#Dating 101 (oleh @CiscaDV) : Mencintai “Milik Orang Lain”

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Mencintai suami / istri, pacar atau tunangan orang lain bukanlah sebuah “kasus” baru. Dan ini sudah bukan masuk kategori “Dating” lagi sebenarnya, melainkan… #uhuk … selingkuh. Lantas bagaimana apabila kita sudah terlanjur jatuh cinta pada #uhuk… “milik orang lain”?



Lupakan aku
Jangan pernah kau harapkan cinta
Yang indah dariku
Lupakan aku
Ku punya cinta lain yang tak bisa
Untuk kutinggalkan

Mungkin suatu saat nanti
Kaupun akan mengerti
Bahwa cinta memang tak mesti
Harus bersama

-dari Syair lagu “Cinta yang Lain” (Ungu feat. Chrisye)-

Sebut saja namanya Kirana (33 thn), ia jatuh cinta (setidaknya itu yang dia pikir, saya sih berpikir kalau itu ‘lust’ and not ‘love’ but anyway….) pada Rangga (39 thn) – suami orang. Lewat email diceritakannya pada saya mengenai kegalauan hatinya mencintai seseorang yang entah sampai kapan bisa menjadi miliknya. Bisa ditebak ceritanya, ibarat bunga kemarin mekar, indah mengembang, lantas membusuk. Tinggal tunggu waktu saja.

Cinta dan kepolosan (baca : kebodohan) adalah kombinasi yang mematikan. Berdasarkan pengalaman pribadi (gak usah pada nanya ‘pribadi’-nya siapa… ); laki-laki beristri yang ingin mendekati wanita lain (selain istrinya) pasti akan beralasan dan berbuat sbb :

  1. Mengatakan bahwa rumah tangganya bermasalah (atau sedang berpisah dengan istri, tidak ada komunikasi, dll) dan selalu menempatkan diri di posisi ‘korban perasaan’. Akibatnya akan muncul empati dari yang diincar. Wanita kadang mendahulukan hati ketimbang logika. Kalau tidak beralasan seperti ini, mana bisa mendekati wanita incarannya, ini alasan yang sudah-paling the best-ultimate-to the max deh pokoknya. Hehe….
  2. Mengatakan bahwa kamu adalah orang yang berbeda, yang bisa membuat dia bahagia, yang mustinya berjodoh dengan dia tapi Tuhan berkehendak lain, dll yang membuatmu berpikir ‘Oh iya, ini tidak mungkin terjadi kalau dia tidak memiliki perasaan yang sama dengan saya, maka itu dia disini bersama saya saat ini… dia juga mencintai saya…’
  3. Manusia punya naluri berburu. Maka itu sebelum dia dapat ‘memangsa’ hatimu, dia tidak akan berhenti untuk menarik simpati dari kamu.

Satu hal yang (mungkin jarang atau kalaupun terjadi, itu jarang diwujudkan, hampir tidak pernah, malah, ya ampun lama banget penjelasan ini-red)…. adalah ucapan atau janji : ‘Saya akan meninggalkan orang yang bersama saya saat ini – secara resmi – agar saya bisa bersama kamu.’ Berani taruhan, hanya 2 dari 10 pria yang benar-benar menceraikan istrinya demi bersama dengan wanita #uhuk … katakanlah ‘wanita idaman lain’nya. Dan percayalah, proses ‘meninggalkan’ itu jarang ada yang berjalan dengan mulus bak jalan tol. Karena dalam prosesnya, ada banyak pihak yang akan ‘terlindas’ perasaannya. Apa kamu tega ‘melindas’ perasaan orang lain demi kebahagianmu? Hmm…

Bagaimana kalau itu terjadi dengan kamu? Apabila berada dalam kondisi ini, jarang kita berhenti dan berpikir ‘aduh bagaimana kalau itu terjadi dengan suami atau istri saya nantinya, sakit hatinya kayak apa ya saya?’. Saya pernah punya teman yang merasa sukses karena berhasil ‘memisahkan’ seorang suami dari istri dan kedua anaknya (catet : yang masih kecil) . Mungkin ia tampak bahagia diluar, namun di hati kecilnya, ia tahu bahwa tindakan itu salah. Dan lebih ngenes lagi pastinya karena sekarang ia ditinggal demi wanita lain. Mantabh… ratabtabtab.. dungdung…desh!


