"If you love somebody, set them free. If they return, they were always yours. If they don’t, they never were."
Perih ya membaca beberapa kalimat ini. Sebetulnya sulit bagi saya menulis beberapa kisah tentang penantian di bawah ini (apalagi lantas untuk memberi pendapat). Kenapa? Karena belum tentu saya sendiri bisa menjalaninya. Apa kamu bisa? Mari bercermin dari beberapa kisah berikut ini.
Beberapa orang yang saya kenal, adalah wanita yang cantik dan tangguh dalam karir dan kehidupan sosial. Mereka tidak takut pada berbagai tantangan hidup, kecuali satu, yaitu : takut menghabiskan hidupnya sendirian. Oleh karena itu mereka selalu terjebak dalam keadaan : berkencan dengan pria yang tidak available (dalam artian : mereka yang sudah menikah atau sudah menjadi milik orang lain), mudah menerima perlakuan tidak menyenangkan dari pasangan (entah pemaksaan kehendak, pacar sangat posesif, dll – asal pasangan tidak meninggalkan dirinya) dan yang terakhir adalah, kembali ke mantan pacar (bukan karena ‘aku ingin bersamamu kembali’ tapi lebih kepada ‘kalau tidak kamu maka siapa lagi’).
Menanti yang Bukan Milik Kita
“Why am I afraid to lose you when you’re not even mine.” -unknown-
Adinda adalah seorang wanita karir cantik yang sukses. Ia berkencan dengan Daniel, seorang top executive perusahaan multinasional yang mapan. Daniel sudah menikah dan dikaruniai 3 anak, umurnya lebih tua 10 tahun daripada Adinda. Mereka bertemu dalam sebuah kesempatan konferensi di Bali, 2 tahun lalu. Adinda berpacaran dengan Daniel bukan karena materi, lebih kepada ‘hanya Daniel-lah yang mengerti dirinya seutuhnya’ dan Adinda tidak punya motif apapun, selain cinta.
Daniel dan istrinya sudah lama berpisah ranjang (tapi tidak bercerai dan masih tinggal serumah) dan sampai kapanpun tidak akan bisa menceraikan istrinya dengan pertimbangan adanya anak. Adinda dan Daniel tidak bisa bebas bertemu atau berkomunikasi, selalu diam-diam dan itu sudah berjalan 2 tahun. Mereka sangat menjaga komitmen, walau sesakit apapun hati Adinda (wanita umumnya lebih peka) ia dengan sabar menunggu Daniel, walau ‘happy ending’ sepertinya memang tidak akan pernah terjadi untuk mereka. Adinda tidak tahu kapan harus berhenti mencintai Daniel, dia hanya bisa menunggu. Dia sadar penuh bahwa dia akan selalu jadi yang kedua, bukan prioritas utama dan selamanya harus jadi ‘underdog’ dalam percintaan ini. Ketika ditanya kenapa dia mau saja, dia cuma menjawab ‘Gue sudah tahu dan sudah ikhlas.’
Saya tidak tahu dengan kamu, tapi menurutku, ketika seseorang sudah sampai pada titik ‘ikhlas’ atau ‘pasrah’, maka ia sungguh pribadi yang luar biasa! (luar biasa sabar, maksudku-red).
Menanti Di Kejauhan

"I love him, that’s why its so hard to see him loving someone else…"
Beberapa waktu lalu, ada seorang pembaca blog saya dari luar daerah - yang curhat, soal pacarnya yang dulu hangat, sekarang seperti ‘tidak ada kabarnya lagi’ - setelah pacaran berbeda kota. Gadis ini masih 22 tahun. Pacarnya 29 tahun dan berjanji akan menikahinya (sebelum dia berangkat ke Jakarta). Tapi sekarang sang pacar tidak pernah menghubunginya dan tidak bisa dihubungi. Si gadis ini bertanya kepada saya dengan polos lewat email, ‘Mbak Cisca, saya bingung sekali, beri saya saran, berapa lama saya harus menunggu dia?’ (As if – saya yang paling pengalaman aja! - #nepukjidat)
Saya sendiri belum pernah berpacaran jarak jauh. Sepertinya sulit dan saya nggak bakal mau. Namun menurut survey kecil-kecilan saya, ada 3 hal yang diperlukan dalam Long Distance Relationship; yaitu : Kepercayaan, Komunikasi dan Keterbukaan. Mata kita tidak selalu ada untuk mengawasi pasangan kita, maka itu dibutuhkan ‘Kepercayaan’ tadi. Sebagai pengganti kehadiran pasangan, di jaman serba maju, pastilah harus ada ‘Komunikasi’. Dan sebagai pasangan yang baik, dalam bersikap mustinya perlu ‘Keterbukaan’, termasuk apabila pasangan kita selingkuh, kalau dia sudah mengakuinya dan kita bisa menerimanya dengan ikhlas, bukan berarti hubungan tadi harus kandas.
Paling gampangnya, menurutku, 1 hari ada 24 jam. Kalau pasanganmu tidak bisa meluangkan 5 menit saja untuk berkomunikasi denganmu (entah lewat telepon, bbm, skype atau merpati pos sekalipun…lebay ya…hehe); berarti – ehm- maaf sayang, kamu tidak ada dalam pikirannya. Kalau ia memikirkanmu, dia akan berusaha untuk menghubungimu, bagaimanapun caranya, percaya deh.
Menanti dan Tetap Optimis
Satu kisah yang saya ingat sampai saat ini adalah kisah teman saya, sebut saja namanya Rangga, seorang wirausahawan yang sukses. Ketika usianya menginjak 30 tahun, Rangga menetapkan target untuk diri sendiri – dia harus menikah sebelum usia 31! Namun pacar saja dia belum punya dan untuk menikah di Jakarta ini, tahu sendiri kan gedung pernikahan harus dipesan setahun sebelumnya? Nah kalau sudah pacaran, memesan gedung – eh keburu putus lagi (misalnya, hehe…) nanti target menikah usia 31 tidak akan tercapai dong.
Rangga memutar otaknya. Dia pergi ke 3 gedung pernikahan – dan dipesannya tanggal pernikahan di gedung-gedung tadi, dibayarnya DP (Down Payment) sebesar masing-masing 1,5 juta Rupiah dan pulang. Ketika beberapa bulan kedepan, Rangga berpacaran dengan seorang gadis yang disukainya, dia langsung saja bilang ‘Maukah kamu menikah dengan aku?’. Si gadis tidak menolak, tapi dia bilang “tapi kita booking gedung dulu ya, susah banget dapat tanggal yang bagus.” Rangga dengan optimis bilang, “Kamu pilih saja satu diantara gedung-gedung ini, saya sudah pesan tanggal untuk ketiganya.” AMAZING KHAN?! Dan akhirnya mereka benar-benar menikah!
Rangga bilang, dulu ketika dia memutuskan menjadi wirausahawan, tidak ada yang percaya – sampai akhirnya dia sukses, padahal dia agak sedikit ‘gambling’. Nah begitupun dalam mencari cinta – yang penting ‘never lose hope’, begitu katanya, dengan optimis.
Menanti Selamanya
Ironis kedengarannya ya. Ini kisah nyata juga dari seorang teman baik. Sebut saja namanya Bima, ia sangat mencintai pacarnya, sebut saja Karina – yang baru saja memutuskannya – dan Bima pun memohon kepada Karina untuk menemuinya, agar bisa meminta maaf secara langsung.
Bima memaksa mantannya itu untuk bertemu dengan dia sepulang kantor – di Starbucks Sarinah Thamrin. Berikut kira-kira bunyi sms mereka;
Bima : Aku sudah sampai di Starbucks, aku tunggu kamu ya.
Karina : Aku tidak akan datang, mau kamu tunggu sampai kapanpun….
Bima : Aku tidak akan pulang sampai kamu datang! Kalau perlu sampai tempat ini tutup!
Karina : Kalau begitu kamu tidak akan pernah pulang, karena tempat itu buka 24 Jam….
*dan Bimo pun langsung pulang, karena ide untuk menunggu di tempat yang buka 24 jam- itu sebenarnya dari konsepnya pun sudah salah, hehehehe……… #nepukjidat*
Penantian. Worth it or Not?

"………and i'm still waiting, is it worth the wait?"
Saya benci bagian kesimpulan seperti ini, karena bagi saya belum tentu saya bisa menjalani yang namanya ‘sebuah penantian’, ngomong doang sih memang gampang. Kalau ditanya ‘worth it atau tidak menunggu untuk dia?’ (‘dia’ disini dalam artian ‘seseorang yang belum bisa kamu miliki’), seorang teman yang bijak pernah berkata : “Kalau menunggu itu membuatmu bahagia, ya lakukanlah. Kalau menunggu itu tidak membuatmu bahagia (bahkan membuatmu sengsara batin), maka tinjau lagi – apa masih perlu?. Kamu sendiri yang memegang kesimpulannya.”
Seperti kata pepatah (yang saya lupa darimana asalnya-red) ; “You either let go for two reasons…. you’ve learned enough to want to, or you’ve been hurt enough you have to.”
Semoga kita semua bisa menanti datangnya sesuatu yang indah dengan sabar.
Best of luck in love and life!
Your friend,
@CiscaDV
*seluruh foto koleksi JasonBrooks.com*





