Masalahnya dengan kepercayaan (trust) dan integritas seseorang. Kalau seseorang berkata padamu bahwa ia sudah bertunangan atau menikah, tapi masih duduk disebelahmu sekarang dan menggenggam tanganmu dengan mesra, apakah kata-katanya masih bisa dipercaya? Menikah terjadi dibawah sumpah, perselingkuhan tidak. Kalau yang disumpah saja masih bisa ‘lolos’,….. Okay I will say no more…


Mau sampai kapan kamu menunggu? Apakah proses ‘menunggu’ tersebut membuatmu bahagia? Itu hanya kamu yang tahu. Yang jelas, kalau ia masih tetap bersama istri / suaminya yang sah, kamu bukanlah prioritas – melainkan sekedar ‘properti’. Banyak sahabat saya yang bilang ‘I am willing to wait as long as it takes’, yeah rite… pada kenyataannya, tidak ada yang punya waktu sampai sebanyak itu….

Saya memahami alasan mengapa hal ini terjadi, manusia bisa sampai pada titik jenuh kebosanan dalam relationship mereka (dengan pasangan resminya). Ibaratnya kamu diberi makan tempe tiap hari – pasti sekali-kali ingin makan spaghetti. Nanti kalau sudah bosan sama tempe dan spaghetti kamu akan kepingin coba lasagna dan pizza dan mie ayam dan soto dan masih banyak lagi… (lah penulis jadi laper-red). Nah supaya nggak bosen sama tempe bagaimana? Ya tempe tadi dibuat oseng-oseng, digoreng, disambal, diapakan sajalah supaya ada variasi ke si tempe tadi. Oh my God, lebih mudah berkata daripada menjalankan ya? I know I know, when you’re in love (or love and lust – paduan yang lebih deadly) semua kata-kata saya diatas akan terlihat basi.

In the end you will only hurt yourself. Saya pernah mengalami ini. Akan sangat-sangat-sangat munafik apabila saya bilang ‘sorry ya, gue sih gak pernah, kalau gue sih ogah pacaran sama suami orang, banyak yang suka sama gue tapi gue tolak dan blablabla…..pret!’ dan lantas menulis artikel seperti ini, atau sok-sok ‘memberi advice’ tanpa pernah merasakan pedihnya mencintai sesuatu yang tidak pernah bisa dimiliki. Ya, saya akui. Saya pernah menjalin hubungan asmara dengan ‘milik orang lain’. Saya tidak bangga, saya ‘kecanduan’ akan dirinya, dengan bodoh saya pikir ia akan meninggalkan istrinya demi saya, ternyata tidak, malah dia sekarang jalan sama perempuan lain… (pas mantabh sekali ya-red). Yes, Karma can be quite nasty, jadi apabila kamu tidak ingin menerima karma pada akhir perjalanan nanti…. apa boleh buat. Lepaskan saja. Bahwa cinta memang tidak harus bersama itu memang benar adanya, terserah apa kata motivator-motivator itu deh ya.

Langkah pertama yang harus diakui oleh seorang pecandu adalah mengakui bahwa dirinya kecanduan. Saya sudah mengakui ‘kecanduan’ saya terhadap dia, saya sudah belajar dari ‘kebodohan’ ini, saya jadikan pelajaran dan move-on. Hey! Butuh keberanian yang besar lho untuk mengakui ‘kebodohan’… (angkat dagu-red). Tolong tepuk tangannya untuk saya…. #eaaa #eaaa #eaaa (males banget nggak sih bacanya-red).


“All is Fair in Love and War”, bukan begitu? Ya memang benar, tapi ada juga proverb “History will repeat itself”. Sejarah akan terulang kembali. Ladies, jika ia benar mencintai kamu (love dan bukan lust yaaa…..) dia akan benar-benar meninggalkan ‘yang bersama dia saat ini’ untuk bersama kamu. Jika ia tidak melakukannya, berarti dia #uhuk… masih mencintai yang bersama dia saat ini dan baginya kamu bukan sebuah ‘love’ dan hanya ‘lust’. Bukan jaminan juga kamu akan jadi yang terakhir baginya, bisa saja dia akan meninggalkan kamu dengan kejadian yang sama. Saya bukannya nakut-nakutin kamu, tapi berdasarkan pengalaman pribadi (baik pribadi saya maupun pribadi yang lain, halah -red), inilah yang akan terjadi….

Saya tidak akan menyarankan padamu, apa yang harus kamu perbuat. Pilihan ada di tanganmu sendiri. Ibarat meminum terlalu banyak wine, sebotol, dua botol, lama-lama kamu toh akan jenuh juga – mau semahal apapun wine itu. After-taste yang menyakitkan tetap akan muncul. Nah siapkah dirimu pada saat ‘after-taste’ tadi muncul? :)

“Sometimes, people want what they cant have…
the whole forbidden fruit thing…
But let me tell you, once you eat that fruit,
it tastes sour…,” –CiscaDV’s brain-


Best of luck in love and life,
Your friend,
@CiscaDV

Photo : Jason Brooks - Hed Kandi Artworks

Gerakan “Drive Books Not Cars” : Tidak Perlu Jadi Sosialita Untuk Bersosial

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

Tidak perlu menjadi sosialita untuk bisa beramal. Tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk bisa membantu sesama. Kamu bisa membantu – bahkan hanya dengan me-retweet atau menyebarkan info ini kepada temanmu. Ya, semudah itu.



Dalam tulisan sebelumnya, saya pernah menulis tentang gerakan “Drive Books Not Cars” , sebuah inisiatif pengumpulan dana untuk dua organisasi non-profit, yaitu “Sahabat Anak” (organisasi yang memberikan les pelajaran gratis untuk anak-anak  jalanan)  dan “Taman Bacaan Pelangi” – organisasi yang mendirikan perpustakaan-perpustakaan kecil dan gratis untuk anak-anak yang tinggal di desa-desa terpencil di Flores, NTT. Tulisan saya yang dulu, bisa kamu simak di arsip bulan Juli 2011 yah.

September 2011 yang lalu, DBNC berhasil menggalang dana sebesar Rp 31juta untuk mendukung program Sahabat Anak dan Taman Bacaan Pelangi melalui buku-buku yang disumbangkan oleh masyarakat dan di jual pada saat Car Free Day. Hebat khan pemirsa!  #eaaa #eaaa #eaaa




Idenya sangat sederhana, yaitu :

  1. Masyarakat diajak untuk mengumpulkan buku-buku bacaan bekas.
  2. Menaruhnya di salah satu dari 50 titik (dropping point) yang tersebar di Jakarta mulai dari 3 Januari 2012 hingga 27 Januari 2012, antara lain di 40 outlet Starbucks di sekitar Jakarta, Kedutaan Besar Australia, kantor The Jakarta Globe, Blitz Megaplex, Habibie Center dan toko buku Kinokuniya.
  3. Selanjutnya, mereka dapat kembali pada 29 Januari 2012 di acara “Car Free Day” dan membeli buku-buku bekas yang berkualitas yang telah berhasil dikumpulkan dari ke-50 titik/lokasi dropping point tersebut.

Buku-buku berkualitas, novel berbahasa Inggris dan Indonesia, hardcover maupun softcover dijual murah sekali, mulai dari Rp. 25.000 s/d Rp. 50.000,- saja. Beberapa buku yang disumbangkan ke team “Drive Books, Not Cars” saat ini sudah mencapai ribuan buku, mulai dari “The Adventures of Tin Tin” dan  “Harry Potter and the Chamber of Secrets” sampai ke  “Confessions of an Economic Hitman” dan “The Great Gasby.” Dan paling mahal hanya Rp. 50.000! Dan buat amal pula! (saat menulis ini mata penulis berbinar-binar cerah-red).

The Saga Continues : Gerakan “Drive Books Not Cars”

Nah, kali ini gerakan “Drive Books Not Cars” akan diadakan lagi, yuk simak bagaimanya acara kamu bisa membantu! Simple sekali caranya, suwer deh! (sambil ngetik, sambil jari tangan kanan membentuk angka 2-red)

Bagaimana cara berpartisipasi?

  1. Paling simple, kamu bisa follow akun @DriveBooksJkt di twitter dan retweet informasi berguna mengenai program ini. Meretweet pun sudah beramal lho. Apalagi kalau meretweetnya tulus….. (merayu-red).
  2. Bisa ikutan menyumbang buku atau membeli buku pada saat hari penjualan (29 Januari 2012) saat acara Car Free Day di pelataran EX Jakarta.


3.    Mengajak teman-teman kamu untuk berpartisipasi dengan meng-copi paste (yes, kali ini kalian boleh mengcopi paste sesuatu dari blog saya secara resmi…. hahaha) draft email di bawah ini dan menyebarkannnya ke database email kamu;

———————————————————–

Teman, Keluarga, dan Kolega

Dua orang teman saya saat ini sedang terlibat dalam sebuah program kerja yang membutuhkan bantuan anda, terutama bantuan berupa buku-buku bacaan anda! Ide ini sangat hebat dan sederhana tapi sungguh kompleks dalam pengimplementasiannya, dan berharap dapat membuat orang-orang (semoga) berkata, “Saya mau membantu ini!” Singkatnya, mereka sedang mengumpulkan banyak buku dari berbagai pihak dan merencanakan untuk membuat acara besar satu hari menjual buku yang akan diadakan di tengah jalan di bundaran HI di Jl. Sudirman, salah satu jalan paling sibuk di Jakarta!!

Jadi, bagaimana cara membantunya? Sampai tanggal 10 September (meskipun mereka berharap masyarakat mau mendonasikan dari sekarang karena hal tersebut akan membantu mereka mengatur buku-buku tersebut lebih baik lagi) tim akan mengumpulkan buku-buku besar, buku-buku kecil, buku-buku orang dewasa, buku-buku anak kecil, komik, drama, buku dalam bahasa inggris, buku dalam bahasa Indonesia dan bahkan buku romantis sekalipun. Intinya, jika anda siap menyumbang buku yang mana saja, mereka siap terima buku tersebut.Jadi, mohon donasikan buku-buku anda.

Bagaimana cara saya memberikan buku-buku ini kepada mereka? Mudah sekali, cukup dengan mengirimkan saya sms ke nomor 0811 807 207 dan memberitahukan di mana letak kantor anda di Jakarta sehingga tim kami akan menjemput buku-buku tersebut!! Untuk teman dan kolega saya, saya akan tersedia jasa layanan jemput buku, sesederhana itu.

Bagaimana jika saya tidak mau Edwin mengambil buku saya - apakah ada cara lain? Tenang! Ada banyak lokasi untuk penyetoran buku anda. Yaitu: 40 outlet Starbucks dan di bawah Jalan Sudirman, Plaza Indonesia, Sekretariat Bike2Work Pondok Indah, Kedutaan besar Amerika Serikat di Menteng, BlitzMegaplex (drop buku-buku tersebut sebelum anda nonton bioskop), Newsroom Jakarta Globe di Kuningan, Caz Bar di Mega Kuningan, Eastern Promise diKemang, Bagel2bagel di Kemang, Habibiecenter di Kemang dan SbuxIndonesia di Kemang

Apa yang terjadi jika saya tinggal di Bandung? Maaf, kami hanya dapat menjemput buku anda di Jakarta tapi ada beberapa tempat di Bandung untuk menjadi lokasi penyetoran buku anda, yaitu: Bandung indah Plaza, Paris Van Java,  Citywalk dan KM 97.

Jadi sebenarnya buku-buku tersebut untuk apa? Tim dari Taman Bacaan Pelangi, sebuah organisasi yang membuat perpustakaan kecil untuk anak-anak di desa Flores, NTT akan memilih beberapa buku tersebut untuk membawanya ke perpustakaan mereka di NTT. Sisa buku tersebut akan dijual di bundaran HI hari Minggu, tanggal 29 January 2012 selama Car Free Day. Dan semua dana yang terkumpul akan diberikan ke Taman Bacaan Pelangi untuk mendukung kerja hebat mereka di NTT.

Saya benar-benar ingin mendukung program ini, apakah ada cara lain untuk mendukung? Ya! Anda dapat mengopi dan menempel (paste) email ini dan kirimkan ke semua orang-orang yang anda kenal.Kami berharap mendapatkan bantuan yang besar. Sekali lagi, terima kasih telah membantu dan tim kami akan segera menjemput buku-buku tersebut dari kantor/rumah anda.

Salam manis,
(Ketik nama kamu yang ciamik di bawah kata ‘salam manis ini, hihihi)

———————————————————–

Semudah itu cara kita bisa membantu sesama. Sekarang jamannya sudah modern, kamu tidak perlu lagi “mengulurkan tangan beneran”, cukup menjentikkan jarimu untuk meretweet informasi, atau menyebar email atau bahkan, melakukan “the joy of reading” kepada semua orang dengan cara menyumbangkan buku-buku bekasmu!

Ah seandainya semua cara mentransfer kebahagiaan bisa dilakukan dengan cara simple seperti “Drive Books Not Cars”…

####

Untuk informasi lebih lanjut tentang Drive Books, Not Cars, kunjungi (atau hubungi) :
•    http://www.facebook.com/DriveBooksNotCar…
•    Twitter: @drivebooksjkt
•    Zack Petersen 08176050817, email:  petersenzack at yahoo.com
•    Nila Tanzil 081510099013, email:  nilatanzil at hotmail.com

Dating 101 : Materialistis vs. Realistis

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

“Cewek itu suka sama…cowok kuat.

Kuat kalau disuruh angkat-angkat, kuat beliin Louboutin. “

#pria-wanita (Dari akun twitter seorang teman,

tentang hubungan pria dan wanita).

It would be better if we were just materialistic enough.  But if given the choice between the ills of materialism and the ills of poverty, I'm for materialism every time.

It would be better if we were just materialistic enough. But if given the choice between the ills of materialism and the ills of poverty, I'm for materialism every time.

Kutipan diatas sangat blak-blakan dan jujur, saya tidak akan menampik kenyataan bahwa kaum wanita umumnya menggemari hal-hal yang indah dan glamour, euforia kegembiraan akan bertambah apabila hal tadi diberikan secara percuma oleh seorang pria yang mencintainya. Akan tetapi apabila pria tadi tidak mampu menyediakan hal-hal indah tadi dan si wanita tidak berkenan menjalin hubungan dengan dia, apa lantas bisa disebut ‘materialistis’?


Beberapa teman pria pernah curhat pada saya mengenai teman kencan yang dianggapnya materialistis. Tiap nge-date harus belikan ini dan itu, untuk bisa mendapat ‘akses’ ke hatinya. Bagi mereka yang sudah mapan tentu saja tidak menjadi masalah.Yang menjadi masalah adalah apabila pria tersebut masih berada pada level ‘struggling’ dan lantas bertemu dengan wanita idaman yang dianggapnya high-maintenance.


Tidak munafik, pria dengan tingkat kemapanan yang baik, secara otomatis akan merasa percaya diri dan akhirnya akan tampak sangat ‘seksi’ di mata wanita. Namun tentunya, kemapanan bukan tolok-ukur utama keberhasilan suatu hubungan lho ya…


Menurut teori ‘The logic of life’, dalam buku “The Undercover Economist” oleh Tim Harford, cara pandang pria dan wanita semacam ini sudah ada sejak jaman dahulu kala. Dalam buku ini, Tim menulis : anak yang dilahirkan dari orangtua yang berkecukupan pastinya akan mendapat kesempatan untuk berkembang lebih baik daripada yang orangtuanya kurang mampu. Dan disinilah awal mula teori kemapanan itu tadi berasal. Untuk melahirkan keturunan dengan fisik yang indah dan sehat, ada aspek ‘youth, health and beauty’; maka itu fisik sering menjadi faktor utama pria dalam mencari wanita idealnya. Sedangkan peran pria adalah sebagai ‘ayah, provider and protect,” dan semua aspek tadi dihubungkan dengan ‘kemapanan’. Maka itu pria yang mapan memang lebih disukai oleh para wanita. Salahkan saja teori evolusi, hehe….


Men with money also have a certain confidence that women are attracted to.

Men with money also have a certain confidence that women are attracted to.

Eit, jangan lantas bilang kalau artikel ini ‘bitchy’ ya (walau memang agak sih, hehe) – jujur ketika saya menulis saya tidak peduli mau orang suka atau tidak – yang terpenting tulisan ini tidak munafik ;) ; nah lanjut, ada beberapa poin penting serta manfaat yang bisa diambil dari sifat materialistis ini ; diantaranya :


  1. Wanita dan pria punya tingkat kemampuan yang sama untuk menjadi pribadi yang materialistis. Ada persamaan gender disini. Jangan hanya kira wanita yang lebih dominan menjadi mahluk yang materialistis. Pria juga kok. Percayalah. Cerita lengkapnya nggak di blog ya, saya tulis di media lain. Hihi….
  2. Money Cant Buy Happiness? Not True. Menghabiskan quality time liburan ke luar kota beserta keluarga membutuhkan biaya yang tak sedikit, tapi pastinya sepadan dengan perasaan puas yang dirasakan. Kadang wujud ‘yang dibeli’ itu memang tidak kelihatan, namun rasa puasnya itu yang dikejar. Tapi bayarnya tetap harus pakai uang, toh?
  3. Sifat materialisme membuat kita selalu ‘berpikir dua kali sebelum bertindak’. Sejalan dengan waktu dan peristiwa yang dialami, seseorang dapat merasakan – pasangannya ini ‘make love dengan my wallet’ atau dengan dirinya. Saat itulah dia harus berpikir dua kali, apabila ia bisa menerima keadaan itu – dan kalau itu membuatnya bahagia, ya silahkan diteruskan. Kalau tidak, silahkan dipikir ulang.
  4. Sifat Materialisme harusnya menjadi pacuan semangat untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Sepertinya tidak ada satupun mahluk hidup di dunia ini yang ingin dilahirkan sebagai orang miskin. Pasti semua mau jadi yang mapan. Namun apabila saat ini kita belum berada di kondisi yang mapan, terus berusahalah (dengan cara jujur tentunya ya) untuk meningkatkan taraf hidup kita. Money can’t buy happiness but it’s more comfortable to cry in a BMW than on a bicycle, bukan begitu?
  5. Melebarkan Network. Bila kamu merasa ‘Busyet deh, saya kok ketemunya sama orang-orang yang sepertinya mengharapkan saya dikala saya dalam keadaan berduit tapi meninggalkan saya di dalam keadaan susah ya?’ , maka sudah saatnya kamu untuk melebarkan network kamu. Di luar sana masih banyak wanita yang mencari “companion to hang with” dan bukan sekedar “cash man” saja. Kamunya yang harus lebih banyak bergaul.

Some rich men do lose out in the end though. Sure, they may get a trophy girlfriend, but they never have her heart.

Some rich men do lose out in the end though. Sure, they may get a trophy girlfriend, but they never have her heart.

Sekali lagi, pada dasarnya semua orang berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya, juga dalam aspek ‘dating”. Contohnya ; sebut saja Nadya, seorang wanita muda usia 27 tahun, misalnya – pintar, mapan, fisik menarik, single dan lahir dari keluarga yang berkecukupan ; pastinya juga berharap untuk menemukan pasangan yang sepadan dengan dia. Jangan lantas dianggap ‘materialistis’ kalau dia tidak mau diajak jalan naik bus kota (karena ia biasa mengemudi mobil pribadi sendiri). Dengan pasangan kencan, Nadya tidak melihat ‘dapat material apa dari pasangannya, tetapi lebih fokus ke kualitas hubungan’. Bedakan dengan Nana, wanita single usia 33 tahun, dengan kualitas taraf hidup seperti Nadya – bedanya ; Nana berorientasi pada materi – menjadikan ‘materi’ sebagai pelengkap dalam relationship dia; nah ini baru materialistis to-the-max. Nadya realistis dan Nana materialistis. Beda lho…


“I’m not materialistic. I believe in presents from the heart,

like a drawing that a child does.”

Victoria Beckham

Jadi bagaimana apabila kita dihadapkan pada kenyataan kalau pasangan kita sekarang, dirasa ‘materialistis’ oleh kita? Tanya kepada dirimu sendiri, kalau kamu bisa menerima keadaannya seperti itu (dan itu membuatmu bahagia dan tetap menjadi dirimu sendiri), ya silahkan lanjutkan saja. Tapi apabila itu tidak membuatmu bahagia, ya kamu sendiri yang tahu jawabnya. Mungkin ini juga yang jadi dasar ada fenomena ‘wanita yang lebih muda menikahi pria yang jauh lebih tua dan kaya’, saya selalu berpikir ‘yah asal mereka happy, ya sesukanya mereka sajalah,’ am I right or am I right?

. There are plenty of women that don't want a man with "big bucks," yet still want to know that he has the potential to be an adequate provider.

. There are plenty of women that don't want a man with "big bucks," yet still want to know that he has the potential to be an adequate provider.

Inti dari tulisan ini sebenarnya dapat dijabarkan dalam satu kalimat simple, “ how do we define ‘what is enough’?” Apa definisi kata ‘cukup’ bagi pribadi masing-masing. Ketika kita merasa ‘cukup’; karena diatas langit masih ada langit dan bahwa tidak akan selesai materi dikejar ; lebih idealnya lagi – merasakan keadaan dimana ‘ada atau tidak ada uang, rasanya sama saja’ ; seimbang yang sempurna!. Oh ya, jadi kamu termasuk yang realistis atau yang materialistis nih? ;)




Good luck in love and life,

Your friend,

@CiscaDV

“People say I’m extravagant because I want to be surrounded by beauty.

But tell me, who wants to be surrounded by garbage?”

-Imelda Marcos-

Photo by : Jason Brooks (Hed Kandi) and Jedroot.com

Dari Penulis #Dating101 (@CiscaDV) : “Simbiosis Parasitisme Pertemanan”

Author: ciscadv  //  Category: Kata Cisca

“Ayo kita jalan lagi, tapi yang ‘benalu’ jangan diajak ya,” ujar teman saya dalam suatu perbincangan sore itu. Kata “Benalu” yang notabene adalah parasit pengganggu, adalah istilah yang ia gunakan sebagai deskripsi seorang teman yang sangat mengesalkannya.


Apakah kamu pernah punya pengalaman berteman dengan seseorang bertipe “parasit”? Atau malah sedang menjalin persahabatan dengan seorang parasit, tapi belum menyadarinya? Hmm…….

•	“These kinds of people somehow come with motives and acted in a ‘good manner’. As a host we don’t realize it until it eats us up”. (source : http://alv0808.blogspot.com/2010/09/parasites-friends.html)

Berteman dengan Seorang Parasit


Beruntunglah kita yang sampai saat ini masih dikelilingi oleh sahabat baik kita, itu ibaratnya Tuhan mengirimkan ‘malaikat penjaga’ untuk kita. Tapi, bagaimana kalau suatu saat (atau saat ini, bahkan) kamu bertemu dengan seorang teman yang bertipe ‘parasit’? Well, saya baru saja mengalaminya dan jujur saya agak kecewa. Saya pikir saya telah berbuat baik kepada teman saya ini – kok balasannya begitu ya? Why me? *garuk tanah saking keselnya-red*


Saya tidak akan menyebut namanya secara gamblang, ini khan blog – bukan diary…. #eaaa; (saya tidak setega itu sih, nggak tahu ya kalau kalian men-DM saya via twitter, hehehe…. *joking!*); tapi saya akan berikan beberapa ‘clue’ buat kalian tentang ‘apa sih tipe teman parasit’ dan berharap semoga kalian tidak mengalami kekesalan yang saya alami.


1. Sok akrab dengan kita (dan kalau sudah dikenalkan) juga ke teman-teman kita

Seorang parasit akan berusaha keras agar dirinya dipercaya oleh kita, agar bisa ‘menggasak’ network kita dengan cara yang sangat halus. Sampai akhirnya kamu dan teman-temanmu merasa kehadirannya agak mengganggu. Hal ini bisa merusak kredibilitasmu, apalagi kalau kamu-lah yang mengenalkannya ke teman-temanmu. Ibarat virus yang cepat berkembang.


2. Tidak (atau jarang sekali) bermodal, sedikit pelit bisa jadi.

Do i need to say more? Hehe….


3. Hobi merendahkan milik kita (mobil, gebetan, pekerjaan, you name it….)

Salah satu cara untuk teman tipe parasit merendahkan kepercayaan diri temannya adalah dengan ‘menghina’ kepunyaan temannya. Padahal dia sendiri tidak mempunyai apa yang dipunyai temannya itu. Daya saing terbatas menyebabkan ia bersikap demikian.


4. “Mengundang diri sendiri” ke beberapa acara sosial / acara networking

Apa saya perlu jelaskan lebih lanjut? Ya, ini mungkin hal yang paling mengherankan. Betapa seseorang dengan hebatnya ‘mengundang diri sendiri’ ke acara yang hostnya berpikir ‘lho, siapa yang ngundang dia? Dia siapa gue gak kenal….” *wauw!! standing ovation-red*hahaha…..


5. Kata-katanya tidak bisa dipercaya, hobi berbohong untuk pencitraan.

Adu domba adalah hal yang biasa dilakukan parasit untuk memperoleh kesan sebagai informan yang baik. Tapi intinya adalah untuk memutuskan hubungan kita dengan teman kita sendiri. Ingat untuk selalu mengecek ulang informasi yang diberikan oleh teman tipe ini. Pencitraan kerap dilakukan juga. Namun biasanya akan kelihatan karena attitude seseorang dalam praktek-nya lah yang menentukan citra diri yang sesungguhnya.


6. Hobi menikung (dalam hal akses) terhadap apapun

Setelah semua temanmu kamu kenalkan kepadanya, perlahan ia akan masuk bagai virus ke jalinan pertemananmu. Secara diam-diam, semua didekati, dibujuk dan akhirnya dimanfaatkan demi kepentingan pribadi. Pada saat inilah kesetiaan antara kamu dan network kamu akan diuji. Tahan apa tidak menghadapi virus maut yang menghampiri hubungan kalian.


7. Hobi ‘menebeng’ popularitas seseorang demi image yang dibangunnya

Saat ini, mungkin 70% orang yang dikenal mbak parasit ini berasal dari saya (dan network saya). Saya tidak akan menghabiskan waktu satu per-satu mengingatkan teman-teman saya itu. Saya berharap mereka tidak akan mengalami hal yang sama seperti saya. God speed. *hiks*


8. Sangat (dan bahkan super) kepo

Apabila kamu mempunyai teman yang kepo-nya melebihi anjing pelacak, waspadalah. Kamu tidak akan pernah tahu, apa yang akan dilakukannya dengan informasi tersebut. Berbagilah informasi pribadi hanya kepada orang yang sudah kamu percaya sejak lama. Seseorang yang ‘peduli secara instan’ ibarat infotainment yang tidak bisa dipertanggung jawabkan hasil akhirnya seperti apa.


9. Suka lupa ingatan (inspired by ‘Nunun’ mungkin ya)

Wajar terjadi apabila ‘tertangkap basah atas perilaku tidak menyenangkan yang dilakukannya’, seorang parasit akan pura-pura amnesia atas perbuatannya. Mungkin memang sedang trend. Tidak semua orang berbesar hati mengakui kesalahannya dan meminta maaf.


10. Urat malunya sudah putus

Ingat, untuk menjadi seorang parasit, seseorang harus mempunyai perilaku ‘hajar bleh’ disertai kepercayaan diri yang tinggi. Teman saya bilang, itu namanya ‘belaga gila’. Oleh karena itu jangan pernah pakai perasaan terhadap seseorang tipe ini, ibaratnya ‘kamu yang dimakan atau kamu yang memakan dia’ – walau lebih baik menghindarinya saja sih. Teman lain yang baik kan masih banyak….


Jika kamu mempunyai seorang teman yang nyatanya adalah ‘Parasit’, apa yang harus kamu lakukan?

•	“Often time they show themselves as a depressed friend and need your attention. You with them until you realized they used you for something benefited to them. They used your name to get attention, talk rude things about you to earned others trust and very good in displaying themselves to others as a victims and lead others to changed their perceptions about you”. (source : http://alv0808.blogspot.com/2010/09/parasites-friends.html)

Teman baik saya berkata, di dunia ini kalau kita bersikap buruk – orang lain pasti tidak suka dengan kita, kalau kita bersikap baik, orang lain akan memanfaatkan kita. Tapi yang penting, kita-nya jangan berhenti bersikap baik.


Tadinya, saya memutuskan untuk memberikan ‘silent treatment’ ke si mbak parasit ini – sampai akhirnya ia sadar dan barulah saya akan bicara baik-baik kepadanya. Toh, semua orang punya kesempatan kedua. Namun ada beberapa pertimbangan yang membuat saya harus berkata “Saya menikmati pertemanan kita hanya pada titik ini, sayang sekali persahabatan ini harus berakhir disini,” dengan tegas cepat dan hemat karakter sms.


Manusia tidak dilengkapi dengan ‘radar’ agar dia bisa menjaga diri dari tipe manusia parasit. Yah, saya mungkin sedang sial saja. Yang penting saya tahu salah saya dimana, saya jadikan pelajaran dan saya tinggalkan teman parasitku ini di masa lalu. Ada alasan mengapa dia tidak ada di dalam masa depan saya.


“Bertemanlah atas dasar apa-adanya, bukan karena ada apa-apanya…..” Berteman itu jangan ada motif mencari untung, dan yang paling penting, harus “fair”.


Btw, tulisan ini agak emosional ya? Emang…..heheheh…… bagi saya, menulis itu punya efek therapeutic, menyembuhkan. Semoga dengan tulisan ini saya bisa melupakannya – karena saya sudah memaafkannya – walaup tidak 100% …. #eaaa #masihkesel hahaha…..


Good luck in love, friendship and life!

Your friend,

@CiscaDV

apakatacisca@gmail.com